![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
Aku membawa Dokja meninggalkan UKS dan dengan terburu-buru melangkahkan kakiku menuju ke kantin untuk mengambil jatah makan siang. Ini sudah agak telat, jadi aku khawatir bel istirahat akan segera berakhir dan aku tidak sempat untuk istirahat.
Sesampainya di kantin, aku lagi-lagi melihat semua orang yang lagi-lagi menatapku dengan tatapan yang 'aneh.' Mereka menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu menatap pria yang kini tengah kugandeng, yaitu Kim Dokja. Tak lama setelahnya, mereka berbisik-bisik samar yang masih terdengar olehku.
Saat sedang mencari meja kosong, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan dari meja bagian paling depan yang kedengaramnya sedang membicarakanku.
"Siapa anak laki-laki bertampang menyedihkan di samping Dal Mi itu... Pacarnya, ya?"
"Eh~ kau tahu tidak, kalau Aaron murid tampan pindahan dari Swiss... yang ternyata pintar itu naksir dengan Dal Mi, lho! Tapi anehnya dia malah memilih laki-laki di sampingnya itu."
"Seleranya ternyata rendahan ya."
Aku mengerutkan alisku hingga hampir menyatu menjadi satu, lalu melepaskan genggaman tanganku dari Dokja. Dengan sangat kesal aku hampiri orang yang membicarakanku dengan lantang tadi.
__ADS_1
Saat kulihat wajahnya... rupanya dia adalah Yeo Bareum, kakak dari Yeo Areum, teman sekelasku.
"Jaga mulut sampahmu itu, Yeo Bareum. Jangan asal nyerocos. Apa perlu, mulutmu itu aku selotip agar diam?"
Aku memandang Bareum sinis dan memegang dagunya. "Mohon urus hidupmu dulu, baru urus hidup orang lain. Hidupmu saja belum tentu terurus benar malah sok-sokan." Aku tersenyum manis kepadanya– yang mungkin terkesan sarkas.
Kulihat Bareum diam seribu bahasa, mungkin merasa malu setelah harga dirinya kuinjak-injak.
Semua orang yang tadinya memperhatikanku dengan tatapan aneh kini kembali dengan urusan mereka masing-masing dan tidak lagi memperdulikan ku dan Dokja. Begitu juga dengan Bareum beserta gengnya, mereka dengan cepat menghabiskan makan siang mereka dan segera meninggalkan kantin.
"Dokja! Sebaiknya kita makan di sana saja, tempatnya bersih dan dekat dengan jendela. Anginnya pasti sangat sejuk. Cepat, segera ambil nampanmu." Dokja mengangguk-angguk mantap padaku.
Setelah mengambil jatah makan siangku, aku langsung menghabiskan makananku dengan lahap. Dokja terkekeh saat melihat ada noda di bibirku. Aku lalu mengambil tisu dan menyodorkannya pada Dokja.
__ADS_1
"Nih, lap-in." Ujarku padanya tanpa sedikit ragu. Dokja terdiam sebentar, lalu mengambil tisu yang aku berikan tadi. Dengan lembut dia bersihkan noda yang ada di bibirku. Sekilas, aku bisa melihat tangannya gemetar karena gugup.
***
Singkatnya, setelah istirahat berakhir aku meminta kepada guru agar aku dan Dokja satu kelas. Agar aku bisa melihat perkembangan dari Kim Dokja jika ada aku di sampingnya.
Aku mulai mengajarkannya mata pelajaran yang kurang dia mengerti, mengajaknya bermain sepulang sekolah, karaoke, belajar bersama, bercerita tentang masalah kita... Aku bahkan mengenalkan Dokja kepada orang tuaku. Orang tuaku sempai mengira aku ingin nikah muda karena aku yang sering bermasalah dengan pria bahkan tidak pernah akrab dengan lawan jenisku, kini tiba-tiba membawa seorang pria ke rumah dan memperkenalkannya pada orang tuaku.
Perkembangan dari sikap Dokja mulai terlihat secara perlahan-lahan, waktu di mana dia seharusnya melakukan percobaan bunuh diri kini tidak terjadi. Dokja pun mulai menunjukkan ketertarikannya pada sejarah korea dan dunia sastra. Aku sudah menduga dia akan tertarik pada sejarah dan sastra. Karena pada novelnya, Dokja nampak tahu banyak tentang sejarah korea.
Aku tidak akan pernah membiarkan Dokja merasa kesepian ataupun sendirian. Aku juga selalu mengingatkan Dokja kalau kita dilahirkan untuk bertahan hidup, apapun keadaannya, kita harus tetap bertahan.
"Jika semesta tidak membutuhkanmu, maka kau tidak mungkin berada di sini."
__ADS_1
Kehidupan Kim Dokja sudah sangat sengsara sejak ayahnya meninggal, ibunya dipenjara, dirinya ditindas lalu melakukan percobaan bunuh diri. Kumohon, cukup itu saja penderitaannya. Jangan ditambah lagi.