Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh

Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh
Episode 22


__ADS_3

Raden Ajeng Putu Ayu meninggal dunia menjelang Maghrib. Pakdhe Jawir dan Budhe Dewi sibuk memberitahukan kabar ini pada penduduk desa. Namun, ditunggu sampai beberapa lama kemudian, tidak ada satupun orang yang datang melayat. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengurus jenazah Raden Ajeng tanpa bantuan warga.


***


Ayodya dan Budhe Dewi bersiap untuk memandikan jenazah Raden Ajeng. Beberapa gentong air sudah Pakdhe Jawir siapkan. Keanehan terjadi saat Ayodya mulai menyentuh tangan Raden Ajeng. Tangan itu tiba-tiba menggenggam telapak tangannya. Ada rasa panas yang menjalar berasal dari sana. Saat Ayodya mengalihkan pandangan, sesosok pria tua berpakaian hitam berdiri tepat dibagian kepala Raden Ajeng. Sosok itu terlihat sedih. Beberapa saat berikutnya, sosok itu mundur dan berlutut tepat menghadap ke arah Ayodya.


"Mulai saat ini ijinkan saya menjagamu.. Saya dan Nyi Anak Mas akan selalu berada didekatmu"


"Nyi Anak Mas..?" bibir Ayodya berbisik.


Melihat sosok itu masih di depannya, Ayodya mengangguk perlahan dan tidak lama sosok pria tua itu pun menghilang.


***


Pakdhe Jawir memasuki rumah dengan wajah sedih. Ia berusaha mencari kain kafan untuk jenazah Raden Ajeng. Sayangnya, tidak ada satupun yang menjual. Para penduduk desa pun tidak ada yang bisa dimintai tolong. Mereka tidak membukakan pintu saat Pakdhe Jawir mengetuk rumah mereka.


"Bagaimana ini nduk?" tanyanya pada Ayodya.


Ayodya yang juga bingung bertanya kembali kepada Pakdhe Jawir.


"Kenapa pakdhe bertanya pada saya? Saya juga tidak mengerti.."


Budhe Dewi yang duduk didekat jenazah Raden Ajeng menimpali.


"Nduk... Kami mendapat wasiat dari Raden Ajeng untuk mengabdi padamu. Raden Ajeng mengatakan itu pada kami sesaat sebelum ia meninggal..."


Ayodya terperangah mendengar perkataan Budhe Dewi. Ia tidak menyangka jika Raden Ajeng bahkan memberikan perintah kepada orang yang sudah mengurusnya selama ini.


"Raden Ajeng sudah memberikan wasiat kepada kami untuk terus mengabdi kepadamu nduk. Dan kami juga sudah berjanji padanya. Ia juga berpesan untuk memberikan semua kekayaannya padamu" Pakdhe Jawir menimpali ucapan istrinya.

__ADS_1


Ayodya menghela nafas. Perkataan Budhe dan Pakde membuat kepalanya mendadak pusing.


"Jadi bagaimana selanjutnya nduk? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Budhe Dewi.


Ayodya diam memikirkan sesuatu. "Gunakan saja kain jarik Raden Ajeng untuk mengganti kain kafan, Budhe"


Budhe Dewi mengangguk dan beranjak menuju ke arah kamar.


***


Ayodya merasa miris dengan keadaan Raden Ajeng. Disaat ia meninggal, warga tidak ada yang datang satu pun. Raden Ajeng benar-benar sudah di kucilkan penduduk. Padahal sewaktu ayahanda Raden Ajeng menjabat kepala desa, penduduk hidup makmur dalam damai.


Ayodya bersama dengan Pakdhe dan Budhe membungkus jenazah Raden Ajeng menggunakan kain jarik. Kekayaan Raden aAjeng tidak terhitung, tapi sayang, ia tidak bisa mendapatkan sehelai kain kafan pun untuk pemakamannya. Jenazah Raden Ajeng siap untuk dimakamkan menjelang pukul 2 dini hari. Mereka bertiga sepakat untuk segera memakamkan jenazah saat itu juga. Dengan dibungkus samak, jenazah Raden ajeng dinaikkan ke atas delman. Sedangkan Ayodya dan Budhe Dewi mengikuti dengan berjalan kaki. Mereka sepakat untuk menguburkan Raden Ajeng di dalam hutan.


***


Matahari sudah bersinar saat ketiganya sampai kembali di rumah. Budhe segera berlalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan Ayodya. Teringat percakapan mereka bertiga dalam perjalanan pulang setelah memakamkan Raden Ajeng.


Pakdhe mengangguk mengiyakan perkataan istrinya tersebut.


"Kami tau jika Raden Ajeng memiliki ilmu hitam. Begitupun denganmu nduk. Beliau mengatakan semuanya pada kami. Selain itu Raden Ajeng pun menitipkan pesan khusus untukmu. Beliau berkata, 'Ayodya harus membantuku membalas semua kesakitan ini' tepat sebelum nafasnya terputus"


"Banyu Gesang adalah orang yang menyebabkan kesakitan Raden Ajeng. Sakit itu dibawa sampai beliau meninggal. Kami adalah saksi bagaimana orang tua Raden Ajeng harus berakhir dengan cara yang tidak manusiawi"


Ayodya diam dan berpikir lama sebelum akhirnya bersuara.


"Saya dapat merasakan rasa sakit hati yang Raden Ajeng rasakan. Melihat orang-orang yang disayang diperlakukan sedemikian buruk untuk kesalahan yang tidak dilakukan, itu sangat menyakitkan"


Ayodya berhenti bicara sejenak, menghembuskan nafas dan melanjutkan berbicara.

__ADS_1


"Krena hal itu... Saya akan menerima amanat terakhir dari Raden Ajeng..."


Pasangan suami istri itu menatap Ayodya dengan senyum sumringah.


***


Malam ini Ayodya tidur di kamar Raden Ajeng. Memakai pakaian dan barang-barang pribadinya sesuai yang diwasiatkan almarhumah pada Pakdhe Jawir. Belum terlalu malam saat Ayodya merasa sangat mengantuk. Dalam beberapa menit, gadis itu sudah terlelap.


***


Lagu tradisional mengalun indah dipendengaran Ayodya. Ia berada disebuah lapangan yang dikelilingi kabut. Semua terlihat kelabu dan abu-abu. netranya menatap siluet didepan. Bayangan seorang penari yang bergerak dengan luwes. Tanpa Ayodya sadari, ia mulai menari. Sedikit terkejut karena tariannya sama persis dengan sosok di depan sana. Tiba-tiba ia ingat, tarian ini adalah tarian yg ia tari-kan tepat saat berganti tubuh.


Selama beberapa saat ayodya masih terus menari mengikuti alunan nada. Saat alunan berhenti, sosok didepannya berjalan gemulai menuju ke arahnya. Dibelakang sosok itu ada satu sosok lagi. Ayodya belum bisa melihat keduanya dengan jelas. Hingga, saat keduanyasemakin mendekat, dia langsung mengenali sosok pria tua berpakaian serba hitam.


"Mbah Kroto..." ucapnya lirih.


Kedua sosok itu berlutut dihadapan Ayodya.


"Cah Ayu..." sapa Mbah Kroto


Mata Ayodya teralihkan pada sosok wanita disebelah Mbah Kroto yang ikut berlutut. Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian tradisional penari dan wajahnya luar biasa cantik.


"Cah Ayu.." ucapnya dengan suara yang merdu.


Mbah Kroto bersuara, "Cah Ayu, ini adalah Nyi Anak Mas. Saya melihat beliau sudah ada disisimu saat kamu pertama kali menginjakkan kaki di rumah Raden Ajeng"


Nyi Anak Mas menimpali. "Betul Cah Ayu. Sejak kamu berhasil mempelajari ilmu Lali Jiwo secara penuh, sejak saat itulah aku selalu berada disisimu. Nenekmu Nyi Gandari, memerintahkan saya untuk selalu mendampingimu. Saya dan Mbah Kroto akan selalu ada untuk menjaga dan membantumu. Karena beliau juga sudah terikat janji Getih Dowo pada tuannya yang terdahulu"


Keduanya lalu menunduk dengan posisi tangan sungkem kepada Ayodya sebagai simbol penghormatan serta kepatuhan.

__ADS_1


Dan secara tiba-tiba, Ayodya terbangun.


__ADS_2