![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
Suasana kota tengah gerimis saat itu, rintik-rintik hujan mulai turun mulai dari pagi hingga siang sehingga membuat suasana kota semakin sejuk.
Aku, setelah sekian lama akhirnya melangkahkan kakiku kembali ke Korea.
Umurku sekarang sudah 27 tahun, dan sekarang aku sudah lulus di universitas Jepang yang cukup terkenal, yaitu Kyoto University. Aku mengambil Faculty of Law, atau Fakultas Hukum selama empat tahun dengan delapan semester.
Aku mulai menjauh dari bandara dan mampir ke toko kopi terdekat. Saat masuk ke dalam, aroma kopi hangat yang begitu khas tercium oleh hidungku. Sungguh merupakan perpaduan yang nikmat jika diminum selagi hangat saat cuaca sedang dingin. Tanpa basa-basi lagi, aku segera menghampiri barista yang sedang berjaga lalu memesan Hazelnut Latte dan Caramel macchiato.
"..Tolong satu Hazelnut Latte dan Caramel macchiato di meja antre nomor 13."
"Oh ya, dan... dua Butter Croissant." Kataku sambil sedikit tersenyum kepada Barista tersebut.
Barista itu kemudian mengajakku mengobrol sedikit, cara bicaranya sih terdengar seperti pria yang sedang mencari mangsanya, alias buaya.
Dia beberapa kali menggodaku dengan kata-kata basi yang sering dilontarkan oleh mulut para buaya darat di luar sana. Aku hanya menatapnya datar ketika melontarkan gombalan basi miliknya itu.
Barista itu kemudian dengan berani mencolek daguku. "Noona kenapa memesan dua? Kalau boleh tahu apakah noona sudah punya pacar?" Tanya Barista itu dengan berani kepadaku.
Dan saat itu juga bertepatan dengan adanya seorang pria yang masuk ke toko kopi itu. Aku segera tersenyum miring lalu mendekatinya.
"Tidak, aku tidak punya pacar." Ujarku meladeni si barista, lalu menatap ke arah pria yang baru saja masuk tadi.
"Tapi..." Aku sengaja menggantung ucapanku agar si barista bertanya-tanya.
"Tapi apa, noona?"
Aku pun menghampiri pria yang baru masuk itu, pria itu Kim Dokja. Lalu tanpa basa basi aku memegang pinggang ramping milik Dokja.
"Tapi aku punya calon suami." Lanjutku tersenyum miring dengan bangga memamerkan Dokja. Dokja yang melihat tingkah lakuku itu pun menjadi salah tingkah, padahal kenyataannya kami masih berpacaran dan belum bertunangan. Aku hanya ingin mengerjai si Barista brengs*k itu. Barista itu kemudian meminta maaf karena telah menggodaku, tepatnya kepadaku dan kepada Dokja. Syukurlah dia masih punya sedikit tata krama.
Dokja yang sudah lama tak bertemu aku pun langsung memelukku erat-erat, tak peduli seberapa banyak orang sedang memperhatikan kita.
"...Dokja. Aku juga rindu padamu, sangat rindu. Tapi kumohon jangan di sini juga, ada banyak orang!!"
Aku memukul pelan punggung Dokja.
"Aku tidak peduli. Kau tahu, ini sudah 8 tahun sejak kita terakhir bertemu, saat kita masih berumur 18 tahun." Ujar Dokja masih terus memeluk tubuhku, sesekali dia dia menciumi surai rambutku.
Entah perubahan apa yang dialami Kim Dokja sehingga membuatnya menjadi manja terhadap kekasihnya dan terus menempeli kekasihnya seperti lem tikus. Aku kemudian dengan cepat mencium bibir Dokja lalu mengalihkan topik pembicaraan agar segera menghabiskan Croissantnya.
Dokja terdiam beberapa saat, lalu memegangi bibirnya yang tadi aku cium. Dia menatapku dan menunjuk ke arah bibirnya, kepalanya dimiringkan seolah mengatakan 'hah?'
Aku hanya menatapnya datar.
Aku dan Dokja beranjak pergi dari toko kopi tersebut lalu mampir ke sebuah taman kecil dan duduk di bangku taman itu.
"Aluna, apa kau merindukanku?" Tanya Dokja kepadaku, aku hanya mengangguk-angguk pelan. Dokja kemudian kembali memelukku, tapi kali ini lebih erat. Aku membalas pelukannya sambil menepuk-nepuk punggung pria itu dan mengelus-elus wajah mulusnya. Aku tersenyum. Tak terasa bahwa waktu membuat Dokja mengalami banyak perubahan, mulai dari tingginya yang seperti raksasa, tingkah lakunya yang manja.. dan sekarang dia lebih suka tersenyum. Efek pubertas pria, ucapku dalam hati. Namun di sisi lain, Dokja juga terlihat sangat dewasa, berdedikasi dan penyayang. Itulah yang aku suka darinya.
"Sampai kapan kau akan terus memeluk tubuhku seperti ini?" Ujarku yang mulai lelah dengan sikap Dokja.
Dokja dengan enggan melepaskan pelukannya dan bersandar di bahuku tanpa sepatah kata pun.
Suasana di antara kami mulai canggung beberapa saat. Aku kemudian membuka obrolan, "Dokja, saat ini kau tinggal di mana?"
"... Sebuah apartemen kecil dekat Stasiun Kereta." Jawabnya.
Stasiun Kereta, ya...
Ah! Aku baru ingat. Hari ini adalah hari dimana apocalypse akan terjadi. Hari saat Dokja pulang dari tempat kerjanya, itulah hari ketika kiamat dimulai. Seperti yang diceritakan pada novel [Tiga cara untuk bertahan hidup setelah dunia hancur].
Tetapi hari ini Dokja tidak akan pulang lewat Stasiun Kereta, dia mengambil cuti selama beberapa hari dikarenakan aku akan datang.
__ADS_1
Aku segera mencari cara agar bisa lewat Stasiun Kereta tanpa memulai sedikit perdebatan atau sesi tanya jawab dengan Dokja. Aku mengakuinya walau aku agak ogah, aku sama seperti Ayahku. Aku terkadang sering mengambil jalan pintas agar tidak repot-repot menghadapi masalah kedepannya, jika itu adalah masalah kecil sekalipun.
Sebuah ide konyol tiba-tiba muncul di benak kepalaku.
"Kim Dokja, aku ingin kita tidur bersama di apartemenmu." Ujarku tiba-tiba kepada Dokja.
"Maka dari itu, ayo pulang lewat kereta hari ini." Aku kemudian secara tidak sabaran menarik lengan Dokja mengisyaratkannya untuk cepat.
Dokja mencoba mencerna situasi ini dengan baik...
'Hah?'
Sesampainya di loket, aku dengan tergesah-gesah memesan tiket untuk dua orang karena takut kehabisan tiket dan tidak sempat masuk kereta satu ini.
"Tolong dua tiket kereta XX-XX untuk ke XXX-XX!" Ujarku secara buru-buru.
"Nampaknya anda sangat buru-buru ya, Nona. Baik.. dua tiket menuju XXX-XX. Hati-hati di jalan!" Ujar petugas loket di sana sambil tersenyum kepadaku.
Aku membalas senyumannya, "Ya.. nampaknya begitu. Sampai jumpa di dunia lain, Pak Petugas!" Ujarku keceplosan menyebutkan Dunia Lain di depan petugas itu. Dokja nampaknya juga kebingungan mendengar kalimatku itu, tetapi hanya diam tidak menggubris apa yang aku katakan.
Untunglah petugas itu tidak memikirkan ucapanku dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar anak muda..." Ujar petugas itu pelan padaku hingga nyaris tak terdengar olehku, aku tersenyum cengengesan.
Aku dan Dokja menginjakan kaki di kereta, mencari tempat kosong dan seperti biasa.. Dokja mulai membuka ponselnya dan membaca novel..
[Tiga cara untuk bertahan hidup setelah dunia hancur].
Aku mencari tempat untuk menyandarkan kepalaku, Dokja menawarkan diri untuk bersandar di bahunya. Dengan senangnya aku bersandar di bahu Dokja, sambil sesekali mencium aroma parfum yang dikenakannya.
"Wangi." Gumamku pelan. Aku menatap matanya sekilas, Dokja yang sadar jika sedang ditatap lalu menatapku balik. Tatapannya seperti mengatakan 'ada apa?'
Aku hanya menggeleng pelan. Dokja mengelus-elus surai rambutku kemudian tersenyum kecil lalu melanjutkan membaca novel pada ponselnya.
Aku tahu siapa dia. Wanita itu adalah rekan kerja Dokja yang berasal dari HR, tingginya 169cm, dia anak dari tiga bersaudara, kedua kakaknya adalah Dokter. Aku masih mengingat jelas seluruh biodata karakter Yoo Sangah dengan lengkap. Tanggal lahir, tahun kelahirannya, gelar yang ia dapatkan setelah kiamat– hah? Tidak. Aku tidak terobsesi dengan karakter Yoo Sangah.
Yoo Sangah menyapa Dokja dengan senyuman manisnya. Dokja sontak menyapanya balik.
"Sudah pulang, Dokja?" Tanya perempuan yang tiba-tiba datang itu ternyata bernama Sangah.
"Aku tidak kerja hari ini. Kau lupa kalau aku cuti, Sangah-ssi? ..Aku sebenarnya mengambil cuti karena ingin menjemput pacarku." Jawab Dokja.
"Ah! Aku tidak tahu kalau Dokja sudah punya pacar." Ekspresinya kini sedikit kaget mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dokja.
Sangah kemudian menatapku yang sedang bersandar pada bahu Dokja. Aku tersenyum hangat kepadanya, Sangah yang melihatku pun membalas senyumanku.
Suasana di antara kami bertiga mulai canggung, aku pun mulai mencairkan suasana dengan mencari topik pembicaraan lain.
"Sangah juga biasa naik subway dengan Dokja, ya?"
"Anu..." Muka Sangah tiba-tiba menjadi muram saat mendengar perkataanku.
"Sepeda saya habis dicuri orang tadi pagi." Jawaban yang sudah aku duga akan keluar dari mulut Sangah.
Benar, sesuai prediksiku... hari ini 'Apocalypse' akan dimulai.
"Maaf, aku turut berduka mendengarnya." Aku menepuk-nepuk pelan punggung Sangah. Beberapa saat kemudian kami melanjutkan obrolan dengan topik berbeda.
Aku kemudian memperkenalkan diriku kepada Sangah, "Ah, iya. Aku lupa memperkenalkan diriku. Kau bisa memanggilku dengan nama koreaku, Yeong Dal Mi. Atau panggil saja aku Aluna." Aku menjabat tangan Sangah dengan hangat. Kami lalu sedikit bercerita tentang kehidupan semasa kuliah, hobi dan, ya... Girl Things tanpa memperdulikan Dokja yang menatap ke arahku dan Sangah dengan tatapan cemburu.
Benarkah, Dokja? Cemburu pada rekan kerjamu sendiri, bahkan jika dia wanita?
__ADS_1
"Aluna-ssi.. apakah kau adalah wanita yang sering menelepon Dokja dan mengirimi Dokja paket setiap bulannya itu?" Tanya Sangah sambil mendekatkan wajahnya padaku dengan ekspresi penasaran.
Kalau diingat-ingat, memang benar. Aku adalah perempuan yang dimaksudnya. Aku sering menelepon Dokja dan selalu memberinya hadiah kecil lewat kantornya supaya Dokja bersemangat menjalani pekerjaannya. Pekerjaan Dokja ini menurutku tidak mudah, dan kalau kuingat lagi, diceritakan pada novelnya kalau banyak sekali orang yang iri dengan Dokja hanya karena dia dekat dengan Yoo Sangah.
Aku kembali memperhatikan Dokja. Ia kini tengah memperhatikan bocah laki-laki yang memegang serangga, ekspresinya terlihat bahagia di samping ibunya.
Kemudian Dokja kembali menatap layar ponselnya dengan ekspresi campur aduk. Aku tidak tahu ekspresi macam apa yang ada di wajah Dokja saat itu. Aku berhenti mengobrol dengan Sangah, mengalihkan seluruh perhatianku pada Dokja.
"Dokja, ada yang salah?" Dokja menatapku balik.
Namun, sebelum dia melontarkan kalimat dari mulutnya, tiba-tiba saja lampu di sekitarku mulai padam total. Dunia di sekelilingku pun mulai ikut diselimuti oleh kegelapan.
Aku sontak memeluk pinggul Dokja erat-erat. Ini kesempatan dalam kesempitan.
Ckiiiiiitttt..
Setelag semua lampu padam total, aku mendengar suara metalik rem kereta yang membuat geli telinga. Kemudian gerbong kami pun terguncang dengan hebat. Aku sontak makin menguatkan pelukanku pada Dokja.
Sangah berteriak ketakutan dan segera mencengkeramku, aku dengan sigap menenangkan Sangah dengan berkata semuanya akan baik-baik saja seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya.
Kemudian suara orang-orang yang terdengar kebingungan mulai terdengar.
"Apa yang terjadi?!"
"Uh- ada apa dengan keretanya?"
"...Apa ini."
Sangah kemudian mulai melonggarkan cengkeraman tangannya dariku.
"A-Ada apa ini?" Ujarnya padaku dan Dokja.
"Palingan cuma masalah kecil pada rel keretanya.. palingan sebentar lagi akan ada pengumuman permintaan maaf, jadi tenang saja." Dokja kini mencoba menenangkan Sangah yang panik.
Aku kemudian berbisik tepat di telinga Dokja, "...Ini akan segera dimulai."
Begitu aku selesai membisikkan kalimat itu, suara masinis mulai terdengar dari speaker kereta.
"...Pengumuman kepada seluruh penumpang kereta. Pengumuman kepada seluruh penumpang kereta..."
Suasana panik di gerbong kembali teredam.
Dokja menghembuskan nafasnya lalu berkata, "Nah kan, palingan cuma masalah kecil. Si masinis bakal minta maaf dan lampunya nanti juga nyala lagi."
"K-K-KALIAN SEMUA HARUS LARI!!!"
Suasana yang semula agak tenang sekarang kembali menjadi kacau lagi. Terdengar suara teriakan orang-orang yang kembali panik. Begitu juga dengan Sangah. Aku menyeletuk kepada Dokja agar berhati-hati setelah ini, karena situasi bisa saja menjadi semakin kacau.
"D-Dal Mi, ada apa ini?!"
Setelah aku memperingati Dokja, terdengar suara guncangan seperti gempa bumi diikuti dengan suara letupan dan dentuman drum.
Aku tersenyum miring. Aku yakin.. ini adalah permulaan misiku di dunia ini.
Aku kemudian melihat ada notifikasi melayang di atas kepalaku.
[Layanan gratis pada sistem planet no. 8612 sudah dihentikan.]
[Skenario utama dimulai.]
Dan disaat itulah pintu gerbong #3807 terbuka lebar. Listrik di kereta pun kembali menyala. Kudengar Sangah bergumam pelan di sebelahku, "...Hah? Dokkaebi?"
__ADS_1
(Dokkaebi adalah sejenis Goblin, mitos mitologi kuno di korea.)
"Tidak. Ini... tidak mungkin." Dokja masih membeku sambil menatap ke arah Dokkaebi itu.