Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]

Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]
BAB 10. "Dia?"


__ADS_3

Ah, waktunya hampir habis. Aku harus segera memilih sponsorku. Namun sampai saat ini aku masih kebingungan ingin memilih siapa.


"Dokja, aku harus memilih siapa.." Aku bergumam kecil sambil meraih jari Dokja seperti anak hilang yang kebingungan mencari ibunya.


"Hmm.. Ada berapa konstelasi yang memilihmu?" Tanyanya kepadaku.


"Ah.. enam?"


Ekspresi Dokja seperti mengatakan 'Eh?'


"Nampaknya kau sangat beruntung, Aluna."


"Tapi, aku menyarankanmu untuk jangan dulu memilih konstelasi, ada satu cara untuk bisa bertambah kuat tanpa bantuan Konstelasi. Cara yang mungkin bisa membuatmu jadi lebih kuat dari inkarnasi dengan sponsor terkuat sekalipun." Aku mengangguk paham. Baru kali ini aku mendengar Dokja memberikan jawaban isi kepalanya tanpa ada 'sedikit' bumbu kebohongan pada orang lain.


Namun.. diam-diam aku sudah membuat keputusan. Aku tidak akan mengikuti apa yang dikatakan Dokja, aku akan memilih konstelasi pendukungku sendiri. Walau aku tahu aku akan menjadi 'Boneka' mereka setelahnya, tapi aku yakin bahwa aku sudah memilih pilihan yang tepat.


Maaf, Kim Dokja. Sesekali mungkin aku akan mengkhianatimu.


[Waktu pemilihan tersisa 1 menit lagi.]


Aku akan memilih opsi terakhir, yaitu... konstelasi Oldest Dream.


Aku bukan memilihnya hanya karena rasa tertarikku padanya, tapi juga karena aku akan memiliki banyak keuntungan kalau aku memilihnya sebagai sponsorku. Kalau saja aku memilih Oldest Dream sebagai sponsorku, aku akan memiliki 'Stigma Regresi' yang digunakan si Protagonis. Aku bisa ber-regresi berkali-kali jika rencanaku utamaku gagal, aku bisa terus kembali ke waktu sebelumnya.


Sebelum aku memencet opsi itu di window-ku, telah muncul sebuah notifikasi yang membuatku ingin menjerit.


[Pemilihan sponsor telah berakhir.]


"...." Aku mengumpat dalam diam.


Walaupun aku melewatkan kesempatan berharga ini, aku tidak akan terlalu memikirkannya. Sebab masih ada kesempatan untuk memilih sponsor lagi meski waktunya masih lama. Dan lagi, konstelasi pendukung tidak terlalu penting.


[Beberapa konstelasi bintang kecewa berat denganmu.]


Aku hanya diam sembari memejamkan mata saat melihat notifikasi terus bermunculan di window-ku.


[Konstelasi Judge of Evil mengharapkan lebih darimu.]


[Konstelasi Abyssal Black Flame Dragon berdecak kesal dengan pilihan bodohmu.]

__ADS_1


[Konstelasi Demonic Judge of Fire merasa kecewa padamu.]


Ini tidak mengejutkan bagiku, aku sudah menduga kalau ini akan terjadi jika aku tidak memilih konstelasiku. Sama seperti Dokja. Mungkin saat ini ada lebih banyak notifikasi di Window miliknya.


"Oh.. ahahah? Ada sepasang kekasih yang memilih opsi menarik rupanya." Si Dokkaebi menyindirku dengan Dokja.


"Wah-wah.. tapi tenang saja, masih ada kesempatan lagi. Kalau begitu, semua sudah memilih, kan. Silahkan istirahat di sini. Aku harus pergi menyiapkan skenario berikutnya. Sampai jumpa 10 menit lagi!"


Dokkaebi itu kemudian menghilang di udara. Waktu 10 menit sekarang adalah waktu yang sangat berharga bagi kita, seperti istilah 'Waktu adalah Emas.'


Dokja secara tiba-tiba menggenggam tanganku, ia mulai mengaitkan jari-jemarinya dengan jari-jemariku. Bibirnya membuat senyum simpul, matanya nampak tertutup saat tersenyum padaku yang membuatku ingin menciumnya saat itu juga. Tapi tidak jadi karena ada anak kecil di sini.


Mataku melihat ke arah Gilyoung yang sedang menatapku bingung. Aku hanya bergedek-gedek seperti mengatakan 'tidak. Tidak ada apa-apa.'


[Konstelasi Lord of the Abyss tertarik dengan hubungan anda dengan karakter 'Kim Dokja.']


[200 koin diberikan sebagai sponsor kepada anda dan karakter 'Kim Dokja.']


Aku menatap datar pada notifikasi itu dan mengacuhkannya. Bingung akan meresponnya bagaimana karena konstelasi yang memberikab sponsornya padaku tadi adalah reinkarnasi... Gilyoung Lee.


Dokja kemudian membuka mulutnya dan meminta semua orang berkumpul. Para orang selamat di sekitarku pun segera melingkariku dengannya. Orang pertama yang mengulurkan tangannya kepada Dokja adalah Hyunsung Lee. Dia mulai memperkenalkan dirinya pada Dokja. Saat mereka sedang sibuk mengobrol mencari cara keluar dari kereta dan selamat, aku malah nyantai sambil melihat-lihat skillku. Sesekali aku terkagum-kagum dengan skill yang kumiliki.


Aku sudah mendapatkan dua skill dalam satu skenario. Dokja benar, aku beruntung pada skenario kali ini. Aku harap aku juga beruntung pada skenario selanjutnya.


"Ahahah, karyawan kontrak kita sudah melakukan hal besar, ya." Myungoh mendadak menepuk pundak Dokja.


"Iya, aku tahu, Myungoh Han." Sahut Dokja kemudian menepis tangan Myungoh dengan kasar.


"Wah. Kau tidak bisa memanggilku seperti itu dong. Kau harusnya panggil aku Ketua Divisi! Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun?"


"Gelar seperti itu tidak ada gunanya dalam dunia kita yang sekarang, wahai Pak Kepala Divisi yang terhormat. Jadi, mohon tutup mulut sampahmu itu rapat-rapat." Aku menatap galak pada Myungoh.


"Hah.. lihat! Kau ini siapa, asal nyelonong masuk obrolan kami?!"


"Lalu kau, Kim Dokja! Bagaimana kau akan masuk ke kantor nantinya, apa kau tidak ingin bekerja lagi, Dokja?! Aku pasti akan mengadukan seluruh kelakuanmu kepada Bossmu!" Ujarnya yang malah mencengkeram kerah bajuku.


"Lepaskan! Any*ng!" Ujarku sengaja menggunakan bahasa yang tidak dimengertinya agar Myungoh tidak paham dengan apa yang aku ucapkan.


Baru saja aku ingin menghajar Han Myungoh karena sudah sangat kesal, tiba-tiba Dokja membuka mulutnya.

__ADS_1


"Myungoh, tutup mulutmu! Kau ngomongin soal sopan santun, tapi kau tak punya sopan santun sama sekali."


"Lalu, ini bukan kantor. Jadi aku tidak punya hubungan atau urusan apa-apa denganmu. Dan apa kau masih belum memahami situasi ini juga? Apa kau perlu dihajar anak b*jing*n br*ngsek tadi baru kau akan diam?" Balas Dokja menepis kasar tangan Myungoh. Dia langsung melepaskan cengkeramannya dari kerah bajuku.


Myungoh yang tadinya marah kini jadi membeku di tempat, kulihat wajahnya menjadi pucat pasi.


Sangah menghampiriku, menawariku untuk sedikit menjauh dari jarak mereka dan duduk sejenak. Aku menolak tawarannya.


"Perlakuanku mungkin kurang sopan, pak. Tapi kalian harus mulai sadar kalau ini bukan mimpi. Buka mata kalian lebar-lebar kalau Ini bukan mimpi, semua perkataan Dokkaebi itu sungguhan." Aku diam sebentar menatap sisa orang yang selamat kemudian melanjutkan ucapanku, "...Mau gelar, prestasi, berapa banyak lembar uang yang kalian dapatkan semasa di dunia yang dulu sia-sia sekarang. Jadi berpikir rasional ah. Mungkin, kelihatannya saja kita seperti sedang terjebak dalam game RPG bergenre simulasi-survival. Tapi nyatanya apa? Ini sungguhan dan bukan mimpi, kan. Kita baru saja memulai dunia baru kita."


"Dan perkataanku ini bukan hanya aku tujukkan pada Han Myungoh. Tapi juga kalian semua yang mendengarkanku. Paham sekarang situasi ini seperti apa?"


Hyunsung menatap mataku lalu menghela nafasnya, sedang berusaha menerima kenyataan, mungkin.


"..Ya, Aluna. Aku paham. Ini kenyataan."


"Setidaknya kalian pasti sudah bisa menduga situasi macam apa yang kita alami ini. Skill Eksklusif, Atribut Window, tampilan yang seperti game. Jadi.. apakah ada yang memang masih belum paham?" Dokja kini membuka mulutnya.


Tidak ada yang menyaut atau mengangkat tangan.


"Baiklah. Berarti semua disini paham dengan situasi kita sekarang, ya." Aku kemudian tersenyum puas lalu kembali menggandeng tangan Gilyoung.


[Kepercayaan karakter 'Hyunsung Lee' dan 'Sangah Yoo' padamu bertambah.]


"Sekarang... kita harus keluar dari sini." Ucapku dan Dokja secara bersamaan, kami kemudian menatap satu sama lain dan tertawa.


Myungoh kembali membuka mulutnya. Dia tidak ingin keluar dan mengambil resiko. Begitu juga Sangah yang mulai memprotes. Mereka ingin tetap berada di dalam sarangnya layaknya seorang anak burung penakut yang tidak ingin belajar terbang. Namun, akhirnya setelah adu argumen yang sedikit panjang mereka pun memutuskan untuk ikut keluar.


Baru saja kami ingin keluar menyusuri kota, namun tiba-tiba terdengar suara dari pintu, pintu itu seperti ditendang oleh kekuatan yang sangat kuat dari luar.


BRUKK! BRUUK!


Jantungku bergejolak kaget, semangatku mulai membara namun saat kulihat tanganku... aku berkeringat dingin. Aku langsung mengaktifkan skill yang bisa membuat rasa ketakutanku berkurang.


Ah, benar... si Protagonis akan muncul setelah ini.


Satu-satunya orang dari gerbong #3707 yang selamat, dia adalah...


BRUAK!

__ADS_1


__ADS_2