
"Sembilan nyawa?!" Ayodya kaget mendengar penjelasan dari Pakde.
"Iya, Nduk. Salah satu perawat di rumah sakit jiwa yang bercerita pada Pakde. Walaupun pada kenyataannya hanya delapan yang dia habi*si dengan tangannya langsung. Satu sisanya, ia memperalat ibu korban yang ternyata salah sasaran."
Ayodya menyeringai, "Ternyata gadis itu bukan gadis biasa. Pantas saja saya bisa merasakan aura gelap walaupun sekilas."
Malam ini mereka bertiga duduk bersama di kamar Ayodya sekembalinya Pakde dari bengkel.
"Jadi terkurungnya gadis itu di rumah sakit jiwa adalah sebagai hukuman? Saya tertarik dengan gadis itu Pakde. Jika kita bisa menariknya untuk membantu kita, kita tidak usah mengkhawatirkan cara untuk memberi makan Tuanku. Dia akan jauh lebih berguna daripada Joko."
Pakde menggeleng, "Akan susah Nduk. Dia di perintahkan pengadilan untuk seumur hidup di rumah sakit itu sebagai hukuman. Akan sulit mengeluarkannya dari sana."
Ayodya terdiam menatap kosong ke arah dinding.
"Daripada kamu memikirkan gadis itu, sebaiknya kamu mulai mencari raga baru Nduk. Tubuh Amira tidak bisa bertahan lebih lama lagi karena ritual bulan merah kemarin. Kalau dibiarkan, kamu yang akan kesulitan," Budhe bersuara.
"Aku sudah mengunci targetku Budhe, jangan khawatir. Keluarlah, aku ingin tidur."
Pakde dan Budhe mengangguk lalu meninggalkan Ayodya.
***
Budhe dan Pakde sedang sibuk mempersiapkan Joko. Rencananya, Ayodya akan kembali membagikan beberapa nasi kotak ke rumah sakit jiwa.
"Sisanya pisahkan dalam sebuah karung, Bu," ucap Pakde. "Bapak akan menguburnya di hutan kecil tepat sebelum rumah sakit."
Budhe mengangguk mengerti. Butuh seharian penuh untuk menyelesaikan pekerjaan ini.
__ADS_1
***
Ayodya seharian berada di dalam kamar ritual. Ia melakukan meditasi dan bertemu dengan Mbah Kroto dan juga Nyi Anak Mas.
"Tubuh lemah itu tidak akan bertahan lebih lama, Cah Ayu," ucap Mbah Kroto. "Kamu harus sesegera mungkin mencari tubuh baru sebelum ritual selanjutnya. Jika tidak sempat, kamu akan binasa beserta dengan tubuh itu."
Ayodya mengangguk mengerti. "Akan saya usahakan Mbah, semakin lama tidak mudah mencari tubuh yang baru. Saya juga tidak mengerti, mengapa tubuh ini terlalu lemah dibandingkan tubuh lain yang pernah saya gunakan."
"Hati-hati Cah Ayu. Ritual selanjutnya, kamu harus menggunakan tubuh yang baru. Jika kamu binasa dengan tubuh itu. Kami semua pun akan turut binasa di tangan Tuanku."
Ayodya mengangguk mengerti dan bersujud dalam gelap pada kedua sosok yang lama-lama menghilang.
***
"Sudah siap semua Pakde, Budhe?"
Ayodya mengangguk dan berjalan memasuki mobil. Mereka membawa banyak nasi kotak dan akan menuju ke rumah sakit jiwa."
***
Ayodya melihat seorang wanita keluar dari bangunan tempat gadis gi*la bernama Bella dikurung. Dengan penasaran, ia meminta pada salah satu perawat untuk menemui Bella.
"Maaf, tapi tidak sembarang orang boleh menemui gadis itu," ucap perawat sopan.
"Saya hanya ingin menyapanya sebentar saja. Tolong tanyakan padanya apakah dia mau jika saya mengunjunginya," Ayodya beralih menatap dokter jaga.
Doktee jaga termenung sejenak sebelum mengangguk. Dengan wajah berseri, Ayodya menunggu dokter jaga yang masuk untuk bertanya pada Bella.
__ADS_1
***
"Enak masakannya?" Ayodya bertanya pada gadis yang sedang duduk memunggunginya.
Bella menengok dan tertawa.
"Ada yang lucu?" tanya ayodya.
Gadis itu berhenti tertawa dan menatap ke arah Ayodya dengan pandangan mengejek. "Entahlah, aku ngga tau masakan itu enak atau ngga. Bukan aku yang makan."
Ayodya menatapnya lekat. "Kamu sepertinya tidak biasa menerima pemberian orang lain."
"Begitulah. Aku bukan tidak biasa menerima pemberian orang, tapi aku tidak terbiasa menerima kebaikan orang lain padaku. Kalau tidak ada keperluan enyah sana! Kamu mengganggu." Bella berkata ketus.
Dengan wajah kesal Ayodya berbalik, tepat saat ia akan melangkah, gadis lawan bicaranya berkata pelan.
"Aku memang pembu*nuh, tapi aku bukan kani*bal. Dari aromanya aku sudah tau masakan apa itu. Dan aku jadi semakin tau, ternyata kamu yang membawanya ke sini. Hahaha!"
Ayodya dengan segera berbalik dan tersenyum sinis, "kamu sungguh pintar, bagaimana jika kamu membantuku? Akan ku buat kau keluar dari sini."
Bella tersenyum mengejek, "Tidak, terima kasih. Aku tidak tertarik. Tapi kalau kau butuh korban baru, akan kuberikan satu korban istimewa untukmu. Tapi setelahnya jangan ganggu aku."
Ayodya tertawa, "Baiklah, apa yang kau inginkan? Kamu tidak akan menawarkan sesuatu tanpa imbalan bukan?"
"Tidak juga. Aku sudah tau bagaimana nasib korban-korbanmu," Bella melirik ke arah daun pisang kosong tempat makan siangnya yang sudah habis.
"Pastikan saja korban dariku bernasib sama dan berakhir di atas daun pisang itu," Bella menyeringai.
__ADS_1
Selama beberapa saat Ayodya merasakan ketakutan mulai memasuki hatinya. Dengan segera ia berbalik dan melangkahkan kaki menjauhi Bella.