![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
"A-AAAKHHHH!! UDAH-UDAH! SAKIT!" Teriaknya kepadaku, aku melepaskan tanganku.
"Cepat pergi, atau aku akan segera menghajarmu sekarang juga." Ujar Dokja memasang wajah datarnya. Sayang sekali Namwoon menganggap itu hanya sekedar ancaman dari Dokja.
"Memangnya pria pengecut yang berlindung di balik kekasih kesayangannya bisa menang melawanku, ha?" Ujarnya meledek Dokja, Dokja yang mendengarnya mulai terpancing emosi dan menggepalkan tangannya, bersiap untuk menonjok wajah menjengkelkan milik Namwoon.
"Tidakkah kau bercermin dulu, Namwoon?"
"Kau menyebutnya pengecut padahal kau sendiri belum melawannya, bukankah yang pengecut sekarang adalah kau?"
[Karakter Kim Namwoon perlahan mulai membencimu!]
Aku bingung kenapa remaja satu ini begitu labil.
Namwoon mulai melangkahkan kakinya menjauh dariku dan mendekati tubuh Dokja, Dokja yang melihat Namwoon mendekat kembali memasang wajah datarnya.
Aku bisa merasakan aura pembunuh berdarah dingin dari Namwoon saat menatap ke arah Dokja. Ekspresi Namwoon perlahan-lahan semakin datar, bola mata yang tadinya berbinar-binar kini seketika berubah menjadi sedingin es.
Kini suasana di antara kita berubah total.
Namwoon menyetujui ajakan Dokja tanpa ragu. Aku yakin kalau Dokja ingin menghabisi Kim Namwoon bukan hanya karena dia telah menggodaku, tapi juga karena dia telah menganiaya nenek tadi yang hampir mati, untung saja telah aku selamatkan.
Aura gelap mencekam mulai mengebul di seluruh tubuh Namwoon. Inilah skill eksklusif dari atribut luar biasa miliknya.
Jarang ada yang bisa menggunakan skill sebelum akhir dari skenario pertama, akan tetapi Namwoon bisa melakukannya. Apakah ini alasannya kenapa si tokoh utama merekrut remaja aneh seperti Namwoon ini dalam party-nya?
BUGHHH!!!
Terdengar suara hantaman yang begitu keras. Bola mataku melihat pundak kanan Dokja yang terkena pukulan, pukulan Namwoon semakin brutal waktu ke waktu. Tetapi setelahnya Dokja berhasil menghindari pukulan milik Namwoon.
Terdengar konyol, tapi aku menyoraki Dokja dengan semangat.
BUGHH, BANG!! DUAGH!
Pukulan dengan kekuatan yang bisa mematahkan tulang dalam sekali hantam kini terus berhantaman dengan lantai kereta. Namwoon mulai frustasi, emosinya semakin meledak-ledak.
"ARGH! Kenapa susah sekali menonjok wajahmu itu?!" Namwoon kini berteriak.
Kekuatan Dokja mulai semakin kuat seiring waktu, caranya menghindari serangan dan pukulan Namwoon, memprediksi gerak geriknya yang secepat kilat itu... Aku yakin ia melakukannya dengan bantuan beberapa skill yang dibelinya dengan koin.
Kulihat Namwoon mengeluarkan sebilah pisau lipat berkilau yang memantulkan cahaya lampu kereta. Namwoon menunjukkan pisau lipat miliknya, aku hampir lupa. Dia ini remaja otaku yang tergila-gila dengan semua yang berbau militer. Si*l. Perasaanku mulai tidak enak mengingat kembali kejadian Kim Namwoon dan Kim Dokja dalam novel. Gini-gini daya ingatku kuat.
SWISHH..
Bunyi pisau lipat itu memenuhi pendengaranku.
SHUK, SRETT!
__ADS_1
Pisau lipat itu hampir mengenai area pundak milik Dokja, ah.. Dan hampir berhasil merobek tulang punggung dan jantungnya akibat Namwoon yang mengarahkan pisaunya agar tepat mengenai area jantung Dokja. Untung saja tidak kena. Namwoon melihat kondisi Dokja kini agak melemah terlihat senang. Namun, beberapa saat kemudian stamina Dokja kembali pulih seketika. Ia kembali bangkit lalu tanpa pikir panjang lagi mulai menggunakan skill yang ia beli.
Aku melihat notifikasi pada window-ku, waktu tersisa 30 detik.
Bilah pisau hanya menyisakan luka goresan, darah yang muncul dari kulit dan hanya tergores tidak tertembus. Waktu tersisa 30 detik lagi saat Namwoon mulai menjatuhkan pisau miliknya. Benar sesuai perkiraanku, Kim Namwoon sebentar lagi nasibnya akan sama seperti yang diceritakan pada novel.
CLANGG!
Suara pisau terjatuh pertanda bahwa Namwoon akan segera kalah. Dirinya menjatuhkan tubuhnya ke lantai lalu berlutut kepadaku dan Dokja, mengeluarkan kata-kata terakhirnya.
... Siapa sangka, rupanya dia sedang mengemis-ngemis meminta tolong untuk diselamatkan.
"Aku tidak mau..!! Aku belum mau mati!!! Huhuhu, tolonggg!"
Waktu semakin menipis, aku menyaksikan Namwoon mengemis meminta pertolongan setelah semua apa yang dia lakukan. Aku masih dalam keadaan menggenggam tangan Gilyoung, lalu aku membuka bibirku,
"Apa yang akan kau lakukan jika aku menolongmu? Kau akan berubah atau menjadi... babuku?" Aku kini mencoba memberikan kesempatan terakhirku padanya.
"A-Aku akan berubah! Aku janji!!"
Aku tahu perkataannya hanya omong kosong supaya aku menolongnya. Karakter Kim Namwoon tidak akan berubah semudah itu, belum lagi egonya yang bukan main. Tapi di sisi lain jika aku menjadikannya sebagai 'Companion' milikku, aku akan mendapatkan keuntungan besar. Tapi, aku tidak akan melakukannya.
3.
2.
"Bohong. Aku tahu kalau tidak akan berubah semudah itu, Namwoon."
[Sisa waktu telah habis.]
Suara jeritan terdengar keras dan Kim Namwoon, kepalanya kini telah meledak. Darahnya menyembur kemana mana.
Dokja menatap wajahnya pada jendela kereta, kulihat di sana ekspresi wajahnya yang campur aduk.
Ia kemudian mengusap darah yang terlihat menempel di pipinya, tetapi darahnya tidak juga kunjung menghilang. Ternyata darah itu menempel pada jendela.
Kemudian notifikasi mulai bermunculan di window milikku.
[SELAMAT. ANDA TELAH MEMBUNUH TOTAL 248 MAKHLUK HIDUP.]
Riwayat pembunuhan:
[2 belalang, 246 telur belalang.]
[Koin yang anda peroleh berkurang setengah karena makhluk yang anda bunuh tidak melawan.]
[Anda memperoleh 12.400 koin!]
__ADS_1
[Anda berhasil memperoleh Pembunuhan Massal karena telah membunuh banyak makhluk hidup.]
Banyak notifikasi yang muncul di hadapanku, tetapi yang ku pedulikan hanyalah Dokja, pacarku– yang sekarang memiliki luka-luka hampir di sekujur tubuhnya akibat baku hantam dengan wibu.
Aku berlari ke arah Dokja lalu memeluknya. Aku menatapnya garang dan memukul bagian perutnya pelan karena tidak tega kalau ku pukul dia sekuat tenaga.
"Kalau kau sampai mati, aku bakalan ikut mati." Alisku mengkerut total saat menatapnya, Dokja terkekeh geli mendengarnya dan menganggap itu sebagai lelucon.
"Ih, aku ini serius tau, Dokja!" Dokja mengangguk-angguk sambil menepuk-nepuk kepalaku.
"Iya, iya. Aku percaya."
Notifikasi sistem kembali muncul, kali ini notif tentang orang-orang yang selamat.
Kulihat lalu ku baca notifikasi itu. Betapa terkejutnya aku ketika mendapati si nenek yang tadi aku tolong tidak ada dalam daftar orang yang selamat. Kok bisa?!
ORANG-ORANG YANG SELAMAT:
Hyunsung Lee.
Sangah Yoo.
Gilyoung Lee.
Myungoh Han.
Dokja Kim.
Yeong Dal Mi.
Yang ada hanyalah nama orang-orang yang memang seharusnya selamat seperti yang kubaca dalam novel-nya.. ini sangat janggal. Apakah aku memang tidak boleh terlalu mengubah alur cerita novel ini? Pikiranku mulai ngalur ngidul.
KIIIITTT..
Tubuhku terasa sangat lemas saat keretanya tiba-tiba kembali berjalan, aku memegang lengan Dokja karena hampir terjatuh saking lemasnya. Aku lupa, aku masih punya darah rendah bahkan setelah menjadi karakter dalam novel.
Derak suara rel kereta terasa begitu akrab di telingaku, aku.. kini lagi-lagi merasa dejavu dengan situasiku. Kulihat ekspresi wajah orang-orang kala itu nampak kebingungan, marah, sedih, gelisah.. campur aduklah berbagai emosi itu menjadi satu.
Tak lama setelah kereta berjalan, keretaku kini sudah tiba di rel permukaan atas tanah dari Jalur 3.. atau 4 ya? Berarti antara Apgujeong dan Oksu.
Pemandangan Seoul yang ada di hadapan para orang yang selamat bukan lagi pemandangan yang biasa mereka kenal seperti di dunia mereka dulu.
Tak lama setelah kereta kami tiba, nampak asap hitam dan debu tebal tengah menyelimuti kota yang kini telah hancur.
Aku melihat jembatan Sungai Han kini telah roboh, permukaan sungai juga memerah akibat dipenuhi oleh mayat tentara. Dan di antara reruntuhan bangunan tampak monster-monster raksasa... salah satunya berwujud seperti ular Cobra, namun berwarna biru yang mengobrak-abrik tank layaknya menginjak mainan anak TK.
[Skenario Utama #1. Pembuktian Kualitas Dirimu telah berakhir.]
__ADS_1
Satu dunia seperti sedang hancur, atau lebih tepatnya.. dalam proses kehancurannya. Lalu terlahir kembali menjadi dunia yang baru, sebuah kehidupan baru.