
"Kenapa Nyonya? Apa salah saya?"
Sosok Joko meringsut mundur ke belakang dan menabrak dinding batuan. Ia tidak dapat menghilangkan ketakutan dan kengerian dari setiap inci tubuhnya. Bagaimana tidak, di hadapannya sesosok penari sedang bergerak luwes menarikan sebuah tarian yang sebetulnya sangat indah. Hawa ketakutan ia rasakan saat melihat kepala penari itu yang seolah patah pada tulang leher. Akibatnya, kepala itu miring ke samping dengan sudut yang janggal dan bergerak tidak teratur. Sangat kontras dengan gerakan gemulai di badannya.
Rasa takut yang sudah tidak tertahankan lagi membuat Joko dengan kesadaran penuh meminta untuk ma*ti saja. Mata dan pikirannya tidak sanggup lagi melihat dan memikirkan hal nyata di hadapannya yang memancarkan kengerian. Mujur baginya. Ayodya masih menaruh rasa kasihan padanya karena pengabdian pria itu selama beberapa saat. Sehingga akhirnya, dengan cepat sesuatu berdetak yang merupakan pusat dari tubuhnya direnggut paksa saat ia masih dalam keadaan sadar.
"Selamat makan Tuanku." Adalah kalimat terakhir yang Joko dengar.
***
"Kita tidak bisa memberikan nasi kotak secara sembarangan lagi Pakde. Pernah ada kasus keracunan di sini yang ditimbulkan nasi kotak pemberian kita. Dan masyarakat pasti akan langsung mengkaitkannya dengan peristiwa terdahulu jika kita melakukan hal yang sama. Terlalu beresiko." Ayodya menatap Pakde dan Budhe. "Ada solusi?"
Dengan lirih Budhe membuka suara. "Bagaimana kalau kita tetap membuat nasi kotak, tapi kita sebarkan ke panti asuhan terpencil Nduk? Budhe tadi siang ditawari oleh salah satu tetangga kita. Katanya, mereka memiliki agenda rutin untuk memberikan bantuan pada rumah sakit, panti asuhan dan panti jompo. Budhe rasa cukup aman jika kita ikut mengirim nasi kotak ke sana."
Ayodya terdiam sejenak, "Ide yang bagus Budhe. Mungkin bisa kita lakukan. Di berita disebutkan jika kasus keracunan terjadi pada orang-orang yang hidup di jalanan. Saya rasa, kita bisa membuat perubahan rencana dengan memberikannya ke panti asuhan atau apapun yang terpencil. Jika terjadi kasus keracunan lagi, kita bisa mengelak karena bukan hanya kita yang menyumbang. Bagaimana menurut Pakde?"
Pakde mengangguk setuju. "Pakde rasa kita bisa melakukan hal itu Nduk. Kebetulan, di pelosok dekat sini berdiri rumah sakit jiwa. Kita bisa mulai dari sana."
"Besok antar saya ke sana Pakde. Saya harus melihat sendiri situasi di sana. Kita harus secara rutin menyumbang yang lain dulu sebelum pada akhirnya kita memberikan nasi kotak. Tubuh Joko kuat berapa lama di dalam freezer?" tanya Ayodya.
"Satu bulan Nduk."
Ayodya mengangguk dan bangkit berlalu menuju kamar ritual miliknya.
***
"Hei penari!"
__ADS_1
Ayodya terkejut dan membalikkan tubuh melihat sepasang mata menatapnya dengan antusias dan penasaran yang tinggi.
"Abaikan saja Nduk. Ini rumah sakit jiwa, dan beberapa pasien di sini bukan hanya penderita sakit mental. Beberapa juga ketempelan akibat kiriman seseorang. Maklumi saja," Pakde yang berdiri di sebelahnya bersuara.
"Ayo kita masuk saja. Pengurus rumah sakit akan mengantar kita berkeliling setelah kita sepakat untuk menjadi donatur tetap di sini."
Ayodya mengangguk dan mengikuti Pakde masuk ke ruangan pengurus.
***
"Ini bangunan dengan level keamanan tertinggi. Penghuni di sini mengidap penyakit mental serius dan secara nyata membahayakan masyarakat," jelas pengurus rumah sakit jiwa pada Ayodya dan Pakde.
"Berapa banyak pasien di bangunan ini? Apa memang sengaja dibuat terpisah dari yang lain?" Pakde bertanya seakan antusias.
Wanita di hadapannya tersenyum, "Hanya ada satu pasien pak. Satu pasien dengan latar belakang kriminal luar biasa dalam usia yang masih sangat muda. Memang di buat terpisah untuk mengurangi interaksi dengan orang-orang yang tidak berkepentingan. Nanti kita bisa melihatnya dari jendela tempatnya biasa duduk."
Ayodya menatap seorang gadis yang berparas cantik sedang menatap kosong ke arah taman.
"Namanya Bella."
Seolah mendengar percakapan mereka, mata kosong gadis yang sedang dibicarakan itu beralih menatap Ayodya dengan dingin dan menusuk.
***
Budhe menatap Ayodya yang turun dari mobil asing. Keningnya berkerut ketika melihat tiga orang lainnya ikut turun.
"Kak, mobil mogok tepat di pertengahan jalan. Untung ada orang-orang baik ini yang memberi saya tumpangan," Ayodya berkata sebelum Budhe membuka suara.
__ADS_1
Budhe memasang senyum dan menawari mereka untuk mampir sekedar minum teh. Tapi ditolak dengan halus oleh ketiganya.
"Mohon maaf, kami masih harus mengantar teman kami pulang, jadi mungkin lain kali kami akan mampir untuk undangan minum tehnya," salah satu dari mereka berkata sopan dan diangguki oleh yang lainnya.
"Terima kasih banyak lho atas pertolongannya. Kalau boleh tau, nama kalian siapa?" ucap Budhe
Mereka masing-masing menyebutkan nama dengan ramah.
"Baiklah kalau begitu. Kapan-kapan main lagi ke sini ya Cyril, Galih dan Ara," Budhe tersenyum. "Sekali lagi terima kasih ya."
Ketiganya berpamitan dan memasuki mobil. Budhe dan Ayodya menunggu hingga mobil tersebut hilang dari pandangan.
Saat akan berbalik, Budhe melihat ke arah leher Ayodya. "Nduk, kenapa itu lehernya? Pasti perih."
Ayodya berjalan pelan memasuki rumah dan langsung duduk di sofa. "Ngga apa Budhe, tadi habis kenalan sama orang gila di rumah sakit sana."
Budhe masih menatap Ayodya dengan pandangan khawatir.
"Saya merasa luar biasa lemas. Sepertinya tubuh Amira ini tidak bisa saya gunakan lebih lama lagi. Tubuh ini terlalu lemah. Sudah saatnya saya mencari tubuh baru, Budhe," Ayodya berkata lirih.
"Kamu sudah menemukan target baru di rumah sakit Nduk?"
Ayodya menggeleng. "Tidak Budhe, bukan orang dari rumah sakit. Saya rasa gadis yang barusan mengantar saya cocok untuk saya gunakan. Walau terlihat kecil, saya bisa melihat jika tubuhnya kuat."
Budhe mengangguk mengerti. "Istirahatlah dulu Nduk, nanti kita bicarakan lagi."
Ayodya bangkit menuju ke kamarnya di bawah tatapan khawatir Budhe.
__ADS_1