Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]

Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]
BAB 6. "Bertahan."


__ADS_3

Aku akhirnya memilih fokus untuk menyelesaikan tujuan utamaku saat ini yaitu mengamankan serangga milik anak laki-laki bertopi yang tadi. Aku menghampiri bocah tersebut, kembali menyapanya dan menanyakan apa jawaban bocah itu.


"Ini kak! Tapi akan kakak apakan serangga ini?" Tanya bocah laki-laki itu menatapku dengan tatapan bingung.


"...Kamu sudah lihat misinya tadi?" Jawabku sambil sedikit berbisik kepadanya.


"Ya, sudah..? Kita disuruh membunuh lebih dari satu makhluk hidup, bukan?"


"Tepat sekali! Sekarang, coba kamu sebutkan apa yang tergolong makhluk hidup."


"Manusia, hewan, tumbuhan, serangga--" Anak laki-laki itu kemudian nampak sadar akan rencanaku saat mengucapkan kata "Serangga."


Dia lumayan pintar. Ujarku dalam hati.


Beberapa saat kemudian entah kenapa suasana kembali menjadi sangat ricuh setelah mereka menatap layar ponsel mereka. Dokja segera mencariku karena tahu situasi akan memburuk.


Misi pertama kembali muncul untuk mengingatkan orang-orang.


[PEMBUKTIAN NILAI.]


BUNUH LEBIH DARI SATU MAKHLUK HIDUP.


KATEGORI: UTAMA.


BATAS WAKTU: 30 MENIT.


HADIAH: 300 KOIN.


JIKA GAGAL: MATI.


Aku memegangi tangan Gilyoung, lalu berbisik lagi ke telinganya, "Kita.. akan diburu oleh orang-orang itu. Bunuhlah satu serangga itu dan sisakan beberapa untuk orang yang kau pilih."


"Aku menyuruhmu hanya membunuh satu karena serangga itu bertelur pada musim dingin." Gilyoung menatapku dan mengangguk-angguk mantap, aku seperti dejavu akan sesuatu.


"Aluna!" Teriak Dokja dan Sangah yang ikutan berlari menghampiriku dengan anak laki-laki bertopi yang membawa serangga tadi, Gilyoung namanya.


"Dokja.. apa tidak seharusnya kita menghentikan mereka?" Ujar Sangah khawatir.


Aku menatap ke arah Sangah lalu berkata, "Tidak perlu, lagi pula mereka tidak akan mengerti, Sangah. Percayalah padaku, mereka sudah terlanjur mempercayai apa yang mereka percaya untuk bertahan hidup.


"Dan jika kita berusaha menyadarkan mereka, suasana hanya akan menjadi makin kacau." Ujarku pada Sangah, berharap dia akan mengerti pada situasi ini.


Perhatian kami berempat teralihkan oleh suara remaja laki-laki dengan rambut acak-acakan yang dicat putih, kulihat dia masih mengenakan seragam sekolahnya. Sepetinya baru pulang sekolah.

__ADS_1


"Sial*n dasar nenek tua bangka, bisa gak sih berhenti ngerintih-rintih. Suaramu tuh bikin mood ku tambah jelek tau tidak!"


Remaja laki-laki itu adalah seorang murid yang sejak awal selalu bersandar di pintu masuk kereta. Tubuhnya kurus, dan seperti yang ku bilang tadi.. rambutnya dicat putih acak-acakan. Namanya tertera jelas di atas badge seragam sekolahnya...


Kim Namwoon, itu namanya.


Ah, aku mulai ingat lagi dengan ceritanya sekarang.


Kim Namwoon yang semakin kesal itu kini mencengkram kerah baju nenek itu. Kaki si nenek yang lemah hanya bisa bergetar.


Namwoon kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi siap untuk menampar nenek itu...


Aku segera berlari ke Namwoon dan meraih tangannya, aku berusaha menghentikan aksinya tersebut.


Aku mengerutkan alisku, mengumpulkan segenap tenaga untuk meludah ke arah mukanya.


HUEKJUH!


"Beraninya jangan sama nenek-nenek, dong!" Bentakku keras-keras sambil berusaha sekuat tenaga mencengkeram tangan milik Namwoon. Kuperas tangannya hingga sedikit dari kuku-ku perlahan mulai masuk ke dalam dagingnya.


"AKH! LEPASIN, SI*L!" Bentak balik Namwoon tak mau kalah kerasnya dengan bentakanku. Aku mulai melepas kasar cengkeramanku dan Namwoon mulai melepaskan nenek itu.


"Apa sih j*l*ng satu ini!"


"Coba saja." Aku dengan berani menantang Namwoon.


"Hei, hei!! Sudah hentikan!" Ujar Han Myungoh menengahi kami. Lagi-lagi aku merasa dejavu dengan scene ini.


"Hoi... Bocah ini, tidak ada sopan santun sama sekali terhadap yang lebih tua!"


"Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun?!" Marah Myungoh kepada Namwoon, Namwoon lalu tertawa dan kembali mengumpati Myungoh. Aku mengacuhkan perdebatan diantara Han Myungoh dan Kim Namwoon itu, memfokuskan diriku untuk membantu nenek yang menjadi korban aniaya itu berdiri.


"Nek, sini biar aku bantu berdiri."


"Uhuk- uhuk! Terima kasih.. gadis cantik." Nenek itu meraih tanganku, aku membantunya untuk berdiri lalu duduk. Memberikannya sebotol air minum agar dia sedikit tenang, aku meraba isi tas milikku lalu menemukan syal putih yang sempat kubawa lalu aku lilitkan ke leher nenek itu.


Nenek itu berterima kasih kepadaku karena telah menyelamatkannya, aku membalasnya dengan tersenyum lalu membungkuk kepada nenek itu untuk menunjukkan rasa hormatku kepada yang lebih tua.


Kulihat dari kejauhan Dokja, Gilyoung Sangah dan Hyunsung berlari menghampiriku setelah aku selesai membungkuk kepada nenek itu. Dokja segera memelukku saat melihat aku, dia menciumi keningku berkali-kali. Aku bisa melihat kalau raut wajahnya nampak khawatir sekali kepadaku, walau aku tidak tergores sedikitpun. Belum.


"Kenapa kau suka melakukan tindakan yang beresiko?!"


"..Aku khawatir kau akan kenapa-napa." Ujar Dokja masih dengan keadaan memelukku, aku menepuk-nepuk punggungnya lalu berusaha melepaskan pelukan. Tidak enak kalau banyak orang melihat seperti ini.

__ADS_1


"Kau juga tidak jauh bedanya denganku." Balasku lagi-lagi tersenyum. Dokja tak habis pikir denganku.


"Oh iya, Gilyoung.. kau sudah membunuh beberapa serangganya?" Tanyaku kepada anak laki-laki bertopi yang bernama Gilyoung.


"Sudah, aku mendapatkan koin sebagai imbalan, kak! Ini sisanya.." Tunjuk Gilyoung kenapaku yang juga disaksikan oleh Sangah dan Dokja.


Sangah dan Hyunsung nampak terkejut, sepertinya mereka sudah paham dengan apa maksud rencanaku tanpa aku jelaskan sekalipun. Lalu Dokja tidak menampakan ekspresi apa-apa, sepertinya dia sudah punya akal sebelumnya dengan serangga itu.


Dan.. Aku sudah menyangka Gilyoung akan memberikan sekotak serangga itu kepadaku, aku mengelus-elus kepala Gilyoung.


Aku pun tanpa basa-basi langsung mengambil dua serangga dan membunuhnya.


Aku lalu memberikan serangga itu kepada Dokja, berharap dia tidak akan melakukan sesuatu yang aneh lagi karena nenek itu sudah aku selamatkan. Jadi kupikir situasi sudah aman terkendali.


Namun, tidak ku sangka...


BOOMM!!!


Suara ledakan mengguncang seluruh kereta, orang-orang pun kembali panik dan berteriak. Api berkobaran di mana-mana, Dokja menggenggam tanganku dan Gilyoung, kulihat Dokja melemparkan kotak serangga yang sebelumnya aku berikan untuknya lalu ia berpidato yang cukup panjang di hadapan orang-orang itu, menyadarkan bahwa ucapan si Dokkaebi adalah "membunuh lebih dari satu makhluk hidup." sedangkan makhluk hidup yang dia maksud bukan hanya manusia, melainkan serangga, hewan dan tumbuhan juga termasuk. Orang-orang itu kemudian mulai mengerubungi serangga yang dilemparkan oleh Dokja.


Dia.. mengacaukan rencanaku.


"C-Cepat berikan padaku! Cepat!!"


"Cukup satu, hanya satu!"


Aku memundurkan langkahku karena aku sedang membawa Gilyoung bersamaku. Ia memeluk kakiku, menatap segerombolan orang itu yang terlihat seperti orang gila, demi bertahan hidup. Aku meraih tangan Dokja memberikan kode agar menjauh dari sana, namun terhenti karena Namwoon.


"Partner in Crime, ya?" Namwoon mengejekku seperti tidak tahu kapok setelah diludahi olehku.


"Jujur saja lah.. kalian juga menginginkan pemandangan mengerikan ini, kan?!"


Aku hanya memandangnya datar dan berusaha diam tak membalas ucapan si si*lan itu. Begitu juga dengan Dokja.


[Karakter Kim Namwoon memiliki kesan yang sangat baik terhadapmu].


"Hmmm.. jika dilihat-lihat dari dekat seperti ini... pacarmu cantik juga, Om." Kim Namwoon mendekatiku, mengacuhkan Dokja yang berada di depannya.


Ekspresi Dokja berubah seketika. Ia seperti ingin segera menonjok Namwoon sampai mampus.


"Ayo bergabunglah denganku. Mau tidak?" Namwoon kini sedang menawarkan dirinya kepadaku. Masih mengacuhkan Dokja yang terlihat sudah siap untuk menonjoknya.


Aku seakan menjabat tangan Namwoon seperti menyetujui tawarannya, namun setelah itu meremas lagi tangannya sampai membiru. Dia menjerit histeris membuat Gilyoung reflek menutup kedua telinganya.

__ADS_1


__ADS_2