Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh

Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh
Episode 14


__ADS_3

Bella adalah nama yang diberikan ibu panti saat ia memutuskan untuk merawat bayi yang baru berusia beberapa hari itu. Wanita itu menemukannya terbungkus dalam sebuah kantong plastik besar tanpa sehelai benang pun. Semut dan lalat mengerubungi tubuh kecil yang mulai membiru kedinginan. Kaki kanan bayi itu terdapat memar cukup besar. Sepertinya karena terantuk tempat sampah saat ia dibuang. Secara keseluruhan, kondisi bayi merah itu sangat membuat miris siapapun yang melihat.


***


"Bella jelek! Bella jelek!"


Anak-anak yang sedang bermain di tepi saluran irigasi mencemooh seorang anak kecil bertubuh kurus yang berjalan mendekati mereka. Bella hanya ingin bermain. Namun anak-anak lain menghindar. Ia selalu memakai baju yang ukurannya terlalu besar begitu pula dengan sendal jepit yang berbeda warna. Tidak pernah sekalipun ia menggunakan baju yang berukuran pas. Karena memang semua bajunya hasil pemberian orang.


Beberapa anak mengatainya sebagai anak haram karena tinggal di panti asuhan. Dan beberapa lagi yang lebih berani, mulai melayangkan cubitan-cubitan ke tangannya yang kecil. Semua itu anak-anak lakukan untuk membuat Bella pergi menjauh dari mereka. Bella kecil mulai mendapatkan penolakan pertamanya dari lingkungan bermain sekitar.


Di sekolah, Bella selalu mendapat peringkat terakhir. Wali kelasnya tidak pernah menganggap dia ada. Saat Bella bertanya karena ia tidak mengerti dalam suatu pelajaran, sang guru akan berpura-pura tidak mendengar. Pernah sekali waktu, Bella diberi pertanyaan oleh guru. Namun, karena ia tidak bisa menjawab, makian menghampiri telinga.


"Anak bod*h! Tol*l! Tidak punya ot*k!"

__ADS_1


Sudah sering kata-kata itu disematkan padanya. Dari kejadian itulah, Bella lebih memilih untuk menyingkir dari pandangan siapapun.


***


Ketenangan Bella hidup di panti asuhan terusik saat ibu panti meninggal. Penggantinya adalah seseorang yang tidak sebaik ibu panti. Beberapa anak sering menjadi sasaran amarah pimpinan panti tersebut, terutama Bella.


Pernah suatu hari tanpa sengaja ia menjatuhkan figura foto di meja ibu pemimpin panti karena diperintahkan untuk membersihkan ruangan. Beberapa jam setelahnya, tubuh Bella sama seperti kaca figura yang tadi ia jatuhkan. Remuk. Tangannya beberapa kali menerima sabetan gagang sapu, betisnya menjadi sasaran cubitan dan rambutnya pitak sebelah karena ibu pimpinan menggunting rambutnya acak. Sejak saat itu Bella dilarang untuk pergi ke sekolah.


"Anak sial*n! Jel*k! Tidak ada yang mau mengadopsimu! Samp*h!" teriaknya pada Bella lalu kemudian memukuli kepala anak itu membabi buta. Dengan tangannya yang kecil, Bella berusaha melindungi kepalanya yang terasa pusing.


***


Keberadaan Bella di sana tidak lebih dari sebuah objek pelampiasan kemarahan para pengurus panti. Mereka merasa sia-sia sudah bertahun-tahun memberi makan Bella sedangkan anak itu tidak memberikan keuntungan apapun. Pasangan orang tua asuh yang hendak mengadopsi pun mundur saat mereka menawarkan Bella untuk diadopsi. Bella dianggap pembawa sial.

__ADS_1


Bella terus mendapat makian dan siksaan fisik sampai berumur 16 tahun. Saat itu pimpinan panti menghajarnya habis-habisan karena ketauan mencuri makanan sisa makan malam anak-anak panti yang tidak habis dimakan. Bella berbuat nekat karena terlalu lapar. Ia hanya dijatah makan sehari satu kali. Itu pun setelah ia mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Mencuci, membersihkan rumah, menyetrika, menyikat kamar mandi dan banyak lagi.


Ibu pimpinan menjambak rambut dan menampar pipinya bolak balik berkali-kali. Wanita dewasa itu memukuli kepala Bella dengan keras. Punggung dan perut pun tidak luput dari tendangannya. Bella merasa dadanya sakit. Hatinya luar biasa sedih, tapi air matanya sudah mengering. Ia bertekad untuk tidak menangis lagi. Sekuat tenaga ia menahan tubuhnya yang gemetar karena marah.


"Manusia sampah tidak berguna!"


Plak!


Bella kehilangan kesabaran dan menampar ibu pimpinan panti. Wanita yang mendapat tamparan dari Bella itu semakin meradang dan balas menghantam kepala Bella dengan vas bunga.


"Pergi dari sini anak sial*n! Pergi! Jangan pernah injak lagi rumah ini!" ujarnya seraya mendorong Bella keluar dari ruangan.


Bella dengan cepat menuju ke kamarnya. Mengemasi barang-barangnya yang hanya muat dalam satu ransel lusuh, tidak lupa tabungan rahasianya. Dengan masih memegang kepalanya yang benjol, ia meninggalkan panti asuhan tempatnya tumbuh.

__ADS_1


__ADS_2