![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
"Di sana! Orang itu...!"
Mataku menyipit saat melihat sinar senter yang menyinari pandanganku. Alisku mengkerut mengetahui kalau mereka ternyata adalah orang-orang yang sekelas sama preman pasar kelas teri.
"Siapa kau?" Tanya salah seorang yang terlihat seperti bos mereka.
"Dokja Kim."
Dokja sekarang sok gagah dan mulai berbicara layaknya seorang preman pasar.
Si Boss preman tadi yang melontarkan pertanyaannya kepada Dokja kini malah marah-marah.
Sekejap ekspresi marahnya itu berubah saat melihatku. Preman tadi mengalihkan perhatiannya yang semula fokus dengan kehadiran Dokja, dia melangkahkan kakinya mendekatiku.
"Hey. Siapa gadis cantik yang kau bawa ini? Adikmu, ya?"
Kali ini dia lebih dekat denganku. Dan senter pria itu kemudian menyorot bagian dadaku seakan sedang melecehkanku. Aku yang menyadarinya sedikit berlindung di balik tubuh milik Dokja.
Si Preman malah mengacuhkan keberadaan Dokja yang berada di depannya, kali ini dia berniat menyentuh bagian pinggulku.
"NAJIS! LEPASIN–"
Sebelum dia sempat menyentuh bagian tubuhku dengan sontak makin menjaga jarak.
Kini emosiku mulai meledak-ledak, kukepalkan tanganku yang bersiap untuk memukul bagian jantungnya. Namun belum sempat aku memukul Si preman, sudah ada Dokja yang berdiri di balik Preman tadi dengan aura membunuh.
Dan dengan keras, dilintirnya lengan milik Si Preman yang tadinya berniat menggrepe-grepeku.
"Jaga jarakmu, aku ini pacarnya, br*ngsek."
Dokja yang tadinya terlihat santai-santai saja kini wajahnya berubah menjadi agak merah karena tersulut emosi. Tatapannya dingin dan tajam menyorot pada preman yang ternyata bernama Cheolsu. Dokja lalu tersenyum miring.
Cheolsu Si Preman brengs*k yang tadi jaraknya sangat dekat denganku langsung menjauh, seperti mangsa kecil yang mengetahui ada predator di dekatnya.
Kulihat dia merasa agak was-was dengan keberadaan Dokja.
"Loh, wanita itukan dari grup yang diasingkan, kan? Bukannya dia kembali bersama kalian?" Celetuk salah satu pria yang terlihat seperti bawahan Cheolsu, sembari menunjuk ke arah Jung Heewon.
__ADS_1
Ekspresi Jung Heewon kini menjadi sangat gugup, kulihat keringat mulai bercucuran dari pelipis kepalanya.
"E-Em... saya.."
Wajah Cheolsu menjadi kesal, dia menatap tak suka saat bawahannya tiba-tiba menyorot Heewon.
Seperti tidak tahu kapok, Cheolsu kini mengalihkan topik dan mengajakku dan Dokja untuk bergabung dengannya, tetapi dengan syarat menyerahkan Heewon. Entahlah apa yang akan mereka lakukan pada Heewon jika aku tidak menolak mereka secara mentah-mentah. Aku pura-pura tenang meski dalam hatiku dag dig dug ser mengetahui kalau tindakanku inilah yang akan menjadi pemancing bahaya.
Cheolsu yang mendengarku menolak ajakannya secara mentah-mentah merasa malu yang teramat sangat. Tak lama kemudian, Cheolsu memanggil seluruh cecunguknya dan mau mengusirku dengan Dokja. Tetapi Dokja segera menghajar para bajingan-bajingan itu dengan brutal.
"B*ngsat, kau berani juga, ya."
"Kau baru menyadarinya?" Balas Dokja narsis.
Dokja lagi-lagi mulai bertingkah sok gagah di depanku, dia juga seperti sedang memamerkan otot-otot dan kekuatannya padaku saat tengah menghajar para bawahan Cheolsu. Padahal dia hanya menghajar mereka dengan menggunakan pipa besi saja.
Aku berpura-pura tidak melihat itu, dan hanya fokus pada Heewon saja. Aku memperkenalkan diriku pada Heewon, tak lupa menyebutkan nama asliku– Aluna.
"Sepertinya kau sudah tahu namaku, Dal Mi." Ucapnya dengan suara agak serak lalu sedikit tersenyum padaku.
Heewon memilih untuk memanggilku sebagai Dal Mi karena dia baru saja mengenalku.
***
Aku lagi-lagi melihat ada luka di beberapa bagian telapak tangannya. Aku hanya menghela nafas karena lelah dengan sifat bandel milik Kim Dokja yang sudah tertanam sejak dulu.
Aku kembali membopong tubuh Heewon menuju ke bawah tanah tepatnya, bawah stasiun Geumho. Orang-orang yang berada di sana langsung peka saat melihat ada banyak orang yang terluka dan segera mengobati luka-luka mereka, siapa lagi kalau bukan Dokja lah penyebabnya.
Aku menyerahkanHeewon kepada salah satu wanita yang terlihat ramah di sana. Aku rasa, aku bisa mempercayainya untuk saat ini, jadi aku pun menyerahkan Heewon padanya.
Di tengah keramaian orang-orang yang sedang sibuk, aku mendapati surai coklat terang milik Yoo Sangah.
"Astaga... Dal Mi! Dokja Kim!" Raut wajahnya terlihat sangat khawatir saat melihat diriku, terlebih lagi saat melihat Dokja.
Yoo Sangah berlari kecil menghampiri kami, disusul dengan Hyunsung yang menyambutku.
Aku merentangkan kedua tanganku kepada anak laki-laki yang kini tengah berlari kencang ke arahku dan memelukku.
__ADS_1
Dokja yang melihat momenku dan Gilyoung ini lalu tersenyum dan mengelus-elus surai coklat kehitaman miliknya itu, aku kemudian merogoh isi jaketku dan kuberikan sebatang coklat dan susu kotak padanya.
Hyunsung menghampiriku, dia menanyakan sedikit berbasa-basi denganku. Rupanya dia ingin menyampaikan permintaan maafnya karena sudah meninggalkan Dokja dan tak sempat menangkap tubuhku saat Dokja melemparkan tubuhku kepadanya.
Dokja tertawa gugup mengingatnya, yang kemudian dibalas tatapan tajam olehku.
"Ahahah... tidak apa-apa. Situasinya kan terpaksa." Ujarnya menggaruk bagian belakang lehernya yang tak gatal.
"Betul! Lagian kan Dokja emang sedikit bodoh, mau melemparkanku dari jarak sejauh itu. Jadi tidak usah minta maaf!" Aku berbicara dengan nada sedikit keras dan memaki Dokja secara tidak langsung. Dokja tetap mengeluarkan senyum menjengkelkannya.
Dokja mencolek lenganku kemudian berbisik, dia ingin membicarakan sesuatu denganku, belum sempat mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya tiba-tiba sekelompok orang datang menghampiri kami. Kulihat di sana ada Han Myungoh yang membawa segerombolan pria bertubuh besar yang membawa pipa besi, dia lalu menunjuk lantang ke arah Dokja.
Myungoh menatapku dan Dokja ketakutan.
"S-Singkirkan dia! Dia adalah orang yang sangat jahat! Ah, wanita yang memakai jaket hitam itu juga!"
Tatapanku berubah total menjadi orang yang habis lose streak.
Belum sempat aku mengucapkan sumpah serapahku padanya, nampak seorang pria yang lumayan tinggi bersurai rambut coklat agak terang. Pria itu segera menghentikan aksi Myungoh yang ingin memporak-porandakan situasi masyarakat. Langkah pria itu mulai mendekati kami, sekarang dia malah tersenyum licik.
"Ah.. kau orang yang dibicarakan 'dia' itu, ya? Senang bertemu denganmu. Boleh aku tahu namamu siapa, cantik?" Dia mengedipkan sebelah matanya padaku, aku membalasnya dengan wajah jijik seperti ingin muntah.
"Kim Dokja." Dia menyela saat aku hendak berbicara, Dokja lalu mendekat ke arah pria tersebut.
"Dokja ya rupanya... baiklah, walau bukan kau orang yang aku kasih pertanyaan. Namaku Inho Cheon."
Aku dengan malas memutar bola mataku, menatapnya benci. "Aku tidak bertanya, tidak butuh informasi darimu, tidak peduli dengan siapa kau atau.. halah apalah itu."
"Ahahah kau berani juga ya?"
"Omong-omong, aku sudah mendengar kalau kau dan Dokja-ssi sudah bertarung dengan monster demi menyelamatkan anggota grup kami..."
Cheon Inho mendadak mengeraskan nada bicaranya. Dia memberitahukan informasi yang tidak-tidak pada orang-orang yang berada di stasiun bawah tanah kala itu; kalau aku akan membagikan makanan untuk mereka.
Satu persatu orang mulai berdatangan pada kami. Seketika kami dikerubungi oleh banyak orang bagai sesendok gula pasir yang berada di dalam toples berisi banyak semut kelaparan. Mata hanya tertuju pada satu objek, yaitu kresek penuh makanan yang dibawa oleh Dokja.
"Selamat datang di stasiun Geumho, kalian berdua."
__ADS_1
Cheon Inho kini menunjukkan senyuman ramahnya padaku, yang sekarang terasa lebih menjengkelkan dari sebelumnya.