![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
Sebelum aku berhasil melanjutkan ucapanku, Minwoo Song dengan para cecunguk itu hampir saja berhasil merampas ponsel genggamku. Aku yang kaget bukan main langsung menendang sekuat tenaga bagian uluh hati dan 'bagian intim' mereka. Aku tahu, itu adalah bagian terlemah dari seorang pria yang benar-benar kuat.
DUAKHHHH!!!
Dokja yang melihat itu hanya bisa memandangiku dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan, 'ngeri.' Walau begitu, tatapannya matanya seperti tidak bisa ia alihkan dariku.
AKHHH! DUG. DUAKH!!!
Suara hantaman dan teriakan kesakitan terdengar begitu keras. Tentu saja karena aku menyerang pada bagian vital mereka. Tenagaku sejak masih kecil memang tidak bisa diremehkan, belum lagi aku selalu menyerang bagian titik vital lawan.
Alasanku selalu menyerang di bagian vital lawan bukan karena aku seorang pengecut, tapi agar pertarungan berjalan lebih cepat. Aku paling tidak suka bertarung, atau melihat pertarungan dan hanya akan bertarung jika dibutuhkan atau aku sendiri yang menginginkannya.
"Akhhh... b*ngs*t kau!!" Umpat Minwoo sembari memegangi bagian uluh hatinya. Aku menatapnya penuh makna kemudian tersenyum miring.
"Kalau kau berani mengganggu dia lagi, akan ku pastikan mayatmu di kubur depan sekolah." Ucapku penuh penekanan.
"Kau sendiri tahu, kan... keluargaku adalah orang yang paling berkuasa di sini?"
Dengan berembel-embel membawa kata 'kekuasaan,' kalimat yang aku lontarkan pun berhasil membuat mereka berlari terbirit-birit menyisakanku dan Dokja sudah yang babak belur. Hah, dasar preman kelas teri, badan besar, nyali seuprit.
Aku melihat Dokja masih tak bergeming, aku yang menyadari itu langsung mengulurkan tanganku padanya.
"Kau... bisa berdiri? Mau aku bantu?" Ujarku mengulurkan tanganku dan tersenyum hangat, yang nampaknya berhasil membuat Dokja sedikit tersipu melupakan dark side-ku.
"Terima kasih tapi, aku bisa berdiri sendiri." Ia berterima kasih lalu menolakku secara halus.
"Omong-omong, siapa namamu?" Tanyaku basa-basi sambil sedikit mendekatkan wajahku– tidak, ini sangat dekat. Hidung kami nyaris bersentuhan saking dekatnya. Dokja sontak menjaga jaraknya dariku.
"...Kim Dokja." Ujarnya gugup dengan wajah memerah seperti tomat yang siap dipetik.
__ADS_1
Tuhan, aku ingin berteriak.
Aku jarang sekali, bahkan tidak pernah mendapati seorang Kim Dokja tersipu malu karena seorang wanita yang baru saja dia temui? Benarkah? Apakah aku pengecualian bagi seorang Kim Dokja?
"Dan kau?" Pertanyaan Dokja menyadarkan lamunanku.
"A-Aku Aluna– Ah, nama koreaku... Yeong Dal Mi." Jawabku kini agak gugup.
"Aluna... Dari keluarga Amerta itu, ya?" Tanyanya terkejut.
"Bagaimana kau bisa tahu? Iya, aku anak dari keluarga Amerta. Anak tunggal Michael Serafin Amerta."
Seperti yang sudah dijelaskan, keluargaku di dunia sekarang adalah keluarga konglomerat. Keluargaku mempunyai banyak cabang perusahaan maupun bisnis– mulai dari komputer, makanan, minuman, brand pakaian, toko swalayan dan masih banyak lagi. Yang mungkin jika dijumlahkan total kekayaannya bisa mencapai lebih dari 1 abad jika dihitung, bahkan dari zaman mesir kuno pun tidak ada habisnya. Tentunya, ada banyak rahasia yang belum bisa aku kupas dibalik kekayaan mereka (keluargaku) yang tiada habisnya ini. Selain mencurigakan, ini juga sangat menarik.
Dokja terdiam, bingung mau membalasku bagaimana.
"Kim Dokja, ya.." Ujarku penuh dengan arti, kemudian Dokja menatapku saat aku mulai menyebut namanya.
"Tahu dari mana?" Aku bisa melihat Dokja membelalakkan matanya.
Aku mengacuhkannya dan segera melanjutkan ucapanku. "..Dokja artinya Anak Tunggal yang dihormati, suatu saat nanti kau pasti akan menjadi orang berharga, berjasa dan yang paling dihormati, Dokja!" Aku kembali tersenyum hingga memperlihatkan gigi putih bersihku. Wajahnya kini kembali berwarna merah tomat. Sesaat, Dokja menatapku dalam-dalam lalu tersenyum. Tanpa ragu aku menatap matanya balik. Kulihat di matanya ada seperca harapan dan cahaya.
"Oh ya, Dokja. Obati dulu luka-lukamu lalu istirahatlah bersamaku! Setelah itu, aku akan mengajukan surat permintaan agar Minwoo dikeluarkan, dan kau dipulangkan agar lekas sembuh." Kataku dengan sigap menanggapi penindasan yang dilakukan oleh Minwoo Song.
"Tidak usah." Ujarnya tegas.
"Kau meremehkanku? Jangan khawatir, aku akan–"
"Tidak. Kita baru saja kenal dan kau melakukan hal merepotkan ini untuk orang yang baru saja kau kenal sepuluh menit lalu?" Dokja memotong ucapanku. Ekspresi wajahnya terlihat tidak nyaman denganku. Walaupun ucapannya seperti itu, mungkin karena telah berpikir dia merepotkanku.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." Ujarku penuh pasrah memilih untuk tidak ingin berdebat panjang.
"Aku tidak akan mengeluarkan mereka. Namun, jika mereka kembali menganggumu lagi, kumohon beri tahu aku." Dokja mengangguk-angguk paham. Aku kemudian mengenggam tangannya dan membawanya ke UKS. Dokja sedikit terkejut lalu lagi-lagi kembali tersipu malu saat aku menggenggam tangannya.
Aku yang melihat itu pun tersenyum jahil.
**
Saat tiba di kantin, semua orang menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki saat melihatku berjalan menggenggam tangan Dokja. Aku reflek makin mengeratkan genggamanku padanya.
"Apa yang salah? Apa aku dan Dokja terlalu cocok menjadi pasangan suami-istri?" Pikirku keheranan.
Sesampainya di UKS aku segera mengambil kotak P3K dan obat pereda nyeri lalu mengobati Dokja dengan penuh hati-hati. Membebat lukanya, lalu memberikan obat pereda nyeri karena kulihat ada sedikit bagian tubuhnya yang memar.
"Nah, beres. Istirahatkan dulu tubuhmu." Aku membereskan kotak P3K dan mengembalikannya ke dalam lemari.
"Dal Mi.. tadi, semua orang melihat kita dengan tatapan aneh." Dokja berbicara dengan gugup.
"Hah? Kata siapa?"
"Tidak ada, h-hanya saja.." Wajah Dokja mulai memerah, gelisah, seperti ingin mengatakan sesuatu namun ditahannya.
"Ada apa. Katakan saja." Ujarku mulai tidak sabaran.
"Dal Mi, kau adalah gadis yang cantik dan sempurna. Tapi kau malah berjalan di samping orang sepertiku." Ujarnya dengan tatapannya yang melihat ke arah bawah, enggan menatap mataku karena malu. Aku tertawa terbahak-bahak, Dokja kebingungan. Aku tidak bisa menahan gelak tawaku.
"Ahahahah.. Kim Dokja, kau sungguh sama indahnya.." Aku menghentikan tawaku dan mengusap air mata karena tertawaku. "Saat Tuhan memahat wajahmu, munhkin kau diberikan bubuk dari surga. Kemudian, saat Tuhan memahat matamu, Tuhan menambahkan permata hitam ke dalamnya. Menjadikan itu kombinasi paling sempurna.
"..Salah satu makhluk sempurna yang dibuat-Nya, itu adalah kau."
__ADS_1
Dokja terdiam, wajahnya memerah sempurna bagai udang rebus. Terlalu malu untuk mengatakan sesuatu bahkan satu kalimat sekalipun. Aku hanya tersenyum puas melihat pemandangan indah ini.