Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh

Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh
Episode 15


__ADS_3

Bella terbangun karena mimpi buruk. Ingatannya akan masa lalu terefleksikan dalam mimpi seperti sebuah film yang ia tonton. Ada rasa sakit di hati yang selama ini berusaha ia bunuh. Rasa sakit akan perlakuan orang-orang sekitar padanya.


Rumah Sakit Jiwa ini sudah mengurung raganya selama hampir satu tahun. Gadis itu sudah mulai terbiasa dengan rutinitas hariannya. Duduk didekat jendela yang menghadap langsung ke halaman. Sebagai pasien dengan tingkat pengawasan level tinggi, Bella diberi kebebasan untuk beraktifitas. Ini dilakukan karena ia tidak diperkenankan bergabung dan berinteraksi dengan pasien lainnya.


Sudah dua kali Bella dikurung di kamar isolasi, kamar yang bernuansa putih bersih. Sekilas, manusia normal akan melihat kamar itu sebagai kamar yang biasa namun jika sudah beberapa saat berada di dalam, kamar itu akan menyiksa. Warna serba putih tanpa ada kontaminasi warna lain membuat pikiran manusia tertekan. Ini bertentangan dengan pembawaan manusia yang secara otomatis sudah mengenali berbagai macam warna dari lahir. Kamar ini dimaksudkan untuk memberi efek jera serta meredam emosi.


Pertama kali Bella diisolasi karena ia mempengaruhi salah satu pasien yang hampir dinyatakan sembuh oleh psikiater. Secara gamblang Bella memanipulasi pasien malang itu dengan sikap dan kata-katanya yang manis dari balik jendela tempatnya duduk. Ia menyulut emosi pasien dengan mengatakan bahwa sebenarnya pasien tersebut sudah lama sembuh. Namun, permintaan keluarga pasien sendirilah yang membuat pasien itu tetap ditahan di rumah sakit jiwa ini. Efeknya, pasien tersebut dengan membabi buta menyerang psikiater yang menanganinya dengan sebuah pulpen.

__ADS_1


Kali kedua Bella kembali ke kamar bernuansa putih itu adalah saat ia dengan sengaja berpura-pura kesurupan. Karena bosan, ia mencoba meniru tingkah laku pasien depresi yang sering mengamuk. Masalah terjadi saat salah seorang perawat mengira Bella benar-benar kesurupan. Perawat itu meneriakkan Ayat Kursi serta menekan jempol kaki Bella keras-keras. Rasa sakit mematik emosi Bella dalam sesaat. Hasilnya, perawat itu harus kehilangan dua gigi karena Bella menonjok mulutnya tanpa henti.


Perilaku Bella yang cenderung berubah-ubah membuat beberapa psikiater yang menanganinya kewalahan. Gadis itu sangat cerdas dan bisa melihat dari sisi lain. Ia cukup pintar untuk diajak berbicara berbagai hal, menunggu lawan bicaranya lengah, dan mempengaruhi pikiran tanpa disadari. Beberapa perawat tidak luput dari tingkah Bella. Ia mulai melancarkan kemampuannya untuk memanipulasi pikiran. Karena hal itu, hanya perawat senior-lah yang ditugaskan berhubungan langsung dengannya, untuk meminimalkan kejadian yang tidak diinginkan.


Luka hati yang Bella miliki dari kecil berasal dari perlakuan orang-orang di sekitarnya. Verbal Abuse juga terjadi disaat pertama kali ia dekat dengan lawan jenis. Kekerasan secara verbal nyatanya berdampak lebih merusak. Itu karena mental-lah yang menjadi sasarannya.


***

__ADS_1


"Halo Bella...," ucap seseorang dari belakang punggung gadis itu.


Tanpa menoleh Bella sudah tau siapa yang menyapanya. Sudah cukup lama ia menunggu saat seperti ini. Saat pertemuan dengan seseorang yang membuatnya berada di sini.


Tangannya mengepal erat dan meninggalkan bekas kuku di telapak tangan. Wajahnya yang dingin sekilas dipenuhi amarah. Namun, saat ia berbalik, senyum tersungging di bibirnya.


"Halo Profesor Lita! Lama tidak bertemu," ucapnya menatap ke arah wajah lawan bicaranya.

__ADS_1


__ADS_2