Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]

Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]
BAB 5. "Terjadinya Apocalypse."


__ADS_3

"Itulah tepatnya saat di mana fiksi dan realitas saling tumpang-tindih."


**


"S*al, aku kerepotan karena patch bahasa koreanya nggak bisa jalan."


"Ah, apakah kalian sudah bisa mendengar saya?" Si Dokkaebi kini sedikit berteriak.


Kemudian, ada seorang dari mereka yang menanyakan apakah mereka sedang syuting film. Ada juga yang menyuruh Dokkaebi itu agar cepat selesai karena dia ada audisi. Nampaknya orang-orang di sini belum sadar juga, ya.


"Ahh.. audisi ya, jam segini sudah ada audisi. Haha. Sepertinya investigasinya kurang lengkap.. tapi aku dengar banyak orang yang menyanggupi kalau layanan berbayarnya dimulai pukul 7:00 petang."


Dokkaebi tersebut terus berbicara dengan tidak jelas pada orang itu.


Suasana kereta pun semakin ricuh karena banyak yang mengeluh, meminta agar kereta segera dijalankan karena mereka masih banyak urusan penting.


"Apa-apaan Dokkaebi itu? Ini betulan bukan syuting film, kan?"


"Siapapun tolong hubungi masinisnya!"


"Ibu, itu kartun apa?"


"Duh, aku belum selesai marathon One Piece."


"Apa lihat-lihat? Cepat pergi! Urusanku masih banyak!"


Dokja mulai sadar dan menyuruhku dengan Sangah agar diam.


Ia memegang tanganku erat, menyuruhku untuk memeluknya. Aku mengiyakan apa yang dikatakan Dokja, Sangah hanya diam di tempat menyaksikan pemandangan itu.


"Aluna, Sangah-ssi. Tetap diam di tempat dan jangan bergerak."


"Eh?" Sangah terbelalak saat menatap Dokja, mungkin karena ucapannya terdengar sangat aneh di tengah suasana kacau seperti ini malah menyuruh untuk diam.


Tiba-tiba wujud Dokkaebi itu berubah, warna matanya menjadi merah menyala.


"BERISIK YA! AKU BILANG..." Dokkaebi itu menggantung kalimatnya di akhir. Melihat itu, aku pun menguatkan cengkeraman lenganku pada Dokja. Dokja memegangi pinggulku dan mendekatkannya ke arahku. Aku memejamkan mataku, seakan tahu apa yang terjadi selanjutnya.


"DIAM!!!" Lanjut Dokkaebi itu penuh penekanan pada akhir kalimatnya.


Terdengar suara sesuatu yang meledak, kemudian berjatuhan dan dalam sekejap seisi gerbong pun menjadi sunyi dan senyap. Samar-samar aku mencium bau seperti besi karatan, aku langsung bisa menebak aroma apa yang aku cium.


"AHH.. AKHHHHH!!!!" Aktor yang tadi protes pada Dokkaebi karena terburu-buru ingin ikut audisi berteriak kesakitan. Kulihat ada lubang besar di area dahinya.


Seorang pria yang beberapa kali menyuarakan protesnya kini jatuh terduduk di tempatnya.


"Ini bukan syuting film, ini bukan novel atau game, dan ini bukan REALITA!" Suara Dokkaebi itu bergema sepanjang kereta.


Darah kemudian menyembur ke udara bersamaan dengan beberapa kepala lagi yang pecah. Kepala-kepala itu adalah milik orang yang tadi protes, kini bergelinding kesana-kemari. Diikuti oleh penumpang kereta yang berteriak histeris perlahan-lahan mulai menggila. Mereka yang sedikit saja mengeluarkan suara, satu persatu memiliki lubang menganga di kepalanya. Dan dalam sekejap, gerbong kereta ini bermandikan darah menyisakan hanya beberapa orang di dalamnya.


"Paham sekarang?" Dokkaebi itu mulai bersuara lagi. "Kalian sudah terlalu lama hidup gratisan. Kurang nikmat apa lagi hidup kalian? Begitu lahir kalian tidak perlu membayar untuk bernafas, makan, buang air, bahkan untuk berkembang biak!" Lanjutnya.

__ADS_1


"Apa? Hidup gratisan? Tidak ada yang namanya hidup gratisan itu!" Ujar Dokkaebi itu mutlak tidak bisa digugat, dan tak satupun orang berani memprotes ucapan si Dokkaebi.


"Untuk mendapatkan kebahagiaan, wajar saja kalau harus membayar, bukankah begitu~?"


Seorang pria kemudian menyuarakan dirinya di tengah-tengah kekacauan, "A-Apa kalian ingin uang?" Celetuknya di saat situasi seperti ini.


Aku mengenal orang itu, orang itu adalah...


"Han Myungoh?" Kataku dan Dokja bersamaan. Dokja kaget, bagaimana dia bisa tahu Han Myungoh kepala divisi keuangan itu?


"Benar, itu adalah kepala divisi Han.. tapi kenapa kau bisa tahu, Dal Mi-ssi?" Sangah keheranan. Belum sempat aku mencari alasan yang tepat, Han Myungoh kembali berbicara.


"Akan kuberikan uangku. Nah, ambillah ini. Aku tidak akan keberatan." Kepala Han Myungoh kemudian mengeluarkan kartu namanya, dan orang-orang yang bodoh mulai mendukungnya.


Dia mulai berlagak sok pahlawan yang menyelamatkan para sandera. "Berapa banyak yang kamu inginkan? Segini? Atau dua kali lipatnya?"


Ah, aku yang melihatnya mulai merasa malu.


Aku melepaskan genggaman tangan Dokja, menghampiri Han Myungoh lalu berkata padanya, "Uang itu tidak akan ada gunanya. Karena uang itu berlaku di dimensi kita, tapi mungkin tidak di dimensi lainnya. Kembalilah ke tempatmu, kepalamu bisa meledak lho." Aku tersenyum di akhir kalimatku. Orang-orang kemudian menatapku dengan ekspresi kaget, terlebih lagi dengan Dokja.


Myungoh tampak mengabaikan ucapanku dan tetap mencoba bernegosiasi dengan Dokkaebi itu, namun hasilnya nihil. Dokkaebi itu malah membakar semua kertas cek yang diberikan olehnya. Ia sekarang nampak sangat panik saat yang dipegangnya hanya tersisa abu.


"Woo-ho hohoho~ Siapakah wanita pemberani ini?" Dokkaebi itu tersenyum menatapku, memperlihatkan giginya yang tajam. Aku menatapnya balik dengan tatapan datar.


"Kenapa kau tidak menjawabku?" Nada Dokkaebi itu sedikit marah lalu mulai mendekatiku.


Dokja segera menghentikan Dokkaebi itu saat ingin mendekatiku lalu memelukku. Entah apa yang dipikirkan Dokja.


"Ooh? Sepasang kekasih rupanya~? Sungguh manis.. selamat menjalankan skenario kalian bersama kalau begitu. Semoga bisa bertahan sampai akhir!"


[Channel #BI-7623 telah dibuka, skenario telah dimulai!]


[Konstelasi bintang akan masuk].


[Pembuktian Nilai]


BUNUH LEBIH DARI SATU MAKHLUK HIDUP.


KATEGORI: UTAMA.


TINGKAT KESULITAN: F.


HADIAH: 300 KOIN.


JIKA GAGAL: MATI.


"Kalau begitu, aku pamit dulu. Semoga beruntung semuanya. Mohon perlihatkan cerita yang menarik kepada konstelasi bintang!"


Dokkaebi itu terbang ke atas kepalaku dan menghilang begitu saja menyisakan para penumpang yang panik.


"G-Gimana ini, gimana.. Dokja-ssi, aku sudah menghubungi polisi, t-tapi tidak diangkat..."

__ADS_1


"Aduh, tenang dulu Sangah. Kau pernah coba main game yang baru-baru ini dibuat oleh bagian developer, kan? Dimana game itu menceritakan seluruh dunia hancur, lalu hanya beberapa manusia bertahan hidup.." Ujar Dokja menenangkan Sangah.


"..Maksudnya? Kenapa tiba-tiba.."


"Pikirkan kita sedang berada di dalam game itu. Semuanya gampang saja, kita tinggal mengikuti apa yang ada di dalam game itu."


"Kita harus cari tahu itu mulai sekarang." Dokja menatapku dan Sangah secara bergantian, aku bingung kenapa mereka sangat panik. Tetapi kemudian aku sadar bahwa aku sedikit trauma melihat darah yang bertebaran di mana-mana. Aku melihat tanganku gemetaran. Dokja yang menyadari itu menggenggam tanganku dan berkata,


"Semuanya akan baik-baik saja, percayalah. Aku akan terus berada di sampingmu."


Aku menatap Dokja tak percaya akan perkataan yang keluar dari mulutnya. Bisa saja dia menghilang setelah mengorbankan dirinya untukku di dunia ini... dunia yang jauh penuh bahaya.


"...Janji?"


"Iya, iya. Aku janji." Dokja kemudian mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku, aku baru bisa percaya dengan Dokja sekarang. Aku tahu siapa Dokja, dia bukan pria yang suka ingkar janji dan dapat dipercaya, tidak seperti kebanyakan pria di luar sana.


Aku kemudian menatap anak laki-laki bertopi yang tadinya membawa serangga-serangga kecil, kulihat dia sedang menangis. Suara tangisannya memenuhi kereta. Aku coba menenangkan anak itu dan memeluknya, aku menanyakan apakah dia sudah merasa baikan atau belum lalu aku memberinya minum. Saat dia sudah tenang, aku tersenyum hangat padanya. Ini saatnya aku melancarkan aksiku.


"Apakah kakak boleh minta serangganya?" Tanyaku sambil menunjuk


Sebelum anak laki-laki bertopi itu menjawab pertanyaanku, suara seorang laki-laki yang berat, tegas.. namun terdengar ramah segera memotong ucapan bocah laki-laki bertopi itu.


"Yak! Perhatian, semuanya harap tetap tenang! Tarik nafaslah dulu dalam-dalam dan coba hentikan apa yang kalian lakukan."


Dia adalah laki-laki berpostur tubuh tegak, kekar dengan potongan rambut cepak.. Sepertinya aku tidak asing dengan menampilannya. Dia diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Nah, apakah kalian sudah tenang sekarang? Mohon perhatikan saya sebentar. Seperti yang kalian tahu, dalam situasi bencana negara, keributan kecil bisa membahayakan nyawa. Oleh karena itu, saya akan mengontrol situasi ini."


"Apa?! Memangnya kau siapa!!"


"Hah?! Bencana tingkat negara? Apa maksudmu!"


Aku kemudian menghampiri suara ricuh yang dibuat para orang-orang itu, aku mulai menenangkan mereka dengan menjawab siapa orang yang sok-sokan akan mengontrol situasi ini.


"Tenang dulu semuanya, tenang.. Pria itu.. dia adalah Letnan Angkatan Darat yang sekarang bertugas di Unit 6502, Lee Hyunsung. Kalian bisa mempercayainya." Betapa kagetnya Dokja saat aku mengetahui siapa orang tersebut. Aku baru menyadari.. Karakter yang ada di dalam novel itu ternyata adalah temanku di masa sekarang?


Dia adalah Hyunsung-- teman lamaku semasa di Kyoto University pun tersenyum kemudian menunjukkan Kartu Tanda Anggota resmi badan pemerintahan miliknya.


Semua orang yang tadi memprotes kepada Hyunsung mulai mendukungnya dan memintanya untuk mengayomi mereka.


"Letnan satu? Letnan katanya?"


"Ah.. syukurlah ada tentara disini!"


"Mohon bantuannya pak.."


"Saya barusan mendapat pesan dari unit saya." Ujar Hyunsung kepada orang-orang yang mengelilinginya.


--Situasi bencana nasional tingkat 1 telah terjadi. Seluruh pasukan harap segera berkumpul ke kamp.


Itu adalah isi pesan itu.

__ADS_1


"Hei pak tentara! Apa yang dimaksud dengan ini? Sebenarnya, ada apa dengan situasi ini!?!?!"


Suasana kereta seketika kembali menjadi gaduh dan porak poranda.


__ADS_2