Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]

Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]
BAB 11. "Pemeran Utama." [1]


__ADS_3

"Kita harus segera keluar dari sini, kalau tidak kita akan mati sebelum skenario kedua dimulai." Kata Dokja kepada Hyunsung. "Aluna, dan Sangah, kalian keluar duluan." Alisku mengkerut, menatap Dokja dengan tatapan tajamku.


"Tidak. Aku bisa menghadapi ini bahkan sendirian." Sahutku dengan percaya diri. Ya, berkat skill dan koinku mudah saja aku melawan 'dia.'


"Aluna...! Dia bertahan hidup dengan membunuh orang-orang!" Dokja menatapku dengan cemas. Dokja tahu, jika aku sudah sekali membuat keputusan maka keputusan itu mutlak dan tidak bisa diganggu-gugat.


"Aku tahu, Dokja. Aku sudah tahu."


"Aku tidak ingin kau kenapa-napa, Aluna. Aku tidak ingin kau ikut campur." Ujarnya seakan-akan dia sanggup melawan sendiri siapa yang ada di luar gerbong tersebut tanpa sedikit luka.


"Apakah ekspresiku ini tidak mengatakan hal yang sama?" Aku kini mulai membuka isi koperku. Ku temukan sepatu boots hitam dan sebuah ikat pinggang. Aku dengan tergesah-gesah mengambil sepatu bootsku lalu memakainya.


Aku mendekati pintu besi kereta yang semakin lama semakin tidak kuat menahan gempuran orang yang berada di luar sana.


"Aluna! Dengarkan aku dulu!" Dokja menahanku pergi, aku dengan lembut menyingkirkan tangannya. Aku tidak menjawab apa-apa dan hanya menatapnya.


"Sudahlah, mari kita cari jalan keluar!" Myungoh yang tidak sabar mendengar argumen kedua kekasih bucin ini pun segera mengalihkan perhatian.


"Kita harus keluar dari sini.."


Dokja kemudian menatap pintu besi itu dengan berat hati.


"Kalau gitu kita harus menahannya!"


Teriak Myungoh kemudian memanggil Hyunsung untuk membantunya.


"Hentikan, Hyunsung. Itu sia-sia. Yang harus kita lakukan adalah melawan orang yang akan tiba di sini!" Aku berteriak dan menyadarkan mereka. Mereka hanya menatapku tak bergeming, seperti takut akan sesuatu.


Aku mendekati pintu yang semakin lama semakin mau terjebol, aku mengaktifkan semua skillku, menggunakan koinku untuk menaikkan stamina, strenght, dan speed-ku sampai koinku hampir habis. Lawanku adalah karakter yang kuat, jadi, aku tidak bisa meremehkan situasi kali ini.


[Koin tersimpan 12.400 C.]


Aku menatap sisa koinku. Aku harus menggunakannya secara bijak agar aku masih bisa menggunakannya di waktu genting.


[Anda menggunakan 5.000 koin untuk menaikkan strenght anda.]


[Anda telah menggunakan 1.000 koin untuk menaikkan speed anda.]


[Anda menggunakan 2.000 untuk menaikkan stamina anda.]


[Koin Anda tersisa 4.400 C.]

__ADS_1


Kulihat Dokja dan Hyunsung sedang merencanakan sesuatu. Lalu kulihat Hyunsung mulai menarik nafas panjang, kulihat tatapannya penuh tekad. Otot bisep Hyunsung membesar begitu dia mencengkram ujung pintu di hadapannya. Secara menakjubkannya pintu besi yang tebal itu kemudian terbuka.


"B-Berhasil! Ini betulan terbuka!" Ujar Hyunsung antusias.


"Ayo cepat lari!"


Hyunsung menggendong Gilyoung, Sangah dan Myungoh mulai berlari keluar meninggalkan aku dan Dokja yang masih berada dalam kereta.


"Aluna.. tunggu apalagi?" Dokja kemudian menarik pergelangan tanganku untuk ikut serta dengannya.


"Tidak. Kau lupa apa kata Dokkaebi itu? Jangan kemana-mana." Aku menghela nafasku lalu menatap ke arah pintu kereta yang terus ditendang.


"Jika kau terus ingin lari dari sesuatu yang nanti pasti kau akan hadapi, mendingan kau tinggalkan aku sendiri di sini."


"Aluna..." Dokja menaruh kedua tangannya pada pundakku.


[Skenario kedua dimulai.]


BRUUUAAKKK.


Dia datang.



Kategori: Sub.


Tingkat Kesulitan: E.


Syarat Ketuntasan: Menyebrangi jembatan yang putus dan masuk ke Stasiun Oksu.


Batas Waktu: 20 menit.


Hadiah: 200 koin.


Jika gagal: ???


"Aku tidak peduli." Setelah mengatakannya dengan senyuman licik miliknya, Dokja lalu menggendongku bagai menggotong sebuah karung beras lalu membawaku berlari ke jembatan. Sama sekali tidak memperdulikan kalau skenario kedua telah dimulai atau apalah resikonya.


"Kim Dokja! S*al, lepaskan aku!"


Aku masih bisa melihat kereta yang tadinya kita tumpangi dengan khawatir.

__ADS_1


Tak lama setelahnya aku mendengar suara Ichthyosaurus mengerang. Aku ingat, dialah yang memutuskan jembatan antara kami dengan Stasiun Oksu. Dokja bukannya menjauh atau memilih jalur lainnya yang lebih aman. Ia malah menyuruh sisa orang yang selamat untuk berlari sebelum jembatannya dirusak.


Dokja berlari sekuat tenaganya dengan keadaannya yang masih menggendongku. Jembatannya belum sempat roboh karena kita keluar dari kereta terlalu cepat. Dokkaebi itu mengatakan kalau persiapannya memakan waktu 10 menit, tetapi kita keluar tiga menit lebih awal. Mungkin ada yang beranggapan kalau ini curang... memang sih. Tapi kalau kita tidak memakai cara seperti ini, skenario ini tidak akan bisa diselesaikan tanpa mengambil jalan pintas.


Belum sempat kami sampai dengan selamat ke Stasiun Oksu. Dokkaebi itu sudah muncul di atas kepala Dokja.


"Tidak seru, kan, kalau skenarionya jadi mudah seperti ini?" si Dokkaebi tersenyun licik memandang Dokja.


"Ah, benar. Mari kita naikkan kesulitannya!"


[Tingkat kesulitan skenario telah diubah.]


[Tingkat kesulitan skenario: E –> D.]


Suara gelak tawa si Dokkaebi pun terdengar.


[Pikiran jahat orang mati telah kembali, sekitar bumi dengan elemen kegelapan.]


"E-Eh... Zombie?" Sangah mengok kaget ke arah belakang kami.


Mayat yang menyerupai Zombie berlarian ke arah kami dalam jumlah yang besar. Beberapa di antaranya adalah mayat orang-orang yang tadinya berasal dari gerbong kereta kami. Beruntungnya, Hyunsung dan Gilyoung telah sampai ke stasiun Oksu. Sedangkan Sangah, Myungoh, Dokja dan aku masih berada di jembatan sungai Han dengan Dokja yang masih setia menggendongku.


Aku beberapa kali memberontak memintanya untuk menurunkanku dengan alasan aku bisa berlari sendiri. Tetapi dia tidak merespon apa-apa dan terus fokus berlari ke arah jembatan stasiun Oksu yang masih terhubung.


Dokja secara tiba-tiba meminta maaf kepadaku lalu melemparkanku ke arah Hyunsung.


"Hyunsung Lee! Awas, tangkap!"


Terlambat sudah.


"KIM DOKJA!!!"


KAAAAARK!!!


Kaki penyangga jembatannya berguncang hebat saat si Ichtyosaurus itu berhasil menggerogoti penyangga jembatan dengan mulut raksasa dan taringnya yang tajam.


Sisiknya yang berkilau itu terlihat dari balik awan debu yang kini tengah menyelimuti sungai Han. Aroma amis darah tercium, air laut yang menyengat mulai menusuk hidungku.


Mataku mencoba melihat ke arah sekitar meski samar-samar. Mataku terasa sangat perih, penglihatanku jadi agak buram karena terkena debu.


Aku dengan setengah mati mencoba naik lewat sisa ujung jembatan.

__ADS_1


__ADS_2