Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh

Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh
Episode 20


__ADS_3

Ayodya Dewi Lasmi adalah nama yg diberikan sang ibu sebelum meregang nyawa karena pendarahan hebat setelah melahirkan. Ia anak perempuan tunggal dari Ki Sosrosukropilus dan Nyi Mantili. Mereka berdua bukan orang sembarangan. Keduanya dihormati karena kemampuan mereka dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit, terutama non medis. Karena hal ini pula, para penduduk desa segan dan takut jika harus berurusan dengan keluarga ini.


Ayodya terlahir di Desa Kembang Getih saat gerhana bulan merah. Konon, manusia-manusia yang lahir disaat bulan berwarna merah darah adalah manusia yang istimewa. Manusia-manusia ini diberkahi bakat yang luar biasa dalam ilmu kebatinan. Apalagi untuk Ayodya, secara kebetulan ia lahir di weton yang katanya disukai makhluk halus.


Sepeninggal sang ibu, Ayodya diurus sang nenek dari pihak ibu. Ki Sosrosukropilus sendiri lebih banyak bepergian mengunjungi berbagai macam tempat untuk menyembuhkan orang sakit atau bertapa. Nenek Ayodya pun bukan orang biasa. Ketenaran Mbah Gandari dalam hal mistis jauh lebih tinggi daripada sang menantu dan anaknya yang telah meninggal.


Dari kecil Ayodya terbiasa membantu sang nenek dengan beberapa ritual mistis. Ia sudah tidak aneh dengan aneka sesajen yang harus disiapkan saat tanggal tertentu. Terkadang, ia menemani sang nenek saat melakukan ritual. Lambat laun, gadis itu menjadi hapal dan mengerti cara merapal mantra dan urutan ritual. Salah satunya ritual Lali Jiwo.


Lali Jiwo adalah salah satu ilmu hitam yang tergolong sulit. Orang yang berilmu tinggi pun belum tentu berhasil dalam mempelajari ilmu ini. Lama dan banyaknya tahapan membuat orang yang menjalankan ritual ini berhenti di tengah jalan. Hanya beberapa yang sanggup, salah satunya Mbah Gandari. Ilmu ini dipercaya memberikan kewibawaan, kedigdayaan, kemakmuran dan keabadian untuk para pelaku yang berhasil. Imbalannya pun tidak main-main. Pelaku ritual harus menggadaikan nyawa mereka sebagai bukti kesungguhan. Mereka akan dianugerahi keabadian tanpa batas. Namun hanya jiwanya saja yang abadi. Itu artinya, setiap beberapa waktu, mereka harus mencari tubuh baru untuk dihuni dan menumbalkan jiwa asli pemilik tubuh. Begitupun Mbah Gandari. beliau sudah berkali-kali mengganti tubuh. Setiap kali mengganti tubuh, beliau akan berpindah tempat tinggal, jauh dari tempat tinggal sebelumnya untuk menghindari kecurigaan warga.


***


Ayodya remaja tumbuh sebagai sosok gadis cantik yang pendiam. Ia jarang keluar rumah dan bersosialisasi dengan tetangga. Mbah Gandari melarangnya keluar jika tidak ada hal penting yang harus diurus. Sepanjang waktu dihabiskan Ayodya dengan menari. Sang nenek yang melihat bakat cucunya tersebut mulai serius mengajarkan beberapa tarian. Sayangnya, Ayodya tidak menyadari jika yg neneknya ajarkan adalah salah satu tarian pemuja iblis untuk mendalami ilmu hitam Lali Jiwo.


Seiring berjalannya waktu Mbah Gandari secara bertahap menurunkan ilmunya tanpa Ayodya sadari. Setelah terkuasai setengah, Mbah Gandari menyuruh gadis itu untuk mengikuti sanggar tari di daerah mereka. Keluwesan tubuh, wajah cantik dan pembawaan misterius Ayodya mengantarkan ia menjadi salah satu penari yang di kagumi. Banyak undangan para pejabat pemerintahan yang ia terima. Di usianya yang ke 15 tahun, nama Ayodya Dewi Lasmi terkenal hingga ke pelosok.


***


Beberapa minggu sebelum musibah terjadi -seperti mendapat firasat-, Mbah Gandari memanggil Ayodya dan mengajarkan tarian penutup dari rangkaian ilmu Lali Jiwo. Ayodya yang selama ini mengira sang nenek sekedar mengajar tarian biasa, berlatih dengan suka cita. Tanpa ia sadari, ritual penuh sudah menyatu dengan jiwanya.


Sepulang dari undangan menari, Ayodya mengalami kecelakaan. Dokar yang membawanya terperosok ke lembah yang cukup dalam. Sang kusir meninggal di tempat dan Ayodya kehilangan kesadaran. Cukup lama sampai ada warga yang menemukannya dengan keadaan tulang tangan patah, dan sekujur tubuh penuh lebam. Warga yang mengenalinya langsung memberitahukan berita ini kepada Mbah Gandari. Warga meminta ijin untuk membawa Ayodya ke rumah mantri di desa mereka. Namun, dengan tegas Mbah Gandari menyuruh mereka agar membawa Ayodya pulang. Beliau mengatakan akan menyembuhkan cucunya sendiri.

__ADS_1


Keadaan Ayodya sangat lemah. Nafasnya terputus, dan ia harus menahan nyeri sepanjang waktu. Mbah Gandari membantunya meminum ramuan jamu untuk membantu mengatasi rasa sakit.


Sudah tiga hari Ayodya menderita dalam kesakitan, sedangkan Mbah Gandari malah terlihat sering keluar rumah meninggalkannya seorang diri.


***


Malam ini petir terdengar bersahut-sahutan. Mbah Gandari baru saja pulang. Ia datang dengan seorang gadis yang ia sebut sebagai pembantu. Saat memasuki kamar, terlihat bayangan gelap mengelilingi Ayodya. Mbah Gandari sadar, waktunya hanya sedikit. Dengan segera ia menuju ke tempat tidur dan memaksa Ayodya berjalan keluar kamar menuju ke kamar rahasianya.


Di dalam kamar, sesosok tubuh terlihat tergeletak di atas tikar. Mbah Gandari mendekati tubuh itu dan melakukan suatu hal. Ayodya yang dilanda rasa sakit luar biasa tidak dapat melihat dengan jelas. Ia menyadari bahwa di tangan neneknya terdapat gelas dari kuningan yang entah berisi apa.


Mbah Gandari bersimpuh di sebelah Ayodya. Beliau menggores telapak tangan gadis itu dengan sebilah keris kecil, menampung darah yang menetes dan memaksanya meminum cairan anyir itu. Ayodya tidak kuasa memberontak. Tenaga neneknya seolah-olah bertambah besar. Cairan pekat menuruni tenggorokan, bersatu dengan tubuhnya. Dengan cepat sang nenek melepas pakaian Ayodya dan melumurkan darah yang tersisa.


Seperti belum cukup siksaan untuk Ayodya, Mbah Gandari meminta gadis itu untuk menarikan tarian yang beliau ajarkan. Permintaan neneknya yang tidak masuk akal membuat Ayodya menggelengkan kepala. Namun, cengkraman kuat di tangan membuatnya terdiam. neneknya terus memaksa untuk menari.


Dengan nafas terputus Ayodaya mulai berdiri dan menari pelan. Rasa sakit yang menyelimuti tubuhnya bercampur dengan hawa panas yang menguar dari dalam. Kepalanya berat, dan sesuatu membuat jantungnya sakit. Ia sempat melihat Mbah Gandari merapalkan mantra yang sering ia dengar. Disaat ia sudah tidak kuat, tubuhnya limbung disertai dengan jantung yang berhenti berdetak.


***


Cahaya dari luar menyilaukan mata Ayodya. Ajaib, ia sudah tidak merasakan sakit lagi. Di sudut ruangan terlihat Mbah Gandari sedang berdiri membelakanginya.


"Nenek...," panggilnya lirih.

__ADS_1


Mbah Gandari menoleh dan tersenyum. Ia menghampiri Ayodya dan membantunya duduk. Ayodya merasa heran dengan tingkah neneknya. Ia masih mengingat jelas bagaimana kasarnya Mbah Gandari saat memintanya menari. Seolah mengerti, Mbah Gandari membantunya berdiri dan membawanya berjalan menghampiri cermin.


Ayodya luar biasa terkejut saat melihat bayangan dikaca. Itu bukan dirinya. Bayangan dalan cermin itu bukan wajahnya. Itu bukan tubuhnya. Dan seolah mengerti, Mbah Gandari mulai menjelaskan.


"Cah Ayu, maafkan nenek. Nenek terpaksa melakukan ini. Nenek tidak bisa kehilanganmu setelah sekian tahun terluka karena kehilangan ibumu dulu. Oleh karena itu, nenek menurunkan ilmu Lali Jiwo padamu...."


"Yang kita lakukan beberapa malam lalu adalah ritual Lali Jiwo. Tubuh ini adalah tubuh gadis lain, tapi jiwamu tetaplah Ayodya Dewi Lasmi. Maafkan nenek."


Mata Ayodya membola, tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya. Perasaannya campur aduk. ia merasa asing dengan dirinya sendiri.


"Aku tidak mau begini Nek... Tolong bebaskan aku," ucapnya mulai menangis.


Mbah Gandari ikut menangis dan memeluk Ayodya. Ia paham dengan perasaan gadis itu. Perasaan yang sama yang pernah dialaminya berpuluh tahun lalu.


"Jangan sedih Cah Ayu. Keabadian sudah menjadi milikmu. Kau bisa hidup selama yang kau mau, tanpa dibatasi dengan raga yang lemah. Maafkan nenek, jika nenek tidak melakukan itu mungkin kau sudah menyusul ibumu."


Tangisan Ayodya semakin keras. ia memeluk neneknya erat.


"Apa yang harus Ayodya lakukan sekarang Nek?" tanyanya.


"Pergilah dari desa ini. Pergilah jauh. Warga di sini tau jika kau sudah meninggal. Kami bahkan menguburkan tubuhmu. Pergilah yang jauh dari sini dan mulai semua dari awal. Nenek tidak bisa mendampingimu. Mulai saat ini kau harus melakukan segalanya sendiri. Besok sebelum fajar, pergilah sejauh mungkin ke arah utara dan tinggal di desa pertama yang kau temukan. Hiduplah bahagia Cah Ayu..." Mbah Gandari menangis pilu.

__ADS_1


Hampir tengah malam saat keduanya selesai membereskan barang yang akan Ayodya bawa. Mbah Gandari menemani cucunya untuk yang terakhir kali. Saat ayam berkokok, Ayodya beranjak untuk mandi, berganti pakaian dan bersiap pergi.


Pelukan terakhir Ayodya berikan pada sang nenek, karena entah kapan mereka berdua bisa kembali bertemu. Diiringi air mata Mbah Gandari, Ayodya melangkahkan kaki keluar dari halaman rumah dan menembus gelapnya jalan.


__ADS_2