Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh

Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh
Episode 21


__ADS_3

Ayodya terus berjalan menelusuri hutan yang masih belum terjamah manusia. kakinya lelah dan ia masih belum terbiasa dengan tubuh baru ini. kepalanya pening memikirkan kejadian yang beberapa jam lalu ia alami. Semua diluar akal sehat. Bagaimana ia bisa lolos dari maut dan memakai tubuh orang lain. Asing. Ya, Ayodya merasa asing dengan dirinya sendiri.


Saat matahari mulai menyinari jalan setapak yang dilaluinya, terdengar suara dokar dari arah belakang. Dengan penuh harap Ayodya menoleh dan menunggu. Gadis itu berniat untuk menumpang. Kakinya sudah sangat lemas dan hampir kehilangan kekuatan untuk berpijak.


Tidak lama kemudian dokar itu menghampiri tempat Ayodya berdiri. dengan segera ia menyapa.


" Pakdhe, bisakah saya menumpang?"


Kusir dokar itu menatap Ayodya lekat, sebelum akhirnya mengangguk dan mempersilahkannya untuk naik.


" Mau kemana toh cah ayu? Masih pagi sudah bepergian"


Ayodya tersenyum sebelum menjawab. "Mau mencari kerja di desa sebelah pakdhe. Tapi tadi dokar yang mengantar saya bannya lepas. Jadinya saya melanjutkan dengan berjalan kaki"


Kusir mulai melajukan dokarnya perlahan setelah memastikan Ayodya duduk dengan baik.


" Mujur kamu cah ayu, saya memang mau pulang ke kampung sebelah setelah membeli beberapa barang pesanan Raden Ajeng Putu Ayu"


" Beliau itu siapa Pakde?" tanya Ayodya tertarik


" Raden Ajeng Putu Ayu adalah anak dari Raden Mas Budiraja. Mantan kepala desa yang sudah dilengserkan karena suatu peristiwa". Tanpa Ayodya sadari, mata kusir berkaca-kaca.


"Raden Ajeng sekarang hanya tinggal sebatang kara. Tidak ada satupun pemuda yang mau meminangnya. Semua karena ulah seseorang yang telah memfitnah keluarga itu secara kejam. Bukankah kamu ingin mencari pekerjaan cah ayu? Akan saya tanyakan pada Raden Ajeng, barangkali ia mau mempekerjakanmu"


Wajah Ayodya sumringah mendengar perkataan kusir. Dengan cepat ia mengangguk.


" Saya mau Pakde" ucapnya


Tanpa Ayodya sadari, takdir perlahan telah menuntunnya di jalan panjang yang kelak akan dilumuri dengan banyak darah yang tumpah.


***


Setelah menghabiskan waktu cukup lama di perjalanan, dokar mulai memasuki sebuah desa yang tenang. Tidak banyak aktifitas yang bisa Ayodya lihat. Penduduk seolah enggan keluar rumah selain untuk bekerja di kebun. Ayodya memperhatikan, dokar terus melaju ke arah utara. Sampai akhirnya tiba di sebuah rumah terpencil. Satu-satunya rumah yang berbatasan langsung dengan hutan belantara atau Alas Tohpati. Hutan yang diyakini sangat angker dan keramat oleh penduduk sekitar.


Rumah bernuansa Jawa kental dengan gebyok kayu jati memanjakan mata Ayodya. Sekilas ia melihat kemiripan dengan rumah sang nenek. Setelah dokar berhenti sempurna, Ayodya turun dan membantu kusir menurunkan barang-barang.


" Sudah cah ayu, ngga usah. Biar pakdhe saja" tolak kusir


Namun Ayodya tetap membantu hingga akhirnya pintu terbuka. Tampaklah dua orang wanita berjalan pelan menghampiri mereka. Yang satu berusia lebih tua dan yang seorang lagi lebih muda.

__ADS_1


" Pak, itu siapa?" tanya wanita yang lebih tua memandang Ayodya.


Kusir mengajak Ayodya untuk menghampiri mereka.


" Ini cah ayu dari kampung di sebelah barat. Cah ayu ini keluar kampung untuk mencari pekerjaan" jawabnya.


Wanita setengah baya itu menoleh pada wanita muda di sebelahnya. Ayodya merasa gugup saat wanita itu menatapnya lekat.


" Saya Putu Ayu, pemilik rumah ini. Siapa namamu?" tanyanya


"Saya Ayodya ndoro" jawab Ayodya pelan


"Jika kamu memang mencari pekerjaan, saya akan mempekerjakanmu. Budhe Dewi butuh seseorang untuk membantunya mengurus saya dan rumah ini. Di rumah ini hanya ada kami bertiga. Saya, Budhe Dewi dan Pakdhe Jawir. Kalau kamu memang mau, silakan bekerja disini" tegasnya.


Ayodya mengangguk cepat. Wanita yang dipanggil Budhe Dewi tersenyum dan menghampiri.


"Ayo cah ayu, bantu saya memasukkan barang-barang ini ke dapur. Setelah itu bantu saya memasak"


Dengan cepat Ayodya kembali mengangkat barang-barang yang telah diturunkan Pakdhe Jawir dan mengikuti Budhe Dewi memasuki rumah. Sedangkan Raden Ajeng Putu Ayu, kembali masuk ke kamarnya tanpa bicara lagi.


***


Raden Ajeng Putu Ayu adalah anak dari kepala desa yang dilengserkan oleh rivalnya dengan cara yang kejam. Keluarganya difitnah telah bersekutu dengan iblis, hingga mereka dikucilkan.


"Kejadian malam itu masih melekat erat di ingatan budhe cah ayu.. Saat warga dengan senjata tajam mendatangi rumah ini dan menyeret kedua orang tua Raden Ajeng. Mereka menyebutkan bahwa orang tua beliau dukun ilmu hitam. Kedua orang tuanya membela diri namun nasib tragis tetap menghampiri. Warga yang sudah terprovokasi melukai Raden Mas dan Raden Ayu —Orang tua Raden Ajeng Putu Ayu— dan membakar mereka hidup-hidup" Budhe Dewi menghapus air matanya pelan.


Ayodya ikut merasakan kesedihan Budhe Dewi. Tidak mudah menghapus kenangan lama yang menyakitkan hati.


"Semua berawal dari pinangan Banyu Gesang" lanjut Budhe Dewi


"Siapakah beliau?" Ayodya tertarik untuk mengetahui lebih.


"Dia adalah rival dari Raden Mas dalam pemilihan kepala desa, dan masih menjabat hingga saat ini. Hal yang membuat dia memfitnah keluarga ini dengan kejam adalah penolakan dari Raden Mas. Raden Mas menolak pinangan dari Banyu Gesang untuk menikahi Raden Ajeng. Tabiat Banyu Gesang kurang terpuji. Hanya saja warga takut karena keluarganya memiliki pengaruh besar di pemerintahan" Budhe Dewi mengakhiri ceritanya.


Ayodya melihat bayangan di sudut matanya. Saat ia menoleh, terlihat Raden Ajeng Putu Ayu berdiri di sebelah lemari. Wanita itu mendengar percakapan mereka. Ayodya merasa tidak enak hati tertangkap basah membicarakan majikannya di belakang. Namun, Raden Ajeng hanya tersenyum dan berbalik memasuki kamar.


***


Sudah beberapa hari ini Raden Ajeng jatuh sakit. Tubuhnya terlihat pucat dan juga lemas. Ayodya dengan telaten mengurusi semua keperluan Raden Ajeng. Sampai akhirnya siang itu, saat Budhe Dewi dan Pakdhe Jawir sedang keluar membeli obat, Raden Ajeng memanggil Ayodya ke kamarnya.

__ADS_1


" Duduk di sebelahku nduk.." pintanya


Ayodya menarik kursi dari meja rias dan duduk di sebelah tempat tidur Raden Ajeng.


" Aku merindukan orang tuaku. Aku bersalah pada mereka Ayodya.. Sangat bersalah. Karena aku, mereka menemui ajal dengan cara yang tidak manusiawi"


Ayodya hanya diam dan menatap majikannya itu.


"Orang tuaku diperlakukan lebih buruk dari binatang. Tanpa belas kasih dari makhluk yang menamakan diri manusia, padahal kelakuan mereka lebih bejat daripada iblis" Raden Ajeng menangis lirih.


Ayodya pun tidak dapat menahan air matanya. Ia bisa merasakan sakit yang Raden Ajeng rasakan. kehilangan orang tua dalam waktu bersamaan bukan perkara mudah. Apalagi dengan cara yang keji.


"Manusia memang sering kali bertindak diluar akal ndoro.." sahut Ayodya pelan. Ia berusaha sekuat tenaga meringankan kesedihan Raden Ajeng.


"Ditambah lagi fitnah kejam yang tidak berdasar.."


Raden Ajeng menoleh, menatap mata Ayodya dan berkata,


"Bukan tidak berdasar Ayodya.. Disebut fitnah karena berita itu salah sasaran"


Ayodya menatap majikannya dengan ekspresi penuh tanda tanya.


" Berita itu salah sasaran.. Karena yang sebenarnya adalah.. Aku yang mempelajari ilmu hitam.. Bukan orang tuaku" ucap Raden Ajeng lemah.


Ayodya tidak bisa menutupi keterkejutannya. seketika ia kembali kehilangan kata-kata.


" ya. Akulah yang mendalami ilmu hitam.. Aku yang bersalah dalam hal ini. Bukan orang tuaku..


Dan aku tau, kau pun memiliki ilmu Ayodya.. Walaupun aku tidak bisa menebak, ilmu hitam apa yang kau kuasai. Penjagaku, Mbah kroto yang memberitahuku"


"Ndoro.." Ayodya tidak bisa melanjutkan perkataannya. Hal yang barusan ia dengar membuatnya sangat terkejut.


"Bantu aku Ayodya.. Bantu aku membalaskan sakit hatiku. Bantu aku, dan akan kuberikan jiwaku ini padamu.. Sudah tidak ada alasan aku bertahan.." ucap Raden Ajeng


"Bantu aku membalas mereka Ayodya.. Hanya kamu yang bisa.. Tolong pikirkan permintaanku ini.."


Ayodya masih belum bersuara. Cukup lama keduanya tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan saat pintu lemari di kamar itu terbuka perlahan. Ayodya menoleh, tapi tidak ada siapapun disana. Dan saat kembali menghadap ke arah tempat tidur, satu sosok sudah berdiri di sisi Raden Ajeng yang lain.


"Perkenalkan, ini adalah Mbah Kroto. Mulai saat ini ia akan menjadi penjagamu.. Perintahkan dia apapun. Tolong.. Balaskan rasa sakit ini.. Aku mengharapkanmu Ayodya Dewi Lasmi"

__ADS_1


Mata Ayodya terbelalak sebelum kegelapan menyelimuti seluruh tubuhnya. Sesuatu terasa menusuk jantung dan kepala. Hingga pada akhirnya, dia kehilangan kesadaran dan jatuh ke lantai.


__ADS_2