![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
Notifikasi pun mulai bermunculan dari para konstelasi yang sedang melihat momen ini. Ada yang antusias, kesal, juga ada yang penasaran dengan rencana selanjutnya yang telahku persiapkan untuk menghadapi cecunguk-cecunguk kampr*t itu.
Terkadang 'bahaya' sebenarnya bukan berasal dari monster-monster yang mempunyai level yang sangat tinggi, atau bahkan bencana dahsyat di duniaku kali ini. Bukan. 'Bahaya' yang sebenarnya bisa berasal dari manusia dengan ucapan yang keluar dari mulut mereka yang dengan sekejap bisa menghasut dan memanipulasi pola pikir orang disekitarnya, menjadikan mereka sebagai boneka miliknya.
Selama setengah hari aku bersama Dokja hanya keliling melihat-lihat keadaan di bawah stasiun Geumho ini. Seperti tempat-tempat yang habis dilanda kiamat pada umumnya, hampir hancur lebur tak tersisa. Aku melihat mesin otomatis yang menjual minuman dan makanan telah rusak, kacanya pecah dan isinya telah kosong.
Kelihatan kalau para cecunguk itu sudah mengambil isinya dan menjualnya ke orang-orang dengan koin sebagai alat bayarnya.
"Total orang yang ada di stasiun Geumho kini ada 88 orang... kalau termasuk Aluna dan Dokja berarti sekarang ada 90 orang."
Berkat Hyunsung yang membantuku memberitahu informasi yang diketahuinya saat tengah melihat-lihat stasiun Geumho, aku jadi tahu perkembangan alur cerita pada dunia ini... nampaknya, jumlah orang yang selamat sedikit bertambah dari 87 kini menjadi 90 orang. Apa kehadiranku segitunya berpengaruh?
"Yang selamat hanya orang-orang di sekitar stasiun waktu skenario muncul, dan orang-orang yang ada di dalam kereta saja, seperti kita ini. Walaupun tidak ada yang mengatakan, tapi mungkin semua orang di skenario pertama saat ini terbagi atas 'Grup Utama' dan 'Grup Terasingkan."
Aku mengangguk mendengar penjelasan yang cukup panjang dari Hyunsung.
Kemudian kumiringkan sedikit kepalaku selama beberapa detik, kutaruh jadi telunjukku pada dagu, alisku mengkerut dan poseku seperti orang yang sedang berpikir keras.
Secara samar bibirku mulai mengeluarkan hal yang aneh. "Memangsa atau dimangsa, ya..."
"Ah...?" Dokja menatapku dengan tatapan bingung.
Begitupun dengan Hyunsung yang mendengar suara lirihku tadi menatapku keheranan, tak jadi melanjutkan penjelasannya.
Kini, aku mencoba melirik ke arah orang-orang yang sedang berkumpul, membentuk suatu kelompok. Mereka rupanya juga bisa tertawa di tengah-tengah situasi seperti ini. Telingaku pun secara sengaja mendengar obrolan mereka, kudengar mereka sedang memuji-muji Han Myungoh si putra bungsu dari grup... Hankyung atau apalah itu.
"Kata-kata kak Myungoh benar, semuanya, jangan kehilangan harapan. Masih ada kami yang akan memimpin kalian mengantar kalian untuk menggapai mimpi baru kalian!" Ujar Cheon Inho merangkul pundak Myungoh.
Aku agak kasian pada mereka yang mendengar ucapan sampah dari Cheon Inho. Dengan embel-embelnya yang akan menjaga sisa orang yang ada dalam stasiun Geumho ini, dan akan mewujudkan mimpi baru mereka.
Itu semua hanyalah omong kosong belaka.
Hyunsung nampaknya juga melirik pada Cheon Inho, mulai menyadari apa yang aku pikirkan.
Hyunsung kemudian kembalu melanjutkan penjelasannya, "Pembagian makanan ditentukan oleh grup utama, tapi yang bisa dimakan sekarang sudah hampir habis, jadi mereka menetapkan orang untuk mencari makanan ke atas, tepatnya, daratan. Tapi, sampai sekarang mereka tidak kunjung kembali juga." Kata Hyunsung kemudian sejenak dia menghela nafasnya, "Aku mendengar dari orang-orang kalau mereka mendapatkan banyak koin setelahnya."
Nada bicara Hyunsung memelan di akhir kalimat. Ekspresinya juga nampak sedih.
__ADS_1
"Nampaknya aku bisa menebak apa yang mereka lakukan pada orang-orang yang dikirim ke atas daratan itu." Ujarku tersenyum hampa.
"...Memangnya apa?"
"Apa kau sudah tahu, jika kita membunuh satu 'makhluk hidup' kita akan mendapatkan sebuah kompensasi berupa koin, kan. Tidakkah kau penasaran dari mana asal koin-koin yang mereka dapatkan itu?"
Hyunsung membelalakkan matanya, pupil matanya sedikit bergetar. Dokja yang melihat reaksi dari Hyunsung langsung mengalihkan topik pembicaraan. Sepertinya dia mulai menyadari sesuatu yang penting dari inti penjelasan padatku itu.
"Yang terpenting, bersyukurlah kalau kau tidak ikut ke sana walau kau pasti diajak." Dokja menepuk-nepuk punggung Hyunsung, berusaha menenangkannya.
"Haha.. hah.. kau benar. Walaupun aku tidak terlalu tahu tentang moral atau etika yang muluk-muluk... tapi aku merasa kalau aku berada di 'tidak benar.' Aku merasa diriku seperti munafik karena baru berpikir begitu sekarang. Tapi, ternyata keputusan yang kuanggap salah itu ternyata benar."
"Betul, munafik itu juga perlu. Jadi, jangan lupakan perasaanmu sendiri." Ujar Dokja, di akhir dia menepuk pelan bahu Hyunsung.
Mata Hyunsung berbinar-binar setelah mendengar ucapan Dokja tadi itu, terharu dengan apa yang dia ucapkan pada Hyunsung.
"Dokja..."
"Dokja Kim."
Ah, tiba-tiba saja datang seseorang kini telah mengganggu kita bertiga. Dan... Si Kampr*t itu ternyata Cheon Inho.
Aku menatap tajam pada Inho. Terlihat kedua alisku mengerut dan menekan area di sekitar hidung serta bibir yang menyempit. Kubuka mulutku dengan malasnya, "Sudahlah. Menyerah saja. Sampai kapan aku tidak akan sudi gabung walau kau memerangi kami sekalipun."
Si gila itu kini malah tertawa sambil bertepuk tangan padaku.
"Hahaha...! Menarik sekali."
"Kalian berdua adalah orang yang berhasil selamat dari monster laut level 7 dan termasuk beberapa orang yang diakui oleh Joonghyuk Yoo, terlihat juga kalau kalian adalah tipe orang yang bisa memimpin. Apa kau tidak kasihan pada orang-orang yang menderita di sini? Aku sih hanya memintamu bekerja sama denganku demi kepentingan bersama."
Aku sedikit tersenyum saat mendengar dialog sampahnya, sudah kutebak kalau dia akan memanipulasiku seperti ini. Dan dalam situasi begini ini aku harus menghilangkan rasa simpati atau empati milikku.
"Tidak, tuh. Aku tidak kasihan pada mereka. Orang aku saja tidak mengenal mereka?"
Cheon Inho terdiam tak bergeming selama beberapa detik saat mendengar jawaban yang keluar dari mulutku.
"...Apa alasanmu menolak ajakanku?"
__ADS_1
Kini ekspresi Cheon Inho campur aduk. Tatapan matanya dingin, lalu tersenyum miring.
"Carilah aku jika kau berubah pikiran, Dokja Kim."
"Ha? Itu sih tidak akan terjadi."
Kami bertiga pun segera kembali ke tempat kami beristirahat, berusaha melupakan apa yang Cheon Inho telah lakukan. Kulihat Heewon yang sudah agak mulai baikan melambai-lambai ke arahku, aku menunjukkan senyum manisku dan membalas lambaiannya.
"Heewo– maksudku, hey! Sudah baikan?"
Hampir saja lagi-lagi aku keceplosan menyebut nama Jung Heewon. Namun, sepertinya Heewon sudah tahu kalau aku mengetahui namanya.
"Sudah... terima kasih, ya."
"Ngomong-ngomong sudah malam, apa kalian tidak lapar? Silahkan ambil ini masing-masing satu."
Dokja kini mengambil satu kantung plastik penuh makanan kemudian membukanya dan memberikan makanan yang dibawanya.
"Ah, boleh nih?"
Tiba-tiba terdengar suara berisik orang-orang dan suara langkah kaki yang menghampiri kami, diselingi oleh suara orang-orang berteriak pada kami yang menggema pada lorong stasiun Geumho.
"Hei!!"
Alhasil aku menoleh pada mereka, kulihat ekspresi wajah mereka kini makin emosi.
"Apa benar kau memonopoli makanan?!"
"Semua saling berbagi saja masih kurang, apalagi kalian yang menyimpan makanan itu untuk diri kalian sendiri!"
"Katanya itu ditemukan sama-sama!!"
"Serahkan makanannya pada Inho, biar dia yang membagi rata semua makanan itu!"
Lagi dan lagi aku sudah berpikir kalau ini akan terjadi jika aku terus menerus menolak tawaran Cheon Inho masuk ke dalam grupnya. Inho adalah tipe predator yang tidak mudah melepaskan mangsanya begitu saja jika mangsanya sudah terlihat.
Namun, sayangnya aku juga adalah seorang predator yang lebih ganas darinya.
__ADS_1
Dan inilah awal dari kegaduhan– ya... memang bukan awalan juga, sih. Karena dari awal cerita memang sudah gaduh dan kacau balau. Sudah tidak bisa tertolong lagi.