![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
Subway yang kunaiki sekarang akhirnya berhenti di tengah-tengah Jembatan Dongho. Dan di tengah-tengah kekacauan itu.
Orang-orang yang selamat dari skenario pertama mulai berdiri, menyaksikan pemandangan kota yang telah hancur lebur hampir tak tersisa. Mayat dan darah bertebaran di mana-mana, hampir di seluruh tempat setiap 5 langkah aku melihat mayat orang-- dengan anggota tubuhnya yang separuh masih ada dan separuhnya lagi hilang entah kemana. Kulihat lagi ada segerombolan monster yang tadi aku sebutkan sedang enak-enaknya memakan bangkai dari pesawat tempur.
Sepertinya.. itu adalah Ichthyosaurus yang diceritakan dalam novel. Monster itu adalah monster yang disebut 'Monster Laut.'
Ichthyosaurus itu melingkari pilar Jembatan Dongho sebelum kemudian berubah menjadi butiran gelembung, lalu menghilang begitu saja. Dalam dunia Panduan Survival, skenario adalah hukum yang tidak bisa digugat lagi. Selama kita masih dilindungi oleh skenario, maka kita tidak akan perlu menghadapi monster-monster berbahaya seperti itu tanpa peringatan. Setidaknya.. mungkin untuk saat ini aku aman.
Dokja menghampiriku, menatapku dengan ekspresi campur aduk.
"Aluna.. nenek itu tidak muncul dalam daftar orang selamat-" Sebelum Dokja menyelesaikan ucapannya, aku segera memotongnya.
"...Maafkan aku, nenek itu mengidap penyakit jantung mematikan sebelum masuk kereta, Dokja."
"Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku... tetapi mungkin ini memang takdir Tuhan yang tidak bisa diganggu-gugat."
Aku kini sedang menjelaskan kepada Dokja bagaimana caraku bisa mengetahui informasi bahwa si nenek mengidap penyakit jantung.
"Aku menemukan banyak obat-obatan dalam tas milik si nenek, salah satunya adalah obat Aspirin, Ranolazine, dan Nitrat. Kedua-nya (Ranolazine dan Nitrat) merupakan obat yang sama-sama digunakan untuk mengatasi nyeri dari penyakit jantung. Sedangkan aspirin, terkenal dengan sebutan 'pengencer darah' dan biasanya dikonsumsi oleh orang yang mengidap penyakit Angina, yaitu nyeri dada... atau lebih tepatnya sakit jantung."
"..Dan dari situ aku bisa menyimpulkan bahwasanya si nenek mengidap penyakit jantung Askemik atau mungkin Koroner. Aku kurang tahu, yang ku tahu pasti adalah si nenek mengidap penyakit itu jauh sebelum skenario di mulai. Dan penyakit itu adalah penyakit jantung."
Aku meminta maaf kepada Dokja lagi dan lagi.
Dokja selesai mendengarkan penjelasanku dengan seksama, dia menatapku dengan tatapan yang dalam sekali. Lalu menaruh tangannya pada kedua bahuku, dia tersenyum tipis.. sangat tipis. Aku hampir tidak sadar kalau dia tersenyum.
"Tidak. Terima kasih karena sudah berusaha menyelamatkan beliau."
"...Meski tidak membuahkan hasil, ya?" Lanjutku pada ucapan Dokja. Dokja kemudian hening sesaat mendengar ucapanku itu.
"Ini bukan salahmu, Aluna. Kalau katamu ini memang takdir Tuhan, maka kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk beliau. Kita tidak akan bisa melawan takdir mutlak Tuhan."
Aku tidak sempat membalas ucapan Dokja dan tiba-tiba saja, salah satu dari Ichthyosaurus itu menoleh ke arah gerbong kereta tempat kami.
"H-Hiiihh! M-Monsternya kesini!!" Han Myungoh mulai panik, beberapa saat kemudian dia mulai sedikit tenang menyadari monster itu ternyata tidak kesini dan hanya menatap ke arah gerbong kereta kami.
__ADS_1
Aku tidak terlalu ambil pusing dengan itu walau aslinya sedikit merinding melihat monster berukuran tidak normal berkeliaran. Mau gimana pun monster-monster itu tidak akan dapat menjangkau kami jika kami tetap berada di 'channel.'
"Eh.. tidak jadi ya?" Han Myungoh mulai tenang.
Yoo Sangah kemudian melihat ke arah Dokja dari kejauhan, mulai melangkahkan kakinya menghampiriku dengan Dokja.
"Dokja-ssi! Astaga, kau tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir pada Dokja. Dokja tersenyum kepadanya mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Beberapa saat kemudian Sangah berterima kasih kepada Dokja, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena suara Dokja dengan Sangah mengecil saat berbicara.
Ya.., aku tidak perlu juga mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan, karena aku tahu persis dialog yang mereka bicarakan dari novel. Karena aku adalah 'pembaca,' sama seperti Dokja.
Aku berdehem dengan keras. Bukannya kenapa-napa, aku hanya sedikit cemburu karena Sangah hanya menanyakan kondisi Dokja. Sedangkan, hey?! Aku juga ada disini!
"Ekhem!!"
"A-Ah, Dal Mi-ssi rupanya."
"Apakah kau juga baik-baik saja, Aluna-ssi?"
"Syukurlah kau masih menyadari keberadaanku disini, dan bukan hanya Dokja seorang, Sangah-ssi." Aku menunjukkan senyum sarkas-ku kepadanya sebelum membuka mulutku kembali, mengatakan jawaban dari pertanyaannya. "Aku baik-baik saja, terima kasih."
"Sungguh luar biasa!"
"..Apa yang sebenarnya terjadi di sini, sih?"
Aku membuka mulutku, "Menurutmu sendiri? Bukankah sangat jelas?" Ujarku sedikit sarkas pada Dokkaebi itu. Aku tahu, aku mungkin akan terkena masalah selanjutnya seperti adu argumen dengannya tapi aku tidak peduli.
Dan syukurlah ia segera mengacuhkanku saat melihat bintang-bintang yang melayang di atas kepalanya.
Ekspresi wajah si Dokkaebi kemudian benar-benar bercampur antara senang dan kaget. Bintang-bintang berkelip melayang tepat di atas kepalanya.. aku mulai menghitung jumlahnya. Satu, dua, tiga, empat, lima.. Dua puluh, dua satu. Ada 21 bintang di atas kepalanya. Yang berarti sudah ada dua puluh satu konstelasi bintang yang telah masuk kedalam channelnya.
"Duh. Terima kasih atas semua sponsornya, para konstelasi terhormat! Sampai dua puluh orang yang sudah masuk ke dalam channel saya!" Ujar Dokkaebi itu penuh semangat, matanya pun berbinar-binar.
Aku mendapati Dokja melihat ke arah orang-orang yang selamat, perhatiannya teralih pada anak laki-laki bertopi yang ikut aku selamatkan, dan sekarang ia tengah ku genggam.
Lee Gilyoung namanya.
__ADS_1
Ya, Gilyoung. Bocah itu hanya menatap kosong pada mayat ibunya yang sekarang sudah tanpa kepala. Ibunya sendiri yang mengabaikan anaknya lalu memilih untuk ikut serta menghabisi si nenek itu, yang pada akhirnya.. ia akan ikut mati juga. Dan Gilyoung hanya terdiam menyaksikan adegan itu dari awal hingga akhir. Menyaksikan dengan jelas ibunya sendiri menganiaya sesamanya.
Sesaat kulihat wajah Dokja ragu, namun, pada akhirnya dia memegang pundak Gilyoung, berusaha menyesuaikan tingginya dengan anak itu. Dia sepertinya merencanakan sesuatu, atau memang ingin bersimpati.. atau hanya sekedar bersimpati konyol. Aku tak tahu apa yang dia rencanakan.
"Nak, kau ingin selamat?" Tanyanya kepada Gilyoung yang tengah menatap kosong sambil masih dalam keadaan memegang tanganku.
Mata Gilyoung bergetar hebat, aku bisa merasakannya dari tatapannya.. pikirannya pasti sedang dipenuhi oleh kecemasan. Tubuhnya menggigil tak tertahankan. Kemudian, perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya.
"Kalau kau masih ingin hidup, maka ikutlah denganku dan, wanita yang ada di sampingmu itu." Dokja menatapku sebentar, lalu segera melanjutkan ucapannya.
"Anggaplah kami berdua seperti ayah dan ibumu sendiri."
Dokja tersenyum puas memandangku. Telingaku mulai memanas. Di situasi seperti ini masih sempat-sempatnya ia membuatku tersipu malu.
Tetapi kemudian semua rasa itu sirna. Menghilang begitu saja dan digantikan dengan tatapan sinisku kepada Dokja saat melihat notifikasi bermunculan.
[Beberapa konstelasi mengagumi perbuatanmu dan karakter 'Kim Dokja.']
[Para konstelasi mensponsori 500 koin untukmu dan karakter 'Kim Dokja.']
S*al. Aku harus mulai mengaktifkan skill atribut 'Pembaca Masa Depan yang Maha Tahu' Agar tidak gampang tertipu oleh si licik ini.
Si*l*n, Kim Dokja!
[Omniscient Future Reader telah diaktifkan.]
Aku baru ingat sifat asli pria itu; Kim Dokja saat ada dalam novel. Ia 'sedikit' memanfaatkan Gilyoung untuk menarik simpati maupun empati para konstelasi dan membuat mereka memberikan sponsor untuknya. Benar-benar hina. Gimana pun, Dokja tidak akan banyak berubah.
Tapi jujur saja aku juga ingin bisa bertahan hidup dan bersiap untuk menghadapi skenario yang perlahan-lahan tingkatnya mulai makin sulit dan kemudian memuncak. Mau tidak mau, aku akui kalau aku juga perlu banyak akal untuk menarik perhatian para konstelasi bintang. Bahkan jika cara itu munafik sekalipun.
Pada dasarnya semua manusia itu munafik.
Mataku melihat Gilyoung yang mulai menggandeng tangan kanan Dokja dan aku menggandeng tangan kirinya.Entah kenapa, dilihat-lihat mungkin kami nampak seperti keluarga.
"Hari ini banyak peristiwa menarik yang terjadi, ya. Di gerbong kedua juga sama sintingny-" Dokkaebi mulai mengoceh lagi, kini dialognya dipotong oleh Myungoh.
__ADS_1
"K-Kalau begitu apa sekarang kau akan membebaskan kami?" Han Myungoh memotong dialog Dokkaebi itu, suara teriakannya terdengar memenuhi kereta. Kulihat jasnya penuh sobekan dan bercak darah, rambutnya berantakan.
Si Dokkaebi itu pun lalu tertawa.