
Bella tersenyum menyeringai membayangkan sekilas rencana yang perlahan sudah ia susun di kepalanya. Permintaannya pada Lita untuk membawa Ara ke hadapannya adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Gadis itu sudah bisa melihat jika ada keterkaitan antara kasus yang sedang menggegerkan masyarakat akhir-akhir ini dengan kemunculan Ayodya secara tiba-tiba di rumah sakit jiwa tempatnya dirawat. Dengan tidak sabar, ia menunggu saat-saat di mana ia akan mempertemukan Ara dan Ayodya.
***
Ada yang berbeda hari ini. Prof Lita memasuki ruangan bersama dengan seorang gadis yang terlihat jelas jika sedang gugup. Matanya terbelalak saat melihat sosok Bella yang sedang duduk di sebuah kursi yang menghadap ke jendela.
"Halo Bella," ucap Prof Lita.
Bella menoleh dan menyeringai saat melihat sosok Ara sudah berada di depannya. Dengan sopan, ia mempersilakan kedua orang tersebut untuk duduk.
"Kami sudah datang, Bella. Aku sudah menepati janjiku untuk mempertemukan kamu dengan Ara."
Bella mengangguk. "Apa kabar Ara?" tanyanya sembari menatap lekat wajah gadis itu.
"Baik," jawab Ara.
"Aku membutuhkan bantuanmu untuk menyelesaikan kasus yang dibawa oleh Prof Lita."
__ADS_1
"Sebentar Bella, apa maksudnya?" Prof Lita angkat bicara.
"Sebentar lagi akan ada orang yang mengirimkan makanan untuk orang-orang di rumah sakit jiwa ini. Saran saya, periksalah makanan pemberian orang tersebut. setelah mengetahui hasilnya, anda akan bisa dengan segera menemukan siapa pelaku kasus yang sedang anda tangani, Profesor."
Perkataan Bella membuat Profesor Lita tertegun.
***
Para polisi sudah mengepung tempat ini segera setelah Prof Lita menghubungi Yandri. Dengan menggunakan pakaian bebas, para petugas kepolisian membaur dengan para perawat dan juga pasien. Tepat menjelang makan siang, seseorang yang menggunakan mobil mewah datang dan membagikan makanan.
***
***
Selain pria muda yang biasa datang, datang oula seorang gadis muda yang diketahui merupakan adik dari pria itu. Gadis itu tidak mengikuti jejak kakaknya yang nampak sibu menurunkan banyak dus berisi makanan. Ia melenggang masuk ke arah bangunan tempat Bella berada.
"Gadis yang kau maksud sudah datang?" tanya gadis itu yang ternyata adalah Ayodya.
__ADS_1
"Sebentar lagi. Kau bisa menunggu di belakang taman sebelah situ," ujar Bella menunjuk ke arah luar. "Aku akn menyuruhnya ke sana."
***
Gadis bernama Ayodya itu berjalan pelan dan bersembunyi di balik sebuah pohon yang rindang. Tanpa ia sadari, pria muda yang datang bersamanya sudah di amankan pihak kepolisian. Dia tidak sabar untuk bertemu korban baru yang dijanjikan Bella. Setelah membereskan gadis itu, Bella akan setuju untuk bekerja sama dengannya. Dalam diam, gadis itu menanti saat-saat yang penting.
***
Seorang gadis terlihat berjalan ke arahnya. Dengan perlahan ia memutar arah dan berusaha agar berada di belakang gadis itu. Sebuah ranting kayu yang cukup besar sudah digenggamnya erat. Saat gadis itu menoleh karena suara yang ditimbulkannya, Ayodya dengan sekuat tenaga memukul punggung gadis itu sehingga pingsan. Tepat saat ia akan mendekati tubuh gadis yang pingsan itu, suara seseorang mengagetkannya.
"Berhenti!"
Mata Ayodya membelalak melihat beberapa orang mengepung dirinya. Dalam genggaman mereka masing-masing terdapat senjata api. Ia hanya bisa diam dengan pasrah ketika salah seorang yang memegang senjata api mendekat dan memegang tangannya erat. Ia masih terdiam tidak mengerti sampai akhirnya ia melihat Bella yang menatapnya seraya menyeringai dari jendela. Amarahnya seketika memuncak.
"Pembohong! Kau menjebakku! Gadis gila!" Awas kau!!"
Bella hanya tersenyum mengejek. Sesekali ia menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
***
Setelah proses penyelidikan yang panjang, Ayodya dan kedua kakaknya ditetapkan sebagai pelaku mutilasi yang menjadikan korbannya bahan masakan. Ketiganya dikenai hukuman mati dan sekarang terkurung di penjara, menunggu saat-saat akhir dari hidup mereka.