
"Kenapa anda berbohong Profesor?" Bella menyandarkan badannya. Matanya tidak lepas dari mata Lita.
Sosok yang dipandang Bella hanya tersenyum. Wanita itu berdiri dan sebisa mungkin menjaga jarak. Ia tau, mood Bella bisa setiap saat berubah. Ditambah lagi, ia adalah orang yang berperan penting atas terkurungnya gadis itu ditempat ini.
"Sebagai seseorang yang disumpah untuk memberikan pernyataan yang sebenarnya di pengadilan, tidak seharusnya anda memberikan 'sesuatu' yang menyesatkan.
Kita sama-sama tau. Saya tidak gila. Saya seharusnya terkurung di penjara, menunggu saatnya untuk hukuman mati. Bukan disini. Satu-satunya pertanyaan saya adalah, kenapa anda memberikan laporan palsu yang berkaitan dengan kondisi saya? Apa rencana anda Profesor Lita?"
Lita masih tetap tersenyum. Dirinya bergerak untuk kemudian duduk didekat Bella. "Entahlah. Saya kira mengirimmu ke tempat ini jauh lebih baik dibandingkan penjara. Di sana, kita sama-sama tau jika kamu akan berakhir di depan regu tembak. Tapi di sini, setidaknya kamu masih bisa hidup lama. Walaupun harus tersiksa."
"Dasar anj*ing!" seru Bella. Emosi gadis itu naik perlahan. Seluruh tubuhnya gemetar menahan rasa marah.
"Kenapa Bella? Kamu tidak bisa beradaptasi di sini? Untukmu mungkin penjara terdengar lebih baik. Sendiri, gelap, tanpa teman. Itu yang kamu mau kan? Seperti zona nyamanmu selama ini. Di tempat ini, kamu tidak bisa melarikan diri. Pikiranmu teralihkan. Walaupun kamu berada di tempat isolasi, tapi kamu dikelilingi manusia-manusia bising. Dan saya tau, kamu membenci hal tersebut. Itu balasan yang tepat untukmu. Membuat seorang penyuka kesepian, berada di tempat ramai. Itulah siksaan yang sebenarnya untukmu," Lita berbicara lirih.
__ADS_1
Bella berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah karena emosi. Jika mengikuti keinginannya, dia bisa sangat mudah dan cepat membuat Lita babak belur dengan menggunakan kursi yang didudukinya. Namun ia sadar, hanya Lita satu-satunya orang yang bisa dimanfaatkan untuk melarikan diri.
"Ada perlu apa Profesor? Anda tidak datang kemari hanya untuk memprovokasi saya. Katakan apa yang anda butuhkan, dan enyah!"
"Hahaha," Lita tertawa lepas. "Kau terdengar seperti saat pertama kali kita bertemu dulu."
Wanita itu membenarkan blazer coklat gelap yang dikenakannya sebelum kembali bersuara. "Ada sebuah kasus. Dan aku hanya sekedar ingin tau apa tanggapanmu, Bella."
"Silakan," lirih gadis itu.
Banyak dari mereka mengatakan bahwa sebelumnya, mereka memakan nasi kotak pemberian seseorang yang menggunakan mobil mewah. Pihak rumah sakit menyimpulkan bahwa ini hanya kejadian keracunan makanan biasa, sebelum mereka melakukan tes. Setelah dilakukan tes, ditemukan bahwa ada virus dan bakteri E.****, Ebola dan Hepatitis. Kadar protein dan kalori yang tinggi dan ditemukan partikel Prions ..., "
"Hahaha!" Bella tertawa terbahak-bahak. "Maafkan saya Profesor, tapi ini sungguh lucu."
__ADS_1
Lita batuk sejenak untuk menormalkan suaranya. "...Ditemukan partikel Prions di tubuh mereka. Polisi sudah bergerak mencari benang merah, karena peristiwa ini mengarah ke tindakan meracuni massal. Yang ingin saya tau, apakah menurutmu seorang pembunuh berdarah dingin sudah lahir, Bella? Melihat bahwa sasarannya acak dari segala tingkatan usia. Satu-satunya persamaan adalah mereka berasal dan hidup di jalanan. Mudah untuk memberikan mereka makanan. Dan sayangnya, kejadian ini berulang beberapa hari yang lalu. Berikan saya pandanganmu, kira-kira apa motifmu seandainya kamu adalah pelaku yang meracuni mereka secara membabi buta?"
Bella kembali tertawa, namun kali ini Lita mendengar bahwa tawa itu lebih ke arah mengejek dirinya. "Anda ingin mengetahui sudut pandang saya? Karena saya sudah menghabisi sembilan nyawa? Hahaha! Anda bo*doh.
Keracunan itu hanyalah efek Profesor. Efek yang mungkin tidak dipertimbangkan oleh pelaku. Intinya adalah pemberian makanan pada manusia-manusia sam*pah yang tidak bisa menghidupi diri mereka sendiri sehingga harus mencari makan di jalanan"
"Tolong jelaskan," pinta Lita.
"Pemberian makanan itu hanyalah cara untuk menutupi kejahatan yang sebenarnya. Anda tadi menyebutkan partikel Prions? Lonjakan kalori dan protein? Anda sangat bo*doh sehingga tidak bisa mengambil kesimpulan dari tiga hal itu," Bella kembali tertawa terbahak-bahak. Gadis itu senang karena menemukan cara untuk menjatuhkan mental Lita. "Anda benar-benar bo*doh...,"
Lita sejenak merasa tersinggung oleh ucapan Bella. Namun ia sadar, jika ia emosi, maka keinginan Bella tercapai. Setelah menghela nafas panjang, wanita itu berdiri dan bersiap pergi. "Ya, sepertinya kamu benar Bella. Aku bo*doh sudah berusaha bertanya padamu tentang sudut pandang pelaku. Mengingat kamu pun pelaku yang tidak memiliki belas kasihan."
Lita berbalik dan mulai melangkah saat Bella berkata, "Prions, Profesor. Prions adalah partikel yang terdapat dalam protein manusia di otak. Hanya di otak. Jika partikel itu bisa berada dalam darah atau pencernaan manusia lain, atau bisa dibilang bukan di tempat seharusnya partikel itu berada, artinya seorang kanibal telah lahir dan berusaha menyembunyikan kejahatannya. Hahahaha!"
__ADS_1
Langkah Lita membeku seiring dengan penjelasan Bella yang memasuki pikirannya.