Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh

Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh
Episode 18


__ADS_3

Bella sedang duduk di tempat favoritnya saat seorang perawat masuk dan membawakan makan siang.


"Bel, makan dulu. Habis itu nanti minum obat."


Bella hanya diam dan masih terus menatap ke arah taman. Dedaunan yang bergesekan terkena angin membuatnya penasaran. Selama beberapa saat ia hanya memperhatikan objek tersebut, sampai akhirnya salah satu daun lepas dari tangkai dan jatuh.


***


"Halo Bella," suara seseorang yang sangat di kenal menyapanya dari arah belakang.


"Pergilah Lita, saya sedang tidak dalam keadaan yang baik," ucapnya lirih.


Hening beberapa saat sampai akhirnya Lita membuka suara. "Kamu belum makan siang? Hidangan itu terlihat enak."


Bella menyeringai sesaat sebelum membalik badannya. "Jika anda lapar, makan saja. Saya belum menyentuhnya sama sekali."


"Benarkah? Maaf Bella, tapi aku tidak bisa percaya perkataan siapapun yang berstatus pasien rumah sakit jiwa," Lita tersenyum dan melihat ke arah penjaga di pintu masuk. Seolah mengerti, penjaga tersebut menganggukkan kepalanya samar.


"Tapi, dari pada makanan ini terbuang, akan ku makan saja." Lita duduk dan mulai meneliti isi hidangan makan siang Bella.

__ADS_1


Bella melihatnya dengan pandangan antusias. "Ya, makan saja Lita. Saya akan menemani anda."


***


"Ada apa kali ini?" Bella menatap Lita yang sudah memindahkan semua makan siang Bella ke dalam perutnya.


"Anda hanya akan datang di saat anda membutuhkan saya. Cepat katakan dan menyingkir dari pandanganku segera."


Lita yang menyandarkan punggungnya dan tersenyum manis, "Kali ini pihak kepolisian menemukan potongan tubuh dalam karung. Karung-karung itu tersebar di beberapa titik. Satu ditemukan di hutan kecil dekat rumah sakit jiwa ini. Walaupun masih dalam penyelidikan, aku penasaran apakah kasus ini berkaitan dengan kasus nasi kotak tempo hari."


Bella diam memperhatikan. "Bisa ya dan bisa juga tidak. Dari cerita anda tempo hari, insiden nasi kotak sudah terjadi lebih dari satu kali. Dan sepanjang kasus itu terjadi, polisi tidak menemukan potongan tubuh atau apapun yang berkaitan dengan kasus itu.


Lita mengangguk mengerti, "Masuk akal Bella. Aku juga merasa jika kasus kali ini tidak berkaitan dengan kasus nasi kotak."


Bella tertawa terbahak, "Masih ada satu kemungkinan lagi Lita. Bisa jadi pelaku nasi kotak yang melakukannya dan sengaja melempar umpan agar kepolisian mengambil kesimpulan yang salah."


"Jelaskan," potong Lita.


"Perubahan kebiasaan. Polisi akan terkecoh karena pada saat kasus nasi kotak, pelaku menjalankannya dengan sangat rapi. Tapi sekarang, dengan ditemukannya potongan sisa lain dalam karung, polisi tidak akan langsung curiga jika kasus ini berkaitan karena pergerakan pelaku kasus nasi kotak yang tidak meninggalkan jejak.

__ADS_1


"Aku mengerti sekarang. Jadi tetap ada dua kemungkinan, begitu?" tanya Lita.


"Ya, katakanlah seperti itu." Bella melempar pandangan kembali ke luar jendela.


"Bella, tertarikkah kamu untuk membantu pihak kepolisian jika dibutuhkan? Pengetahuan dan kemampuanmu menganalisis akan sangat membantu," Lita bersuara setelah diam selama beberapa saat.


"Apa keuntungannya buat saya? Pengadilan sudah memutuskan saya untuk selamanya berada di sini," Bella menoleh.


"Saya bisa membantumu dengan laporan hasil pengobatan kamu, Bella. Kalau beruntung, kamu bisa pindah ke tahanan. Terdengar bagus bukan?"


Bella menatap Lita lekat, "Ya, terdengar lebih baik di bandingkan di sini. Tapi ada dua syarat dari saya. Jika anda bisa memenuhinya, saya akan memikirkan kembali tawaran anda tadi."


"Apa itu?" Lita penasaran.


"Satu, pindahkan saya ke ruang perawatan biasa. Dua, pertemukan saya dengan gadis supranatural itu, Ara."


Bella menyeringai. "Jika anda bisa memenuhinya, saya akan membantu pihak kepolisian untuk kasus apapun."


Lita terhenyak dan menatap Bella tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2