![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
"Sekarang, kau adalah karakter utama dari novel yang kau baca."
"Setiap orang adalah 'karakter utama' dari cerita mereka, bukan?"
Aluna Karunasankara Amerta. Diberi nama Aluna yang artinya 'mulia.' Dan didoakan agar kelak menjadi wanita yang terhormat, terpandang, terkemuka, serta percaya diri. Sedangkan Karunasankara artinya bijaksana, dan Amerta artinya abadi atau kekal. Seperti doa dari namanya, ia tumbuh sebagai wanita yang cenderung memimpin dengan berwibawa dan selalu mencari petualangan. Sangat tertarik dengan kehidupan, memiliki sifat mandiri dan bicara apa adanya... mungkin 'Bicara apa adanya' lebih mirip tutur katanya sering kurang ajar serta tidak sopan.
Aluna secara tiba-tiba masuk ke dalam novel yang dibacanya sebelum meninggal karena tenggelam, yaitu Omniscient Reader's Viewpoint. Dengan ambisinya yang ingin bertahan hidup saat 'Apocalypse' telah tiba, dan menyelamatkan karakter utama yang sangat dicintainya, yaitu Kim Dokja. Namun, menyelamatkan Dokja tidak semudah yang dibayangkannya. Ada banyak rintangan dan pengorbanan yang harus dilalui Aluna.
Ia terlahir kembali sebagai seorang gadis keturunan konglomerat yang mempunyai darah campuran Korea-Indonesia-Hawaii (AS) bernama Yeong Dal Mi. 'Yeong' berarti pahlawan dan melambangkan kemandirian serta kebebasan, sedangkan Dal Mi artinya Tangguh. Jika arti dari masing-masing dalam digabungkan– artinya akan menjadi seperti Pahlawan yang Tangguh. Ia dilahirkan kembali dengan wajah yang hampir sama persis dengan dirinya semasa di dunia nyata; mata yang agak sayu tetapi nampak tajam dan alisnya yang lurus tegas. Siapa saja yang menatapnya pasti akan terhipnotis, dan berkata"...Cantik."
Hidung mancung, bibir berisi yang berwarna merah muda... wajahnya mulus dan terpahat dengan sempurna.
**
Suasana kelas kala itu sangat suram, sebab.. mata pelajaran hari ini adalah... Matematika Umum. Percaya atau tidak, hampir sekelas tidak bisa Matematika, bahkan dasarnya sekalipun. Guru yang mengajar di kelasku sampai bingung mau mengajar dengan cara apalagi, kelihatannya beliau sudah sangat tertekan.
__ADS_1
Bell istirahat akhirnya berbunyi. Semua siswa-siswi meninggalkan kelas dan segera menuju ke kantin, mengistirahatkan otak mereka dari pelajaran yang membikin otak meledak. Begitu juga denganku.
"Ah.. akhirnya, ya Tuhan. Aku bahkan tidak mengerti apa yang diucapkan oleh guru itu." Ujarku sambil memegangi kepalaku seolah akan lepas.
"Dan luar biasanya lagi, kau bisa menjadi peringkat pertama di kelas ini ya, Aluna." Areum– salah satu anak terpopuler di sekolah menyahut ucapanku dengan tiba-tiba membuatku agak terkejut. Aku hanya tersenyum mendengarnya, memang benar. Tapi, lagi pula kemampuan tiap orang beda-beda, kan.
Saat ingin meninggalkan ruang kelas dan segera menuju ke kantin mengambil jatah makan siangku, aku mendengar suara riuh dari kelas sebelah. Sontak langkah kakiku terhenti, berusaha mengintip dari ujung pintu yang sedikit terbuka.
Mataku membelalak saat melihat ke dalam. Aku melihat salah satu kejadian yang akan menjadi trauma Kim Dokja nantinya, yaitu penindasan.
Dokja dipukuli hingga ujung bibirnya berdarah. Belum lagi mereka sekelas, pasti dia mendapat perlakuan seperti ini setiap harinya.
"Hei, otaku! Kau sungguhan membaca hal konyol semacam ini? Tiga cara.. apa? AHAHAH!" Minwoo tertawa terbahak-bahak sambil melihat-lihat isi ponsel Dokja.
__ADS_1
Oh, sungguh. Tawanya membuatku jengkel. Kenapa selalu saja ada b*jing*n macam Minwoo bahkan di dunia ini, sih.
Sebelum Minwoo melanjutkan aksinya yang pastinya jauh lebih patah, aku segera merekam dan memfoto kejadian ini untuk bukti. Aku dengan sengaja mengaktifkan flash light agar mereka sadar akan keberadaanku.
CEKREK!
"Siapa di situ?!" Teriak Minwoo terkejut, kulihat matanya membelalak saat aku membuka pintu lebar-lebar dan menampakkan diriku lalu tersenyum penuh makna.
"Kau sudah tahu siapa aku, Minwoo Song? Kau tahu resiko dari tindakanmu jika aku sebarkan rekaman ini?" Ujarku to the point sambil melambaikan ponselku ke arahnya.
Aku sedikit terkekeh, mulai menakut-nakuti mereka dengan berlagak seperti akan menekan tombol 'kirim vidio' jika mereka tidak melepaskan Kim Dokja.
Ya... bagaimanapun, ini cuman ancaman. Tapi bodohnya mereka menganggapku serius.
Sebelum aku berhasil melanjutkan ucapanku, Minwoo Song dengan para cecunguk itu hampir saja berhasil merampas ponsel genggamku. Aku yang kaget bukan main langsung menendang sekuat tenaga bagian uluh hati dan 'bagian intim' mereka. Aku tahu, itu adalah bagian terlemah dari seorang pria yang benar-benar kuat.
__ADS_1