
Mood Bella memburuk saat Lita membuka file kasus nomor 5. Kematian seorang gadis, yang sepantaran dengannya. Korban Bella kali ini diketahui mempunyai kemampuan supranatural. Bahkan, gadis ini pun sudah berulang kali membantu tugas ahli forensik senior, prof Helmi.
"Ada apa kali ini Bella? Kamu terlihat tidak senang" Lita memulai
Gadis itu hanya melirik Lita sekilas. Menghembuskan nafas, dan kembali melemparkan pandangan ke luar jendela.
Melihat bahwa kasus ini ternyata bisa mempengaruhi mood Bella, membuat Lita harus sabar menunggu. Ia tidak mau memaksa gadis itu untuk bercerita.
"Apakah anda pernah mendengar profesor? Bila ada manusia bisa melihat hal-hal yang bersifat gaib, itu tandanya ada makhluk halus dalam diri mereka" Bella membuka suara.
"Ya, saya pernah mendengarnya. Tapi, apa korelasinya dengan terbunuhnya gadis itu?" Lita menimpali
"Saya hanya ingin membunuhnya saja..." Lirih gadis itu
"Entah kenapa saat melihatnya, ada keinginan yang kuat untuk melenyapkan gadis itu. Saya pikir dia gila, dan apa-apa yang dia katakan tentang kemampuannya itu hanyalah omong kosong. Saya pikir dia melakukan itu untuk mencari perhatian orang-orang sekitar. Terlepas dari benar atau tidaknya penglihatan yang ia dapat"
"Mungkin karena sebelumnya saya sudah membuat 4 orang berakhir hidupnya, jadi saat saya bertemu gadis itu, saya merasa seperti ketagihan" Bella terkekeh
__ADS_1
Lita terdiam sebelum melanjutkan. Wanita itu menyusun kata-kata di otaknya.
"Jangan mempengaruhiku Bella. Kau berteman dengan gadis itu. Kau tidak pernah berteman dengan targetmu, bahkan, kau juga tidak ingin mengetahui apapun tentang mereka. Saya kira sejak awal kamu tidak menandainya sebagai target" kata Lita
"Hahahahahaha" Bella tertawa kencang. Gadis itu menoleh, wajahnya terlihat antusias.
"Anda benar-benar memahami saya profesor. Saya senang akhirnya ada orang yang mengerti"
"Anda benar, saya tidak berniat sama sekali untuk menandainya sebagai target"
" Saya bahkan berteman dengannya, tau namanya, tau kemampuan yang dia miliki. Jika saja pada saat itu dia mengeluh karena kemampuannya yang abnormal, mungkin saya tidak akan membuang waktu lagi untuk mengeksekusinya"
Lita meneliti wajah gadis itu saat memberikan penjelasan panjang lebar.
"Lalu kenapa kau pada akhirnya membunuhnya?" Tanya Lita.
"Karena dia manusia baik" jawab Bella
__ADS_1
"Lanjutkan" potong Lita cepat
"Gadis itu manusia baik yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari manusia-manusia lainnya, karena kemampuannya itu saya rasa. Untuk manusia seperti saya yang lebih suka berteman dengan diri saya sendiri, segala perlakuan manusia lain kepada saya dapat saya abaikan. Tapi tidak dengan gadis itu. Gadis itu terlalu baik untuk dunia yang sudah gila ini"
"Saya bertanya padanya, bagaimana jika saya berniat untuk menghabisinya. Gadis itu hanya tersenyum dan berkata, jika ia memang harus berakhir di tangan saya. Itu sudah merupakan takdirnya. Sesederhana dan sepositif itulah jalan pikirannya. Saya rasa dunia ini bukanlah tempatnya"
"Manusia di jaman ini semakin menggila, mereka semakin pintar memakai topeng yang bernama kepura-puraan. Tidak ada yang benar-benar tulus. Ya mungkin ada, tapi sebaik-baiknya manusia dijaman sekarang, mereka hanya memikirkan nasib mereka sendiri. Mereka lebih suka merendah untuk meninggi daripada mengakui bahwa ada orang lain yang lebih dari mereka. Saya rasa perilaku manusia di jaman ini sudah masuk ke tahap hedonis. Hanya saja mereka tidak mengakuinya. Manusia-manusia munafik.." lirih Bella
Lita menatapnya tajam sebelum berkata.
"Berarti kau melanggar prinsipmu, saya kira kamu melenyapkan orang-orang yang notabene menjadi sampah untuk manusia lain"
Bella hanya tersenyum sinis mendengarnya.
"Dari awal anda sudah salah menafsirkan profesor. Saya menghabisi orang-orang yang tidak pantas berada di dunia ini. Terlepas apakah mereka merugikan manusia lain, atau mereka justru di rugikan manusia-manusia itu. Itulah mengapa, dipertemuan kita beberapa waktu lalu saya bilang pada anda. Saya tidak menyesal bayi kecil tersebut kehilangan nyawanya.
**********
__ADS_1
Kepala Lita berdenyut kencang. Baru kali ini ia bertemu dengan tipe manusia seperti Bella, sepanjang karirnya di dunia psikolog. Ya, perilaku Bella semakin menunjukkan eksistensinya sebagai psikopat sejati.