Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh

Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh
Episode 24


__ADS_3

•Ayodya yang Bertubuh Amira•


Ayodya sedang bersiap untuk pergi ke sekolahnya, SMA Negeri 3. Hari ini akan diadakan penyerahan simbolis karangan bunga tanda duka cita dari pihak sekolah kepada orang tua murid yang anak-anaknya tewas dalam kecelakaan bus pariwisata.


"Acara tidak berguna...," keluhnya. Setelah memastikan sekali lagi penampilannya di kaca, ia keluar kamar dan melangkah turun menuju pintu depan.


"Sudah siap Nduk?" tanya seorang pria berumur 20-an saat melihat Ayodya.


Ayodya mengangguk dan bersiap memasuki mobil, saat seseorang dari arah rumah memanggilnya. "Nduk, sarapanlah dulu."


"Nanti saja Budhe, pulang dari sekolah," jawab Ayodya.


Sosok wanita muda yang dipanggil Budhe itupun hanya melambaikan tangannya. Mobil bergerak meninggalkan rumah dengan taman yang cukup luas.


"Bagaimana dengan tubuh baru Pakdhe?" tanya Ayodya.


Pria yang duduk di belakang setir menatapnya tersenyum dari kaca spion tengah. "Sangat ringan Nduk, Pakdhe sudah tidak merasa sakit saat berjalan. Budhe juga bilang jika ia menyukai tubuh barunya"


"Syukurlah Pakdhe. Saya pikir Pakdhe dan Budhe butuh waktu lebih lama untuk mencari tubuh baru. Saya hampir menyusul kalian ke desa," ucap Ayodya.


***


Suasana ramai menyambut kedatangan Ayodya setelah ia turun dari mobil. Di pintu gerbang sekolah terdapat banyak karangan bunga tanda belasungkawa. Tempat parkir dipenuhi oleh kendaraan para orang tua murid yang hadir untuk menerima penyerahan simbolis karangan bunga dari pihak sekolah sebagai ungkapan duka cita atas tewasnya putra-putri mereka dalam kecelakaan. Sesekali terdengar isak tangis para orang tua yang teringat akan anak-anak mereka.


Tidak lama semua berkumpul di Aula. Kepala sekolah memberikan kata sambutan dan juga ucapan duka cita yang dalam. Atmosfer kesedihan begitu kental terasa. Ayodya menjadi perhatian karena ia satu-satunya murid yang selamat dalam kecelakaan itu. Beberapa orang membicarakan tentang keberuntungannya, namun tidak sedikit juga yang melayangkan tatapan sinis.


Saat perwakilan OSIS menyebutkan satu persatu nama murid yang tewas, kericuhan mulai terjadi. Salah seorang ibu, yang anaknya tewas dalam kecelakaan tersebut menghampiri Ayodya dan menunjuk mukanya.


"Anak pembawa sial! Semua karena kamu! Kamu sialan! Kamu anak pembawa sial! Karena kamu, anak-anak kami tewas! Karena kesialan yang kamu bawa!"


Ayodya hanya diam dan menatap wanita itu lekat. Wanita tersebut salah mengartikan diamnya Ayodya sebagai rasa takut. Itu mulai membuatnya bertambah berang dan menyerang secara fisik.


Beberapa orang guru yang sigap langsung berlari menghampiri Ayodya dan wanita tersebut. Sayangnya, tamparan dan cakaran wanita itu sudah mendarat di wajah Ayodya. Beberapa murid dan orang tua lain mulai melihatnya dengan pandangan tidak suka.


"Pembawa sial..."

__ADS_1


"Anak ketan.."


"Seharusnya dia saja yang mati"


"Anak sialan!"


Bisikan-bisikan yang menyudutkan pun mulai terdengar. Ayodya menyentuh pelan pipinya yang sudah tercakar. Matanya dingin menatap para manusia yang berkerumun membicarakan dirinya.


***


"Untuk kebaikan dan kenyamanan bersama, bapak mohon pengertian ananda Amira untuk pindah ke sekolah lain" ucap kepala sekolah beberapa hari setelah kejadian penamparan oleh orang tua murid.


"Bapak banyak menerima penolakan dan ketidaksetujuan para orang tua murid jika Ananda tetap bersekolah disini. Mereka takut jika anak-anak mereka bernasib buruk"


Ayodya yang menggunakan tubuh Amira hanya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. "Baik pak, jika seperti itu keadaannya. Saya tidak punya pilihan lain selain pindah. Nanti paman saya yang akan mengurus semua syarat kepindahan sekolah."


"Terima kasih atas pengertiannya. Dan maafkan jika keputusan bapak membuat ananda kecewa," ucap kepala sekolah tidak enak hati.


Ayodya berdiri dan pamit meninggalkan ruangan.


***


Byur!


Baju Ayodya basah kuyup saat seseorang menyiramnya dengan air berwarna coklat pekat di parkiran sekolah. Ia mengenali sosok yang menyiramnya itu sebagai wanita yang menampar dan mencakar wajahnya. Pakdhe Jawir bergegas keluar dari mobil dan mendorong bahu wanita itu menjauh.


"Ada apa ini?" tanya Pakdhe


Wanita yang ditanya hanya mendelik tajam menatap Pakdhe. Ia kembali menatap ke arah Ayodya. Jari telunjuknya terangkat menunjuk wajah yang pernah ia tampar.


"Gadis itu, pembawa sial! Anakku mati karena dia! Dia membawa kesialan! Anak ketan!" lengkingnya.


"Anakku Sinta tewas karena dia! Dia anak pembawa sial!"


Satpam sekolah menghampiri dan menahan tubuh wanita itu. Ia semakin histeris saat secara tidak sengaja melihat Ayodya tersenyum sinis sesaat sebelum masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


***


Sore itu hujan turun dengan derasnya diiringi kilat dan petir. Ayodya sedang duduk menonton berita di televisi saat Budhe Dewi menghampirinya dan memberitahukan bahwa ada seorang wanita yang ingin bertemu. Dengan malas ia bangun dari sofa dan menuju ruang tamu. Wanita yang ternyata adalah ibu dari Sinta menatapnya dengan penuh amarah. Badan wanita itu basah kuyub. Dengan santai Ayodya duduk di kursi yang berhadapan langsung dengannya.


"Anak sialan! Kau sekarang senang bukan?!" wanita itu membuka suara. "Kau senang karena anakku yang selalu membully-mu telah mati! Iya kan?! Kamu pembawa sial! Anak ketan sialan! Karena kesialanmu kecelakaan itu terjadi! Kanapa kau tidak ikut mati saja?!"


Wanita itu meraung pilu dan jatuh terduduk dilantai. "Sinta adalah hartaku yang paling berharga! Karena kesialanmu, aku harus berpisah dengan putriku! Anak ketan sialan!"


Ayodya masih diam dan menatap wanita itu. Setelah beberapa lama, barulah ia membuka suara.


"Kenapa harus aku yang kau salahkan? Salahkan dirimu sendiri karena tidak meluangkan waktu untuknya. Sekarang, setelah putrimu meninggal, kau ingin melampiaskan rasa menyesalmu karena mengabaikannya, kepadaku. Apakah itu masuk akal?"


Raungan wanita itu terhenti. Matanya nyalang menatap Ayodya. Dengan cepat ia menuju ke arah gadis itu dan bermaksud mencekiknya saat seseorang memukul kepalanya keras dari belakang.


"Harus kita apakan Nduk, wanita ini?"


Keheningan tercipta sesaat sebelum terdengar suara Ayodya menjawab. "Sudah waktunya memberi makan Tuanku, Budhe...,"


***


Wanita itu siuman dalam sebuah ruangan dengan cahaya yang samar. Disekitarnya banyak terdapat bunga tabur yang biasa berada di pemakaman. Alunan lagu tradisional menyapa telinganya. Perlahan dan makin lama semakin jelas. Asap tipis membuat pandangannya tidak fokus. Ia sedang berusaha mengenali keadaan sekelilingnya saat matanya menangkap sosok wanita yang menari dengan luwesnya. Karena penasaran, ia pun mendekati sosok itu. Sosok penari yang meliukkan badannya gemulai menghipnotis wanita itu dan membuatnya ikut menari.


Ia seolah tenggelam dalam pusaran hangat yang menenangkan. Matanya yang mulai mengantuk hampir terpejam saat tiba-tiba sosok penari itu sudah berada dihadapannya. Belum sempat melihat wajah sang penari dengan jelas, sesuatu dari tubuhnya terasa sakit menusuk. Saat menunduk, ia menyadari jika tangan penari itu berada di dalam tubuhnya dan bergerak mencari sesuatu. Ketakutan dan ngeri membuatnya berteriak kencang. Hingga puncaknya, sesuatu yang berdetak dari tubuhnya direnggut paksa keluar. Ia pun ambruk dengan darah yang mengalir.


***


"Nduk, harus kita apakan tubuh itu?" tanya Budhe Dewi pada Ayodya.


"Buang saja Budhe, seperti biasa," jawab gadis itu.


Pakdhe Jawir menghampiri keduanya dan ikut membuka suara. "Sudah sulit Nduk. Gunung tempat kita membuang sisa makan Tuanku ditutup sementara waktu karena cuaca buruk. Kita tidak bisa menyamarkannya sebagai kematian yang disebabkan oleh binatang buas lagi. Mau tidak mau kita harus mencari tempat pembuangan baru."


Ayodya berpikir sejenak sebelum sebuah ide muncul dipikirannya. "Tidak perlu mencari tempat baru untuk membuang sisa tubuh yang tidak diperlukan. Mutilasi saja. Potong kecil-kecil dan masak. Khusus untuk jantung sisa makan Tuanku, pisahkan untuk kumakan mentah. Buat beberapa nasi kotak dan bagikan pada orang-orang yang kelaparan di jalanan. Mereka tidak akan banyak berpikir saat sedang lapar."


"Baik Nduk" ucap Budhe Dewi dan Pakdhe Jawir mengangguk mengerti.

__ADS_1


__ADS_2