Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]

Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]
BAB 21.


__ADS_3

Notifikasi itu memberi tahu kalau mulai sekarang penyimpanan makanan akan dibatasi dan makanan yang sebelumnya kita simpan akan menghilang begitu saja karena efek dari 'Penalti Skenario.'


Orang-orang semakin kebingungan saat Dokkaebi itu menghilang begitu saja setelah memberikan mereka skenario menyulitkan ini tanpa memberikan intruksi apa-apa.


Aku menaruh jari telunjukku pada daguku, sejenak aku menatap kosong pada window-ku, melihat-lihat notifikasi yang ada.


[Mulai sekarang, setiap malam 100 koin akan diambil secara otomatis sebagai 'Biaya Hidup.'


Jika anda tidak dapat membayar 'Biaya Hidup,' maka Anda akan mati.]


[Penalti 'Biaya Hidup' akan berlangsung hingga skenario utama kedua telah selesai.]


"Haha... Ngomongin soal biaya hidup, aku jadi nostalgia masa-masa aku masih di asrama kampus." Celetuk Hyunsung lalu tertawa datar padaku.


"Aku ingat, kau jadi sering minta hotspot ke aku dengan alasan mau menghemat biaya."


"Ahahah. Kau masih ingat saja, ya? Padahal sudah agak lama. Aluna kalau masalah kerugian matanya jadi sangat jeli ya..." Hyunsung sekarang malah menggodaku sambil sedikit cekikikan. Aku memukul kuat bagian punggungnya sampai berbunyi saking kuatnya pukulanku.


"Aduh, ampun! Tapi kau, kan memang pelit."


"Hey, kau ini–"


"Sudah selesai bermesra-mesraannya?" Dokja mendadak memegang tanganku sambil menatap datar ke arah Hyunsung dan membawaku menjauh darinya.


[Konstelasi Secretive Plotter tak habis pikir dengan 'Kecemburuan' karakter 'Dokja Kim'.]


Hyunsung langsung terdiam saat melihat reaksi Dokja yang tidak menyenangkan, ekspresinya berubah total. Aku bisa merasakan ekspresi Hyunsung yang merasa bersalah.


Langkah kaki Dokja yang terhentak keras seperti anak kecil yang marah karena tidak dibelikan permen oleh ibunya memenuhi lorong yang kini aku lewati.


"Ah... Dokja Kim! Dal Mi!" Suara Yoo Sangah yang bergema memenuhi pendengaranku. Dia melambaikan tangannya, namun, kali ini kulihat ekspresi Sangah menjadi makin muram.

__ADS_1


"Dokja... bagaimana–"


"Kita akan memburu monster di rel kereta." Ujar Dokja secara datar dan langsung ke intinya tanpa basa-basi lagi, seolah sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Sangah.


Heewon kini melihat Dokja dengan ekspresi tak percaya, seperti ingin protes, tapi ya mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa terus berada di zona nyaman.


***


Setelah beberapa menit mempersiapkan peralatan dan juga mental, aku pun turun menyusuri rel kereta bersama dengan beberapa orang pinggiran berada di depan terowongan yang menuju stasiun Yaksu.


"Apa anggota grup kami bisa ikut kalian?" Tanya Cheon Inho melihat kami semua yang turun ke rel kereta.


Dan anggota yang dimaksudnya adalah Han Myungoh sendiri, aku tentu menyetujui hal itu jika hanya seorang Myungoh, kurasa tidak terlalu menambah beban walau agak berisik.


Baru beberapa langkah dari stasiun Geumho, Myungoh sudah berteriak ketakutan karena melihat mayat-mayat yang berada tak jauh dari stasiun Geumho.



"A-AAH!! Mayat!" Teriaknya ketakutan lalu segera menyuruh Sangah untuk memegang tangannya dan menyuruh Sangah tidak panik, padahal nyatanya dia yang panik sendiri.


Sangah melepaskan cengkeraman tangan Myungoh padanya secara perlahan kemudian melanjutkan langkah kakinya dengan bebas, yang sebelumnya terberatkan oleh Myungoh.


"Daripada itu, Heewon apa kau benar-benar pulih? Aku agak khawatir padamu." Kata Hyunsung pada Heewon yang kini berada di sebelahku.


"Ini sih gampang. Tapi, aku lebih khawatir dengan Gilyoung yang masih kecil..."


"Sepertinya kalian sudah lupa kalau dunia uang kita tinggali beberapa minggu yang lalu kini sudah berubah. Wanita dan anak kecil yang dianggap lemah kini bisa saja berubah, karena siapa saja bisa menjadi kuat dengan meningkatkan stat, dan level kekuatan mereka." Celetuk Dokja yang tiba-tiba ikut masuk dalam obrolan, dibalas jempol olehku.


"Contohnya adalah... ah, Gilyoung. Perlihatkan."


Gilyoung pun maju ke depan, dia sempat menatapku ragu tapi kemudian akhirnya berjongkok dan meletakkan kedua tangannya di bawah aspal. Heewon dan Hyunsung yang melihatnya pun membelalak saat gerombolan kecoak mulai berdatangan.

__ADS_1


"AAAHH KECOAK!!" Teriak Myungoh yang kini panik duluan.


"Astaga, apa itu?"


Kecoak-kecoak itu muncul dan terhubung dengan jari-jari milik Gilyoung dalam garis hijau tipis.


[Lee Gilyoung mengaktifkan skill 'Diverse Communication.]


Seolah tahu dan mengerti apa yang Gilyoung katakan, para kecoak itu kemudian kembali ke tempat mereka dan menghilang.


"Ini adalah atributku, [Insect Collector]. Aku bisa bicara dengan para serangga." Jelas Gilyoung pada mereka semua.


"Omong-omong sepertinya bukan hanya mayat manusia yang bertebaran, ya?" Tanya Heewon yang mulai mual karena mencium mau darah yang menyengat di mana-mana


"Jalanannya tidak jelas karena gelap, sepertinya ada penghalang yang menutupi."


Beberapa saat setelah Sangah berkata seperti itu, kami pun melangkah ke zona skenario utama kedua. Secara mendadak, kembali muncullah notifikasi skenario di window kami semua.


TRING!!!


[Sub Skenario baru telah tiba.]


[Sub Skenario – Dapatkan Makanan.]


Kategori: Sub


Tingkat kesulitan: E


Syarat Penyelesaian: Buru Langsung Monster Yang Bisa Dijadikan Makanan dan Memasak mereka


Batas Waktu: Tidak Ada

__ADS_1


Hadiah: 500 Koin


Jika Gagal: ???


__ADS_2