
Hujan..
Hujan menjadi penghubung antara langit dan bumi. Butiran air dari sang langit memberikan berkahnya untuk sang bumi.
Bella sangat menyukai hujan. Resonansi yang ditimbulkan petir, disusul getaran yang tertangkap indra peraba, menciptakan komposisi yang sangat ia suka.
Hujan mampu mengembalikan ingatan tentang rasa dan emosi di masa lalu. Tentang beberapa peristiwa yang berputar di kepalanya seperti tayangan film. Hujan pula yang membantu Bella menyembunyikan isak tangisnya dari manusia manapun. Itu sebabnya setiap hujan, Bella selalu meluangkan waktunya untuk duduk diteras dan menatapnya sementara waktu.
**************
Di sudut matanya, Bella melihat wanita itu lagi. Melangkah dibawah derasnya hujan tanpa lindungan payung dan bertelanjang kaki. Terlihat ia mulai kepayahan berjalan dengan perutnya yang semakin membesar. Sesekali wanita itu mengusap wajahnya disebabkan lelehan air hujan dari rambutnya.
" Mbak Irma!" Bella berseru melambaikan tangan. Sayangnya hujan menenggelamkan suaranya.
"Mbaaaaak!!" Serunya lagi.
Nihil. Sang wanita yang dimaksud tidak mendengar dan mulai berjalan pelan ke arah timur. Bergegas Bella masuk ke dalam, menyambar sebuah payung kecil di gantungan jaket, mengenakan tudung jaketnya dan menerobos keluar mengejar wanita yang sekarang sudah tidak terlihat.
"Mbak Irma!" Serunya lagi saat jarak diantara mereka hanya berkisar 2 meter.
Sosok yang dipanggilnya menoleh dan tersenyum.
"Neng, kenapa hujan-hujanan? Ada payungnya bukan dipake" kata wanita itu ramah
"Buat mbak.." jawab Bella seraya menyerahkan payung itu.
Awalnya Mbak Irma menolak, tapi Bella tetap bersikeras memberikannya. Akhirnya mereka mampir di sebuah warung untuk berteduh karena hujan semakin deras.
"Mbak kenapa jualan? Hujannya deras" Bella membuka obrolan.
Mbak Irma tersenyum
__ADS_1
"Setau mbak, saat hujan doa-doa akan diijabah. Karena katanya saat itulah bumi dan langit terhubung. Setelah tadi mbak berdoa, mbak pikir lebih baik sekalian mbak usaha. Doa saja diijabah, apalagi usaha kan? Jawab Mbak Irma.
"Maksudnya gimana?" Bella menatap tidak mengerti.
Sambil menggenggam payung di pangkuannya, mbak Irma menjawab.
"Mbak tadi berdoa, semoga hari ini jualan mbak laku.. Mbak perlu uang lebih untuk tabungan biaya melahirkan" pandangan wanita itu melembut dan reflek mengelus perutnya yang membuncit.
"Karena doa saja akan timpang jika tanpa ikhtiar.. makanya mbak memutuskan jualan. Doa saja dijamin untuk diijabah, apalagi jika ditambah ikhtiar atau usaha.."
Bella terdiam mengerti. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Dan, seolah tau, mbak Irma menjelaskan.
"Suami mbak jarang pulang, jadi mbak harus juga berusaha sendiri.." lanjut wanita itu
Hampir semua orang disekitar lingkungan Bella tau siapa suami dari mbak Irma. Tapi, karena perawakan fisiknya, banyak yang diam menghindar karena takut.
Suaminya tukang judi dan juga mabuk-mabukan. Pria itu sering dijumpai di pasar dekat dengan minimarket tempat Bella bekerja. Dia terkenal sebagai preman. Tidak ada satupun warga atau bahkan tokoh masyarakat yang berani menegur. Jangankan kepada orang lain, perlakuannya terhadap mbak Irma sebagai istrinya pun begitu buruk.
**********
Tidak ada sahutan, bantahan ataupun kata-kata keberatan yang keluar dari sosok wanita di hadapannya. Wanita itu sibuk melipat dan merobek potongan koran bekas, untuk bungkus nasi uduk yang akan ia jual besok.
Merasa tidak ada perlawanan, pria itu tersenyum seraya mengelus rambut sosok wanita itu.
"Nah begitu, menurutlah jadi istri. Kamu bisa hamil lagi setelah kita mendapat uang yang banyak" lanjutnya.
Si wanita hanya tersenyum sinis, dan sialnya, pria itu melihatnya
" Kenapa tersenyum seperti itu? Kau merencanakan sesuatu Irma? Lihat saja, jika kau macam-macam!!" Ancam pria itu mulai kesal.
Irma menatap dalam ke mata suaminya dan berkata
__ADS_1
"Langkahi dulu mayatku, jika kau ingin mengambil anakku"
Satu kalimat Irma barusan, menyulut emosi suaminye ke level tertinggi. Dengan cepat ia menampar wanita itu sekuat tenaga hingga hidungnya berdarah. Selanjutnya menjambak dan menarik kencang rambutnya disertai sumpah serapah yang keluar dari bibir pria itu.
Kali ini,setan benar-benar merasuki pikiran lelaki itu, membabi buta ia menyerang istrinya tanpa mempedulikan bahwa istrinya sedang mengandung. Suara makian dan teriakan pria itu terdengar. Warga berkumpul,melapor ke rukun tetangga serta rukun warga sekitar, dan menggerebek rumah tempat penyiksaan itu terjadi. Sedangkan Irma, secepatnya dilarikan ke igd rumah sakit terdekat.
***********
Suami mbak Irma di tahan di balai pertemuan warga tempat tinggalnya. Pak RT dan Pak RW belum dapat memutuskan apakah mereka akan menghubungi polisi atau tidak. Ini kejadian pertama. Dan para tokoh masyarakat ini sedang berembug untuk kemudian memutuskan langkah selanjutnya. Sampai keputusan diambil, mereka meninggalkan suami mbak Irma ditemani oleh 4 orang satpam yang biasa mengamankan tempat tinggal warga.
Hampir 2 jam mereka berdiskusi sampai akhirnya keputusan untuk melaporkan suami mbak Irma ke polisi diambil. Ini bukan keputusan mudah, mengingat suami mbak Irma adalah seorang preman yang bisa dengan mudah membalas perbuatan mereka yang melaporkannya. Setelah hampir satu jam menunggu, pihak berwajib datang dan membawa pria itu ke kantor polisi.
**********
Kondisi mbak Irma sangat memprihatinkan. Banyak luka lebam hampir di sekujur tubuhnya. Saat ini wanita itu sudah di pindahkan ke kamar perawat dengan ditemani tetangga dekatnya. Bergantian mereka menjaga mbak Irma.
***********
Seorang petugas polisi menghampiri sel tahanan untuk melihat keadaan salah satu tahanannya yang sakit. Terlihat keringat dingin membasahi wajah serta tubuh pria itu. Sudah satu jam ini pria tersebut muntah-muntah. Saat petugas bertanya apakah ia baik-baik saja, namun, pria itu terlihat susah berbicara dan menggerakan anggota tubuhnya. Tidak lama kemudian pria itu kejang-kejang dan kehilangan kesadaran. Beberapa petugas polisi menghubungi ambulance, namun sayang, pria tersebut meninggal di perjalanan.
**********
Dr Arka menulis laporan jenasah seorang pria tahanan polisi saat seorang petugas mengetuk pintunya. Yandri berdiri di hadapannya setelah beliau mempersilakan untuk masuk. Pria itu menyerahkan laporan otopsi kepada Yandri, dilanjutkan dengan ekspresi keheranan polisi itu membaca hasilnya.
"Tetrodotoksin?" Tanya Yandri
"Betul sekali" jawab dr Arka
"Tetrodotoksin adalah racun yang biasanya terkandung di ikan buntal. Efek yang ditimbulkannya adalah mual, muntah, kesulitan bergerak dan berbicara, lemas dan disfungsi motorik. Penyebab kematiannya adalah kerusakan syaraf dikarenakan efek racun tersebut. Ada sisa ikan buntal di saluran pencernaannya. Apakah korban penyuka makanan olahan ikan buntal?" Tanya pria tua itu.
Yandri menghela nafas.
__ADS_1
"Pria itu ditahan karena kasus kekerasan dalam rumah tangga. Para tetangganya bersaksi bahwa ia adalah preman di salah satu pasar dekat rumahnya. Ada kemungkinan ia memakan ikan itu secara tidak sengaja. Banyak penjual ikan yang menjual ikan buntal tanpa tau cara mengolahnya" jawab polisi itu
Dr Arka hanya mengangguk, setelah beberapa menit Yandri meninggalkan ruangan pria itu. Di laporan akhir, tertulis bahwa korban meninggal karena keracunan ikan buntal