![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
Aku mengajak Heewon keluar untuk sekedar mencari angin, kami berdua pun melangkahkan kaki kami ke dekat rel kereta. Kami tak sengaja melihat Dokja yang kebetulan juga ada di sana, kulihat dia dari kejauhan yang meloncat turun ke bawah rel kereta.
Dengan santainya, dia menengok lurus ke dalam lorong kereta yang agak berkabut tersebut.
"Aura disini sangat mencekam, apa kau percaya pada hal-hal ghaib, Luna?" Pertanyaan yang aneh ini keluar dari mulut Dokja secara tiba-tiba.
"Ah...? Kurasa tergantung pada situasinya. Tak jarang di lingkunganku ada beberapa orang yang sangat erat dengan kepercayaan seperti itu, jadi, mau tidak mau aku harus menghormati kepercayaan mereka itu."
Heewon sedikit berjongkok, aku lalu dengan reflek menyandarkan kepalaku pada bahunya.
"Hey, kau tahu? Orang-orang yang pergi ke dalam lorong itu tidak pernah kembali, dan sepertinya mati. Preman atau siapapun itu, menyeramkan, bukan?" Ujar Heewon sambil melirik ke arah lorong kereta yang gelap.
"Haha... aku kini sudah bisa menebak apa yang terjadi pada mereka."
"Oh, begitukah?" Dokja melangkahkan kakinya naik, dan mendekat padaku. Pada akhirnya dia juga ikut menyimak pembicaraan kami berdua.
Heewon kemudian mulai menjelaskan dengan seksama apa yang terjadi pada orang-orang yang telah masuk ke dalam lorong itu, dan sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Dia juga mendengar kalau beberapa orang mengaku pernah mendengar suara jeritan yang samar dan bau anyir darah yang begitu menyengat. Namun, mereka hanya mengabaikannya.
"Ah iya, Dal Mi, apa aku sudah mengucapkan terima kasih padamu kemarin? Kalau sudah, aku akan berterima kasih padamu lagi kali ini." Heewon kini berdiri, dia kemudian melihat ke arah pria yang kemarin hampir saja melakukan hal yang tidak senonoh padanya.
Heewon menatapku, tatapannya kali ini tidak seperti biasa.
Tatapan ini... adalah tatapan penuh dendam. Heewon berbisik padaku, menyampaikan kalau dia sendirilah yang akan membunuh orang yang hampir mencabulinya dengan tangannya sendiri, "Jadi, jangan sentuh bedebah itu." Ucapnya padaku di akhir kalimat.
"Baiklah, aku hargai ambisimu, Heewon. Aku tidak akan mengusiknya. Tetapi, jika kau perlu bantuan katakan saja padaku." Aku menggenggam tangannya yang agak kasar dan tersenyum tipis padanya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Heewon mendadak membelalakkan matanya.
Aku bertanya-tanya kenapa dia kelihatan sangat terkejut hingga bereaksi seperti itu, kulihat ke arah dia melihat, ternyata matanya tertuju ke arah tenda milik grup utama.
Mulut Heewon mengeluarkan segala sumpah serapah pada seorang pria yang sedang membawa seorang wanita dan seorang nenek-nenek dari grup terasingkan masuk ke dalam tenda tersebut tidak membawa satu barangpun.
"Ah, sialan! Mereka tidak hanya membawa seorang wanita, melainkan juga orang tua!" Ujarnya secara kesal berlari, mencoba menghampiri tenda itu lalu menghentikan mereka.
Baru saja beberapa langkah sebelum Heewon melangkahkan kakinya dan menghajar mereka, Dokja segera menahan aksinya.
"Tunggu. Heewon! Apa yang akan kau lakukan?"
"Kau buta?" Heewon kini berbalik dan menatap Dokja.
"Kalau gitu mereka bakalan kelaparan dong?" Ujar Dokja sambil terus menahan langkahnya.
"A-Aduh... apa?!" Dokja kini melihatku keheranan seperti tidak merasa bersalah. "Lebih baik diam dari pada kita ikut campur. Maksudku, masalahnya tidak akan terselesaikan jika kita menghajar mereka. Itu hanya memperparah keadaan, karena masalah utamanya adalah 'krisis makanan.' Jadi, jika kita mau menghentikannya, kita harus menghentikan masalah utamanya dulu."
"Tidak. Kau salah, Dokja. Justru sekarang masalahnya ini adalah grup utama yang semena-mena, jika kita menghabisi keseluruhan anggota mereka, maka secara tak langsung masalah juga akan terselesaikan." Aku menentang pendapat Dokja dan membela apa yang akan Heewon lakukan, yaitu menghentikan grup utama yang melakukan pelec*han terhadap grup terasingkan.
Dokja hanya diam, memilih untuk tidak membalas argumenku. Kini dia malah fokus menatap layar ponselnya, aku mendekatinya sontak merangkul bahu miliknya dan kemudian bergumam, "Dia sudah akan datang?"
"Ah! Kalian ini aneh, sudahla–"
BZZZTT!!
__ADS_1
"U-Uwaaahh!!"
Kilatan cahaya yang menyilaukan mata itu kembali muncul di udara, seperti tengah membelah langit-langit stasiun bawah tanah. Alhasil orang-orang yang berada di sekitarnya pun sontak berteriak panik, dan segera menjauh. Teriakan orang-orang yang memekik mulai terdengar di telingaku, teriakan mereka terdengar menggema sepanjang lorong.
Rasanya gendang telingaku mau pecah saja tiap kali ada Si Dokkaebi ini muncul.
...Tapi anehnya, Dokkaebi ini wujudnya tidak seperti Bihyeong? Apa si sialan Bihyeong itu sudah dipecat?
[Skill Omniscient Future Reader diaktifkan kembali.]
"Heeyy... B-Bagaimana kabar kalian semua belakangan ini? Selama ini kalian pasti bosan, kan?"
Ah. Aku ingat sekarang.
"A-Anu, temanku yang biasa mengurus channel ini sekarang tengah dalam proses hukuman disiplin jadi ti-tidak bisa hadir... maka dari itu pada skenario kali ini saya yang akan mengurusnya." Ujar si Dokkaebi yang ternyata adalah temannya Bihyeong. Pantas saja. Kataku dalam hati.
Aku meraih lengan Dokja dan berbisik kepadanya, menanyakan apakah dia sudah tahu ini akan terjadi. Dia kemudian hanya mengangguk pelan sembari menaruh jari telunjuknya pada bibirku, mengisyaratkanku untuk tidak membahas itu lagi.
"S-Sepertinya kalian terlihat sangat damai, ya? ..D-Dasar Bihyeong sial*n, dia selalu banyak berlagak dan memang terlalu memanjakan kalian..."
"Jadi, maka dari itu tingkat kesulitannya akan aku naikan! Mweheheheh!!"
TRINGG!!
Setelah berujar seperti itu, Dokkaebi tersebut pun menggerakkan tangannya dan membuat sedikit percikan cahaya.
__ADS_1
...Notifikasi dari sistem yang seperti spam kini kembali bermunculan.
[Penalti skenario telah ditambahkan.]