![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
Tak terasa sudah masuk tahun baru, dan sampai pada bulan februari. Benar, bulan lahir Dokja.
Aku membuat rencana ingin merayakan ulang tahun Dokja pada 14 februari dan merencanakan untuk menyatakan perasaanku pada hari itu juga.
Butuh waktu yang tidak singkat untuk mempersiapkan itu semua, aku perlu sedikit perjuangan dan membujuk beberapa orang untuk ikut serta, membuat kue, mendekorasi ruangan, dan lain-lain.
Aku sebenarnya bisa membeli kue di toko dan tidak perlu repot-repot untuk membuatnya sendiri, namun aku memilih untuk membuatnya sendiri karena rasanya lebih enak menghadiahkan kue buatanku sendiri, lagi pula aku juga bisa masak.
Lalu.. begitu hari H sudah tiba...
Dokja tersenyum begitu cerah saat aku mengejutkannya dengan kue ulang tahun buatanku yang dihiasi dengan krim keju, dan stroberi merah yang nampak segar di atasnya.
Dokja mengeluarkan senyuman paling cerah yang pernah dia tunjukkan kepadaku.
Wajahku memerah seketika ketika melihat Dokja tersenyum hingga memperlihatkan giginya. Aku akui, Kim Dokja lebih terlihat manis dengan senyumannya.
"Terima kasih aku ucapkan kepada ahjusshi, ahjumma, teman-teman, dan khususnya kepada Aluna." Dokja sekarang memanggilku dengan 'Aluna' karena merasa akrab memanggilku dengan nama asliku. Dokja kembali memamerkan senyuman indahnya kepada semua orang yang menyaksikannya.
Setelah acara ulang tahun Dokja yang ku rayakan kecil-kecilan, dengan sedikit usaha untuk membujuk kedua orang tuaku dan beberapa teman untuk ikut serta.
Di saat acara sudah selesai dan semua orang tengah berkumpul di ruang tamu, aku mengajak Dokja ke halaman belakang rumahku saat malam hari telah tiba untuk meluncurkan rencana terakhirku.
"...Kim Dokja " Kataku sambil menggandeng tangan Dokja.
"Ya? Ada apa?" Sahutnya keheranan. Dokja akan mengerti kalau aku menyebutkan namanya dengan lengkap, pasti ada sesuatu.
Aku tetap diam tak bergeming saat Dokja menjawab.
Aduh... Aku yakin bahwa Dokja sebenarnya peka terhadap perasaanku, sangat peka malahan. Namun sengaja menungguku menyatakan perasaanku terlebih dahulu. Dia mungkin takut ditolak walau sudah tahu kalau aku pasti akan memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia terlalu banyak pikir.
Mau tidak mau, aku yang harus menyatakannya terlebih dahulu.
Aku rela membuang seluruh gengsi dan harga diriku yang tidak aku berikan kepada sembarangan orang. Ingat, hanya kepada Dokja. K-I-M D-O-K-J-A. Aku mengeja namanya dalam hati.
Saat tibanya Dokja ingin membuka suaranya karena aku tak kunjung berbicara, aku segera memotong ucapannya.
"Kim Dokja, aku menyukaimu-- tidak, aku mencintaimu sejak awal. Dari dulu aku memperhatikanmu dan diam-diam menyukaimu sampai sekarang. Itulah mengapa alasan aku membantumu saat kau ditindas, bodoh." Belum sempat Dokja menjawab sepatah kata pun, aku dengan cepat melanjutkan dialogku.
"Apakah aku terlihat bercanda dalam mencintaimu, apakah aku terlihat seperti tidak mencintaimu, Kim Dokja?" Lanjutku secara tiba-tiba yang membuat Dokja terkejut bukan main.
Muka Dokja sudah semerah tomat. Seperti awal pertemuan kita.
Dokja mulai membuka mulutnya, kali ini dia agak mengeraskan nada bicaranya, tetapi tetap terkesan lembut.
"Aku juga mencintaimu, aku sangat mencingaimu. Aku ulangi, aku sangat, sangat, sangat mencintaimu, Yeong– tidak, Aluna." Dokja menatap mataku dalam-dalam lalu memegangi kedua bahuku.
"Kau orang pertama yang aku cintai di dunia ini."
__ADS_1
"Aku juga sudah memendamnya sangat lama. Tetapi aku akhirnya bisa mengatakannya sekarang, bahwa matamu, pipimu, bibirmu itu sangat indah."
"Setiap kali aku melihatmu, aku selalu jatuh cinta lagi dan lagi." Dokja mulai mendekatkan bibirnya dengan bibirku. Aku hanya terdiam kemudian memejamkan mataku. Aku terlalu bingung harus melakukan apa selanjutnya.
Ah, tidak. Wajah kami kini sangat dekat, saking dekatnya, aku bisa melihat pupil mata Dokja membesar saat dia menatap mataku.
Sebelum sempat Dokja melancarkan aksinya, Ayahku tiba-tiba datang ke halaman belakang tepat saat kami akan melakukan adegan pertukaran enzim antara dua makhluk hidup– singkatnya, ciuman.
Aku dan Dokja sontak menjaga jarak dan langsung kembali ke posisi awal kami.
"What are doing here with my daughter, Kim Dokja?" translate; "Apa yang kau lakukan disini dengan anakku, Kim Dokja?" Tanya Ayahku garang.
I'm- I-I'm just watching the moon with her!" translate; "Aku- A-Aku hanya melihat bulan bersamanya!" Jawab Dokja panik.
Aku memegang lengan Dokja lalu menghampiri Ayahku.
"Oh God, Dad. You need to calm down first..." translate; "Oh, ya Tuhan, Ayah. Tenang dulu..."
"Aku tidak melakukan apa-apa, belum." Ujarku kepada Ayah dengan mengecilkan nada bicaraku di akhir kata sehingga tak terdengar oleh Ayah.
"Segeralah masuk kalau sudah selesai, ingat. Jangan aneh-aneh, kalian masih sekolah!"
Ayah sang perusak suasana kemudian meninggalkan kita berdua. Suasana kemudian menjadi hening dan canggung.
Dokja akhirnya memecahkan keheningan diantara kita. "Jadi... anu, mau.. pacaran?" Ia bertanya seolah-olah mengacuhkan kata-kata Ayah, 'jangan aneh-aneh.'
Aku terkekeh lalu mengecup pipi milik Dokja sekilas, dan mengangguk lalu tersenyum hangat kepadanya seolah mengatakan jawabannya adalah 'Iya, tentu.'
***
Aku terpaksa pindah.
Akibat Ayah dan Ibuku memilih pindah ke Jepang dikarenakan tugas dinas Ibu, jika kalian menanyakan apa pekerjaan Ibuku, wanita hebat itu adalah Dokter Forensik. Benar, Dokter yang berkutat dengan para mayat-mayat.
Ya mau tidak mau Ayahku yang budak cinta tingkat akut itu memilih ikut pindah. Soal kerjaan Ayah? Hah! Dia kan punya asisten yang selalu mengikutinya kemana-mana. Wajar saja jika Ayah tidak akan ambil pusing. Pria tua itu mana sering memikirkan tentang sahamnya, walau kelihatannya dia pria yang ambisius tapi Ayah termasuk orang yang tidak mau pusing atau pikir panjang jika semuanya sudah terorganisir.
Aku sempat menentang, dan beralasan bisa tetap tinggal disini dengan asisten atau saudara di Korea. Tapi kata keputusan Ayah sudah mutlak dan tidak bisa digugat lagi, kita sekeluarga akan ikut Ibu ke Jepang.
Seharian itu, aku hanya bisa mengerutkan alisku dan memandang sinis kepada Ayah. Ayah yang tidak mau kalah menatap sinis balik. Ibuku hanya bisa diam, terlalu pusing untuk memikirkan dua manusia yang konyol ini.
Seminggu sebelum pindah ke Jepang, aku tidak hadir sekolah. Dokja sempat bertanya-tanya kenapa aku tidak hadir selama beberapa hari, dia khawatir aku jatuh sakit selama seminggu, dan memilih untuk menjengukku di rumah. Aku akhirnya menjawab kalau aku akan pindah ke Jepang. Dan pasti, reaksi Dokja sangat shock.
Dokja memelukku erat-erat, seolah jika dia melepaskanku aku akan hilang ditelan bumi dan tidak akan pernah bertemu dengannya. Akupun membalas pelukannya, mengelus-elus surai Dokja dengan lembut, lalu membisikan kalimat, "Aku akan selalu mencintaimu bahkan jika jarak kita jauh, Kim Dokja."
Bukannya malah tenang, Dokja malah menangis. Aku yang panik reflek memegang pipi Dokja dengan kedua tanganku, menepuk-nepuk kedua pipi yang mulai merah akibat tangisannya dan berkata, "Sayangku, Dokja... jangan menangis. Apa yang aku lakukan.. astaga." Saking paniknya, aku bingung harus bagaimana, karena ini adalah kali pertama aku melihatnya menangis.
Dokja melepaskan pelukannya, mulai menghapus ingus dan air matanya.
"Hiks.. hiks! Berjanjilah kau akan selalu menghubungiku." Ujar Dokja sambil menangis seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh Ibunya.
__ADS_1
"Aku janji." Ujarku tersenyum lalu mengaitkan jari kelingkingku dengan miliknya.
Dokja kembali memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya lalu mencium kening dan pipinya berkali-kali, akhirnya dia berhenti menangis juga.
Tak terasa sudah tiba hariku untuk pergi ke Jepang, tepatnya di Kyoto. Dokja ikut mengantarkanku ke bandara, sepanjang perjalanan Dokja terus menggenggam tanganku dengan kencang sampai tanganku terasa pegal.
Saat jadwal penerbanganku telah tiba, aku segera berpamitan dengannya. Dokja memelukku seerat mungkin, memegang wajahku dan mencium kedua pipiku, lalu bibirku. Tepat depan orang-orang di Bandara saat itu.
Aku masih diam tak bergeming.
Ayahku yang melihat itupun ingin sekali rasanya segera memukul Dokja, tapi syukurlah segera ditahan Ibu. Teringat masa mudanya dengan Ayah, kata beliau.
Wajahku kemudian memerah tak karuan, Dokja yang melihat itu hanya tersenyum, memberikan tas kecil dan melambaikan tangan ke arahku. Ia berkata, "Jaga dirimu baik-baik, aku mencintaimu."
Aku menerima tas itu tanpa sepatah kata dan tanpa berpikir apa yang ada di dalamnya, aku sangat malu. Sial.
Ibuku terkekeh lalu berkata, merahnya wajahku sudah seperti udang rebus.
***
Pesawatku lepas landas tepat di Kyoto, Jepang. Pada sore hari karena perjalanan yang ditempuh agak jauh.
Aku melangkahkan kakiku keluar bandara dan dijemput oleh mobil Bugatti Veyron koleksi milik Ayahku yang ditempatkan di Jepang, mobil Ayah yang satu ini termasuk kesayangan karena sudah dari lama. Aku diantarkan oleh Asisten Ayah untuk segera beristirahat di sebuah hotel bintang lima dengan nuansa klasik. Kata asistennya, Ayah dan Ibu pergi sebentar untuk mengurus berkas pindah. Dan besok aku akan di bawa ke rumahku yang baru, sebuah tempat baru bagiku.
Setibanya aku di kamarku, aku mengganti baju lalu merebahkan seluruh tubuhku di kasur.
Aku kelelahan.
Kemudian aku menatap langit-langit kamar, teringat akan Dokja. Aku segera mencari ponselku dan mencari kontak Dokja lalu tanpa pikir panjang langsung menghubunginya.
"...Halo? Aluna? Sudah sampai di kyoto?"
Suara Dokja kedengaran serak, seperti habis menangis. Ah, aku baru ingat. Dokja akan menjadi sedikit cengeng kalau itu tentang aku.
"Halo, Dokja. Aku sudah sampai di Kyoto dengan selamat, sekarang aku berada di Hotel. Maaf aku tidak bisa menghubungimu untuk beberapa saat."
"Syukurlah.. Tak apa, yang terpenting adalah keselamatanmu."
Sekali lagi dia terdengar mengkhawatirkanku dari nada bicaranya.
"Apakah kau sudah membuka isi tas yang aku berikan?" Ucap Dokja mengalihkan topik pembicaraan.
Aku baru ingat apa yang Dokja berikan kepadaku saat di bandara, aku memintanya menunggu sebentar dan segera mencarinya lalu membuka isinya. Aku sangat terkejut saat melihat isinya, itu adalah... sebuah kalung. Kalung emas yang sangat indah, terukir dengan indah.
Mataku menangkap satu bintang dan satu bulan di kalung itu, aku tersenyum saat menyadarinya. Dokja melambangkan bulan dan bintang sebagai simbol hubungan kita.
Namun aku bertanya-tanya, dari mana uang yang dia pakai untuk membeli kalung ini?
Aku bertanya kepada Dokja dan dia dengan bangga menjawab kalau dia bekerja sangat keras untuk mendapatkan itu hanya untukku. Dia mengaku bekerja paruh waktu sepulang sekolah hanya untuk membeli kalung itu tanpa sepengetahuanku.
__ADS_1
"Itu semua aku lakukan hanya untukmu, jadi jagalah baik-baik kalung itu." Ujar Dokja dalam telepon, aku tersenyum mendengarnya dan meng-iyakan apa yang dikatakannya.