![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
Usaha Kim Dokja melemparkanku kepada Hyunsung gagal karena aku sengaja menggelindingkan tubuhku sebelum sampai pada Hyunsung. Aku tahu, walau aku selamat di tengah jembatan, aku akan tetap mati ditelan Ichthyosaurus.
Begitu debu dari jembatannya menghilang, pemandangan yang menyambutku pun nampak. Kulihat tumpukan batu-bata dan besi dari sisa jembatan bergeletak. Tubuh manusia iblis yang tadi hidup kini terpotong dan terbelah menjadi beberapa bagian, tergeletak setelah menjadi mangsa Ichthyosaurus.
Dokja melihatku dari ujung jembatan, ia berlari menghampiriku. Lagi dan lagi mencoba untuk membantuku, ia menawariku tangannya untuk berpegangan, akan tetapi aku menepisnya.
Aku berhasil naik tanpa bantuannya. Aku menatap Dokja dengan tatapan tajamku.
"Aluna-"
"Diam." Aku tidak marah pada Dokja karena tubuhku dilempar dan aku hampir saja sakaratul maut, tidak. Aku hanya membenci saat dia mengorbankan dirinya hanya untuk menyelamatkan orang-orang di sekitarnya.
**
Mataku mendapati Hyunsung dan Gilyoung tampak sedang berteriak dari sebrang jembatan sana. Aku menatap santai ke arah mereka dan melambai-lambai seperti orang yang ingin berpisah.
Mereka berteriak lagi, tapi suara mereka tidak terdengar sampai ke sini. Sepertinya karena ada penghalang di antara zona aman.
Sebuah notifikasi kembali muncul.
[Seseorang telah mendapatkan belas kasihan dari seorang Konstelasi.]
[Skenario 'Deus Ex Machina' dari Konstelasi telah diaktifkan.]
[Deus Ex Machina – Jembatan Genap]
Deskripsi: Jembatan cahaya yang dibuat oleh seorang konstelasi. Hanya orang dengan jumlah genap yang dapat menyebrangi jembatan tersebut. Begitu jumlah orang yang menyebrang ganjil, jembatan ini akan segera menghilang.
Ah, aku baru ingat kalau 'sponsor' Yoo Sangah adalah konstelasi yang sangat hebat.
Dokja terdiam membeku menatap Sangah. Ekspresinya mempertanyakan segala hal. Ya wajar saja, kejadian seperti ini sangat jarang dalam novel [tiga cara untuk bertahan hidup setelah dunia hancur].
Sangah tiba-tiba berteriak ke arah Dokja. Tangan kanan Sangah menunjuk ke arah belakangnya.
"Dokja! Di belakangmu!"
Dokja sontak menundukkan kepalanya lalu melihat ke arah belakang.
Ada manusia iblis yang ingin menyerangnya... Dan manusia iblis itu adalah Kim Namwoon.
"Aluna, Sangah...!! Cepat–"
__ADS_1
Myungoh terlihat sudah membawa Sangah kabur menyebrangi jembatan cahaya meninggalkan aku dan Dokja. Mimik wajah Dokja nampak sangat kesal. Aku menepuk bahunya mengisyaratkan untuk segera kabur ke arah jembatan, akan tetapi ia menolakku mentah-mentah.
"Kau ingin melawan Majin ini sampai sekarat?!"
"..." Dokja hanya diam seribu bahasa, sama sekali tak meresponku.
Manusia iblis dengan jumlah banyak mulai mengerubungi kami.
Aku tanpa berkata apa-apa lagi langsung memegang satu-satu kepala manusia iblis lalu membenturkannya satu sama lain. Ku lakukan itu berulang-ulang sampai kurasa jumlah manusia iblis sedikit berkurang dan memungkinkanku untuk melarikan diri.
DUUUGG!
"Kim Dokja bod*h!" Aku menggandeng erat-erat tangannya melewati para manusia iblis tersebut. Sesekali, jika ada yang jaraknya sangat dekat aku akan menendangnya.
Sayang sekali, nampaknya usaha kami sia-sia. Aku dan Dokja kini terpojok. Aku menatap ke arah Dokja, ia menatapku balik. Sepertinya Dokja juga sudah mencapai batasnya. Manusia iblis makin tak terkendali, belum lagi disertai jumlahnya semakin menggila waktu ke waktu.
Samar-samar aku melihat melihat siluet seorang pria yang tinggi. Dia memakai mantel panjang berwarna hitam, tatapannya tajam, alisnya menekuk tajam ke bawah. Manusia iblis itu pun kini mulai menyadari situasi dan berbalik ke arah belakangnya.
BLAARRR...! CRAASSS.
Suara ledakan dan sengatan listrik pun mengiringi langkahnya. Pria itu menghabisi semua manusia iblis yang ada di sekitarku. Kekuatannya sangat luar biasa meski tanpa menggunakan senjata apapun. Dia melawan para manusia iblis itu hanya dengan menggunakan tangan kosong.
Dia... Yoo Joonghyuk. Karakter utama novel [tiga cara untuk bertahan hidup setelah dunia hancur]. Dan salah satu karakter yang paling– paling sangat aku benci pada awal cerita. Kesan pertamaku terhadapnya adalah dia orang yang melakukan hal sesuai egonya sendiri dan gegabah.
GREP!
"..Siapa kau?" Tangannya yang kuat itu ia arahkan ke leher Dokja. Ia kemudian mulai mencekiknya. Suaranya begitu rendah dan serak.
Aku menatap benci ke arahnya. Sejak dari awal aku membaca novelnya. Joonghyuk.. Dia adalah orang yang terlalu mementingkan egonya sendiri, tidak berperasaan, terlalu mengutamakan logika dan terlalu 'berpikir realistis.'
Aku jelas sangat marah saat melihatnya mencekik leher Dokja sampai-sampai ia meringis kesakitan. Untunglah aku sedang mengaktifkan skill yang bisa membuatku sedikit tenang. Jika tidak mungkin sudah aku jambak rambutnya sampai botak!
"Oh. Seperti inikah caramu berkenalan dengan orang baru, Joonghyuk Yoo?"
Mata Joonghyuk membelalak terkejut saat mendengar aku menyebutkan namanya. Kini ia mengalihkan perhatiannya padaku. Tangannya semakin kuat mencekik leher Dokja.
'Si b*ngs*t ini...!'
"Siapa namamu, bagaimana kau bisa mengetahuiku?"
"Lepaskan dia dulu baru aku akan beri tahu namaku."
__ADS_1
Bukannya melonggarkan tangannya pada leher Dokja, dia malah makin kuat mencekiknya. Sialan Yoo Joonghyuk ini nampaknya sangat temperamen.
"Jawabanmu!" Joonghyuk kini mengeraskan suaranya padaku, dia terlihat marah. Ya, mau tidak mau harus ku jawab jika ingin aman.
"Yeong Dal Mi."
Dia terdiam sebentar, sebelum mimik wajahnya menjadi makin menjengkelkan. Dia memperhatikan wajahku dan pakaianku lalu berkata,
"Kau nampaknya bukan dari Korea."
"Nama orang ini?" Joonghyuk kini menanyakan nama orang yang dia cekik. Aku dengan malas memutar bola mataku di hadapannya.
"Tanyakan sendiri saja pada orangnya."
Joonghyuk langsung mencekikku dengan tangannya yang satunya. Leherku terasa seperti dihantam oleh palu lalu diinjak oleh dosenku yang galak dan mirip monyet. Aku merasa mual begitu hebat hanya gara-gara b*jing*n ini.
Dalam benakku tiba-tiba muncul sesuatu. Ini terdengar konyol. Tetapi, kami terlihat seperti ayam yang akan dimasukkan ke dalam kuali yang mendidih. Aku sedikit tertawa saat membayangkannya. Yoo Joonghyuk sebagai chef, aku dan Kim Dokja sebagai ayam yang dipegangnya pada kedua tangannya.
"Pffftt–"
"Apa yang lucu." Joonghyuk menatapku tajam. Aku dengan cepat bergedek-gedek. Tatapannya seperti pisau dapur ibuku sehabis diasah, tajam. Sangat tajam sehingga bisa menusuk siapa saja yang menatapnya.
"Aku ulangi, siapa namamu." Tatapannya kini mengarah ke Dokja.
"Kim Dokja."
"Nama yang aneh." Kata Joonghyuk mengejeknya.
"Aku sudah sering mendengarnya."
"Badanmu lumayan kuat. Apa kamu sudah bisa memakai koin?"
"Aku baru saja ingin menanyakan hal yang sama kepadamu."
SREK, DUGH!
Joonghyuk mendadak melemparku ke aspal dengan keras, kemudian tangannya yang satunya digunakan untuk memukul perut Dokja. Dokja terlihat berusaha sekuat tenaga untuk menahan erangannya.
Aku meringis kesakitan saat Joonghyuk melemparku. Bagian tangan dan lututku tergores cukup kuat.
"Aluna...!"
__ADS_1