Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh

Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh
Episode 25


__ADS_3

"Nduk, kamu mau Budhe antar untuk mencari sekolah baru?"


Suatu pagi di saat hujan, Ayodya sedang menghabiskan sarapannya saat Budhe Dewi tiba-tiba duduk di kursi sebelah.


"Ngga usah 'lah Budhe. Ngga ada gunanya juga saya sekolah."


Budhe menggelengkan kepalanya perlahan.


"Kamu harus tetap menjaga sosialisasimu Nduk. Agar tidak kesulitan untuk mencari tubuh baru."


Perkataan Budhe membuat Ayodya berpikir sejenak. "Bagaimana jika kita pindah saja?"


Ayodya meminum kopi sebelum melanjutkan perkataannya, "Kita sudah terlalu lama di kota ini Budhe. Dan lagi, saya melakukan kesalahan kecil kemarin. Jika ada pihak yang merasa curiga, itu akan membuat pergerakan kita terbatas. Budhe mengerti kan? Tuanku harus tetap diberi makan."


Budhe menatap Ayodya dengan pandangan penuh tanda tanya. "Maksudmu apa Nduk dengan kesalahan kecil?"


"Budhe, beberapa kali terakhir kita menyediakan jamuan untuk Tuanku, sisa jamuan selalu kita jadikan lauk nasi kotak. Saya khawatir jika polisi mencium perbuatan kita. Namun mereka masih belum bisa mendapatkan informasi apa-apa, saya membaca beritanya. Sebelum terungkap, lebih baik kita segera pindah."


"Bapak setuju dengan keputusan Nduk Ayodya, bu." Pakde Jawir menghampiri mereka.

__ADS_1


"Tindakan yang kita lakukan akhir-akhir ini beresiko tinggi untuk ketahuan. Sebaiknya memang kita pindah. Walaupun Pakde sudah menyebarkan nasi kotak itu ke kota yang jauh, tetap saja. Jika kita tidak waspada, polisi akan segera mengetahuinya."


Ayodya tersenyum, "Jika begitu, Pakde dan Budhe mulai bersiap ya. Kita akan pindah tiga hari dari sekarang."


***


Ayodya mulai mengemasi beberapa barang berharganya. Bukan uang atau pun perhiasan, namun berupa buku-buku peninggalan Raden Ajeng, beberapa alat ritual, dan juga perlengkapan menari.


Dia sudah menemukan sebuah kota untuk tempat tinggalnya yang baru. Beberapa dokumen yang berhubungan dengan kependudukan pun disiapkan. Selama ini ia memang memiliki orang kepercayaan yang bertugas mengurusi masalah kepindahan. Ayodya membantu orang tersebut dari kemiskinan. Lebih tepatnya membantu dengan menggadaikan jiwa orang tersebut dengan imbalan kekayaan. Sebagai rasa terima kasih, orang itu bersedia membantu Ayodya dalam urusan apapun.


"Nduk, sudah siap semua surat-suratnya? Biar pakde antar pada Joko. Selanjutnya seperti biasa, dia yang akan mengurus segalanya. Kita hanya perlu berkemas dan menunggu waktu pindah," Pakde Jawir menghampiri Ayodya yang sedang duduk di kamar tidurnya.


Setelah memberikan dokumen yang diperlukan pada Pakde Jawir, gadis itu beranjak keluar menuju kamar ritual.


***


"Semua surat dari Joko sudah lengkap Budhe? Pastikan status yang tertulis sudah jelas. Di sini saya akan menjadi adik kalian berdua," Ayodya menatap ke wajah Budhe.


"Ngomong-ngomong, aku baru memperhatikan. Wajah Budhe sekarang lumayan cantik."

__ADS_1


Budhe tersenyum dan menciptakan rona merah di pipinya. "Berkat kamu Nduk, dan kekuatan Tuan tentu saja. Budhe jadi menikmati tubuh baru ini. Setiap Budhe keluar, selalu saja ada anak muda yang menggoda."


Ayodya mengangguk. "Pergilah melapor Budhe. Jangan lupa, di sini kita bertiga adalah kakak adik."


Budhe mengangguk tanda mengerti dan berlalu ke luar halaman.


***


Ayodya menatap Pakde yang bersimpuh di depannya dengan tatapan murka. Budhe yang khawatir, hanya bisa berdiri agak jauh melihat ketegangan yang tercipta.


"Kenapa Pakde baru bilang sekarang? Seharusnya kita tidak pindah ke sini. Akan sulit bagi kita membuang sisa makanan Tuanku!"


Bukan tanpa sebab Ayodya meradang. Pakde baru saja memberitahunya jika kota ini merupakan salah satu kota tempat ia membuang sisa jenasah yang diolah menjadi nasi kotak.


"Maafkan Pakde Nduk, Pakde menyuruh Joko untuk membagikan nasi kotak juga. Dan Pakde tidak tau jika ia membagikannya di sini."


Budhe dengan takut menghampiri pelan-pelan. "Maafkan kami Nduk, bukannya Budhe mau membela diri. Tapi kami juga baru sadar setelah tadi Budhe mengunjungi rumah RT. Kami benar-benar minta maaf."


Ayodya melemparkan pandangan ke samping. "Baiklah, pastikan semua berjalan dengan baik. Saya tidak mau harus kembali pindah secepat ini. Ke depannya, kita sudah sepakat akan berhenti membagikan nasi kotak. Sebaiknya Budhe dan Pakde memikirkan, bagaimana cara menyingkirkan sisa makanan Tuanku. Saya tidak mau pusing karena saya harus mempersiapkan diri untuk ritual dua minggu lagi."

__ADS_1


Budhe dan Pakde mengangguk dan hampir berlalu ke ruang belakang saat Ayodya berkata, "Bereskan Joko, Pakde. Dia telah lalai karena hampir menempatkan kita dalam masalah. Persiapkan dia dua minggu lagi."


'Bagaimana bisa aku pindah ke tempat Pakde membuang sisa makan Tuanku! Belum apa-apa pergerakanku sudah terbatas, sial!' Ayodya memaki di dalam hati.


__ADS_2