Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh

Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh
Episode 23


__ADS_3

POV Ayodya


Beberapa hari setelah pemakaman, aku mempelajari ilmu hitam yang dikuasai oleh Raden Ajeng. Santet. Raden Ajeng meninggalkan banyak tulisan dalam sebuah buku tua tentang cara mempelajarinya. Banyak hal yang harus aku lalui. Berpuasa penuh selama 40 hari, mandi tengah malam, memakan berbagai rupa-rupa kembang, hingga yang paling ekstrem menginap di beberapa tempat keramat. Aku dibantu oleh Pakdhe Jawir dan Budhe Dewi dari golongan manusia serta Mbah Kroto dan Nyi Anak Mas dari golongan makhluk halus.


Wetonku bertepatan dengan 40 hari kematian Raden Ajeng. Mbah Kroto bilang ini saat yang tepat untuk membuka gerbang lelembut dan meningkatkan kemampuanku dalam ilmu hitam.


***


Aku menyediakan segala rupa sesajen. Sesajen kali ini tidak menggunakan darah ayam ataupun babi. Aku akan mencoba menggunakan darah manusia. Darahku sendiri.


Tepat tengah malam aku menanggalkan pakaian dan melumuri tubuh dengan darahku yang sudah kubacakan mantra. Tubuhku gemetar dan semakin lama semakin tidak bisa kukendalikan. Nyi Anak Mas mulai menari sebuah tarian yang pada akhirnya aku tau adalah tarian untuk memanggil raja lelembut.


Kilat dan petir bersahut-sahutan. Langit seperti mencoba untuk mencegahku melakukan hal yang semakin sesat. Namun aku sudah tidak peduli. Rasa penasaran dan keinginan besar untuk mewujudkan permintaan terakhir Raden Ajeng begitu kental dalam pikiranku.


Tanpa kusadari, aku mengikuti gerakan Nyi Anak Mas. Semakin lama semakin cepat, hingga pada puncaknya aku terjatuh dan memuntahkan darah segar. Kabut hitam muncul dihadapanku bersamaan dengan sesosok tubuh tinggi besar bertanduk lancip. Suaranya menggelegar memekakkan teling.


"Apa yang kau inginkan sampai berani memanggilku?" suara itu berkata lantang. Aku tidak bisa melihat sosoknya dengan jelas. Hanya siluet bayangan hitam.


Aku berusaha berdiri tapi lututku kehilangan kemampuan menopang dan lidahku kelu kehilangan kemampuan berbicara. Aku merasakan ketakutan yang amat sangat.

__ADS_1


"Jangan takut Cah Ayu, aku adalah tuanmu. Kau berhasil memanggilku. Jadi lekas katakan apa yang kau inginkan?"


Setelah beberapa kali menelan saliva, aku memberanikan diri bersuara.


"Tuanku.. Aku ingin seluruh penduduk desa terkena bala. Biarkan mereka tetap hidup dalam ketakutan, kengerian, kesakitan dan rasa cemas yang tidak akan pernah berakhir. Dan sisakan Banyu Gesang untuk kupersembahkan kepadamu"


Sosok itu tertawa terbahak-bahak.


"Aku menyukaimu Cah Ayu. Kau terlalu serakah untuk ukuran manusia. Akan kupenuhi permintaanmu dan menjadikan mereka santapan. Dan satu lagi, sajikan jantung manusia yang akan kau habisi dengan tanganmu sendiri"


Aku bersujud tanda menyetujui. Dan secepat kilat, sosok itu menghilang. Rasa takut masih menyelimuti diri. Itu membuat tubuhku masih gemetar.


***


Banyu Gesang luar biasa bingung. Para penduduk desa mengalami sakit dengan gejala serupa. Panas tinggi, lemas, diare dan sekujur tubuh mereka dipenuhi bintik merah yang sangat gatal. Sudah berbagai macam pengobatan mereka lakukan. Mulai dari meminum ramuan tradisional hingga pergi ke mantri. Semua tidak ada hasilnya justru semakin bertambah parah. Banyu Gesang berinisiatif mengundang guru spiritualnya untuk mengobati para penduduk desa. Hal ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Karena banyak penduduk yang sakit, sawah, ladang dan hewan ternak menjadi terbengkalai. kelaparan telah terjadi.


***


Setelah matahari terbenam, para penduduk desa diminta untuk berkumpul di lapangan tepat di depan kantor desa. Mereka akan diobati oleh guru Banyu Gesang. Sesajen berbagai rupa telah disiapkan. Begitu pula dengan gentong yang berisi air kembang.

__ADS_1


Hampir semua penduduk datang dan berkumpul untuk menerima pengobatan. Mereka berkumpul dan duduk ditanah. Guru Banyu Gesang masih membaca mantra-mantra pada air yang akan ia siramkan. Banyu Gesang dan keluarganya ikut hadir disana. Satu-satunya yang tidak sakit adalah keluarga banyu gesang.


Guru Banyu Gesang mulai berkeliling dan menciprati air dari gentong. Para penduduk merasakan bahwa setelah mereka diciprati air, badan mereka tidak terasa sakit dan gatal. Sayangnya hal itu tidak lama. Rasa sakit dan gatal bertambah berkali lipat. Satu persatu warga mulai menggaruk tubuh mereka keras-keras hingga berdarah. Guru Banyu Gesang pun mulai merasakan hal yang sama di seluruh tubuhnya.


Banyu Gesang yang melihat kejadian itu luar biasa panik. Para warga mendekati ia dan keluarganya untuk meminta pertolongan


"Raden Banyu... Tolong kami..." seru mereka bersahut-sahutan. Banyu Gesang dan keluarganya melarikan diri. Tapi penduduk yang sudah dalam kesakitan mengejar mereka. Rasa sakit dan gatal yang ditimbulkan membuat mereka memilih mati saja.


Keluarga Banyu Gesang satu persatu tertangkap penduduk yang lama-lama seperti kehilangan akal. Banyu Gesang terus berlari ke dalam hutan. Pria itu berniat untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Batinnya tidak peduli pada keadaan anak serta istri yang ditinggalkan.


Lama berlari membuat kaki Banyu Gesang terasa kebas. Ia berhenti disebuah batu besar tepi sungai. Pendengarannya samar-samar menangkap alunan gendang. Saat ia melihat ke arah samping, satu sosok wanita sedang menari.


Tarian itu begitu indah sehingga membuat Banyu Gesang tanpa sadar mendekat. Ia terhipnotis oleh merdunya irama dan gemulainya gerakan. Penari wanita itu perlahan ikut menghampiri dirinya. Wajahnya sangat cantik. Selendangnya yang wangi dan lembut beberapa kali menyentuh wajah Banyu Gesang. Semakin lama tubuh keduanya semakin rapat. Tepat saat wajah penari itu hanya beberapa senti dari wajahnya, sesuatu menusuknya dengan sangat cepat.


Kengerian memenuhi wajah Banyu Gesang saat ia menunduk untuk melihat. Ketakutan dan rasa sakit menjadi satu. Dengan matanya ia melihat tangan penari itu berada didalam tubuhnya tepat dibagian jantung. Saat ia menatap mata penari, sesuatu ditarik sangat cepat keluar dari tubuhnya. Banyu Gesang terjatuh dengan darah yang deras mengalir keluar.


***


Ayodya, Budhe dan Pakde sudah berada di atas delman. Ketiganya memutuskan untuk pindah kampung. Perjalanan keluar kampung sangat lama. Itu disebabkan banyaknya tubuh penduduk yang bergelimpangan dimana-mana termasuk dijalan yang mereka lalui. Jalanan sudah licin oleh darah walaupun mereka masih hidup dengan kesakitan yang luar biasa. Ayodya membalikkan badan untuk melihat yang terakhir kalinya.

__ADS_1


"Selamat makan Tuanku...." ucapnya lirih


__ADS_2