![Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]](https://asset.asean.biz.id/reborn-to-survive---omniscient-reader-.webp)
Segerombolan orang sekarang seperti semut kelaparan ini mulai memanas dan menjadi-jadi saat melihat tingkah laku Dokja, aku terlalu bingung mau bagaimana.
"Hentikan. Baiklah kalau begitu, aku akan membagikan makanannya." Ujar Dokja akhirnya mengeluarkan suara.
"Ah~ Dokja Kim? Apa kau sudah berubah pikiran sekarang?"
"Tidak. Aku tidak akan membagikan makanannya secara gratis, kalian semua harus bayarku."
Dalam sekejap bisik-bisikan pun terdengar, orang-orang mulai kebingungan dengan ucapannya itu.
Dokja kini mulai berdiri di hadapan kerumunan para orang-orang yang sedang mendemo, sebelumnya dia menyerahkan sekantung makanan padaku, menyuruhku untuk menjaganya. Dokja mulai mendekat ke arah Cheon Inho yang masih membelalakkan matanya.
"Dengar, ya. Saya ini bukan sukarelawan yang ingin berdonasi secara cuma-cuma pada kalian dan nyatanya, saya sama seperti kalian. Lalu, saya bukannya memonopoli makanan ini... saya hanya tidak bisa percaya dengan geng Cheon Inho." Dokja menjelaskan secara tegas pada semua orang yang ada di sana, termasuk Cheon Inho yang mendengarnya.
"K-Kalau gitu... berapa..? Bisa bayar pakai uang?"
"Uang tidak berlaku sekarang, saya hanya menerima koin."
**
Setelah situasi telah mereda, orang-orang demo tadi sekarang tengah sibuk menggerutu, dan yang tersisa hanyalah orang-orang yang dekat dengan Dokja.
"Anu... Dokja, Aluna.. apa itu keputusan yang tepat?" Tanya Hyunsung dengan khawatir, "Bukannya... 50 koin permakanan itu mahal, ya...?" Lanjutnya dengan ragu.
"Mana ada yang gratis di dunia ini...? Jadi, itu adalah keputusan yang wajar saja. Dokja, aku juga akan membayar karena aku tidak butuh yang gratis."
Ini. Ini adalah salah satu hal yang aku sangat sukai dari Jung Heewon.
Heewon kemudian menjabat tangan Dokja, berterima kasih padanya dan memperkenalkan dirinya pada kami semua, termasuk aku, walau mungkin dia sudah tahu kalau aku telah mengenalnya.
"Oh ya. Sangah, Hyunsung. Sadarlah kalah ini bukan saatnya kalian berekspresi seperti itu, lagian kalian tidak akan berpikir akan memakannya secara cuma-cuma seperti orang yang mendemo itu, kan?" Dia kini menatap galak pada kedua orang itu.
Sangah dan Hyunsung yang mendengar perkataan Heewon tadi pun jadi tersadar, mereka kini meminta maaf pada Dokja dan membayar makanan mereka.
"Em... aku juga mau bayar." Ucap Gilyoung sambil mendongakkan kepalanya.
Gilyoung Lee kemudian menyentuh jari telunjuk Dokja lalu menyebutkan nominal koin yang akan dibayarnya.
__ADS_1
"Ng? Kenapa jadi 20 koin? Kayaknya kau kelebihan koin?"
"Tidak. Itu bayaran untuk coklat yang diberikan oleh Mama tadi siang."
Apa yang anak ini bicarakan. 'Mama'?
"Astaga, anak ini..." Aku reflek mengucapkannya dan menepuk pelan jidatku.
Dokja secara sontak menatap Gilyoung dengan shock, matanya kemudian berkedip-kedip dengan cepat. Begitu juga dengan reaksi Hyunsung. Sangah dan Heewon membelalakkan matanya, mulut mereka kini menganga seketika.
"Astaga! Apa Dokja dan Dal Mi sudah mempunyai anak?" Ujar Heewon dengan keras, sembari menutup mulutnya yang menganga menggunakan tangan.
"S-Sejak kapan..."
Aku kembali menepuk jidatku dengan frustasi. "Tidak, tidak, tidak... Nampaknya kalian salah paham, aku dan Dokja belum menikah, apalagi sampai melakukan 'itu'... Gilyoung memanggilku dengan sebutan 'Mama,' karena aku menyuruhnya menganggapku dan Dokja sebagai pengganti orang tuanya."
Mereka yang sebelumnya tampak bingung akhirnya mengangguk-angguk paham setelah mendengar penjelasanku tadi. Sangah juga tampak menghela nafasnya dengan lega, aku tidak tahu pasti apa yang dia pikirkan. Sedangkan Gilyoung, dia hanya memiringkan kepalanya sambil menatapku kebingungan, aku membalasnya dengan senyuman kikuk-ku lalu bergedek-gedek.
**
Malam pun tiba, kegelapan mulai menyelimuti seluruh wilayah bawah tanah stasiun Geumho yang tadinya sudah gelap, kini menjadi makin gelap. Untungnya ada sedikit penerangan dari senter dan lilin.
Dokja sudah menyuruhku untuk tidur, tapi aku menolaknya dengan alasan belum mengantuk sama sekali.
"Kau belum ngantuk, atau mau kutiduri?"
"...Kau mau ku hantam?" Aku tidak bisa mencerna kata-katanya ini yang bermakna negatif atau positif.
Kata-katanya yang ambigu ini membuat otakku travelling. Tak sempat kubalas kalimat Dokja itu, mendadak ada sekelompok orang yang menghampiri kami... Memang benar seperti perkiraan Dokja, mereka adalah grup Cheon Inho. Namun ada beberapa orang sekitar... 2 sampai 4 yang berasal dari grup terasingkan.
Inho mengatakan kalau dia akan membeli setengah dari persediaan makanan milik Dokja. Dia juga memberikan pernyataan kepadanya kalau Dokja telah memilih keputusan yang buruk dan akan menyesalinya setelahnya. Aku kemudian berujar kepada Inhobkalau kami berdua tidak akan menyesal setelah membuat keputusan apapun itu. Karena sudah tahu resikonya akan jadi seperti ini.
"Inho. Kau yang akan menyesal, karena aku tahu lebih banyak." Kataku menyeringai dengan sombong.
Inho terkekeh lalu menggeleng tak habis pikir, dia kemudian langsung berjalan menjauh dari kami tanpa mengatakan apa-apa lagi setelah melakukan transaksi koin dengan Dokja.
Keesokan paginya, si bajing*n ini mengumpulkan seluruh grup yang diasingkan dan mengerumuninya. Inho lagi-lagi memonopoli makanan, tetapi kali ini dia menggunakan skill [Incite] miliknya yang berfungsi untuk menghasut pola pikir orang.
__ADS_1
"Pada akhirnya grup utama yang memonopoli makanan, kan! Bukankah kau berniat untuk melemahkan kekuatan grup utama?" Ujar Heewon kini emosi.
"Benar. Aku berharap orang-orang bergerak dengan sendirinya."
"Kalau begitu kau harusnya tidak harus menjual makanan pada mereka, dong. Situasi sama sekali tidak akan berubah!"
"Berubah, kok. Nih buktinya aku dapat koin?"
Mata Heewon melebar, dia menatap Dokja dengan keheranan lalu dia memegang kedua bahuku dan menggoyang-goyangkannya hingga aku merasa pusing.
"Dal Mi. Apa yang sebenarnya Dokja pikirkan? Apa yang membuatmu sudi pacaran dengannya? Apa dia pernah mempunyai kasus kejahatan sampai ditangkap polisi? Apa dia bisa dipercaya?!"
Dokja kini matanya menyipit, menatap tajam pada Heewon.
Sedangkan Sangah tertawa kecil saat melihat Heewon yang menanyaiku segudang pertanyaan yang iya-iya, dengan keadaan masih menggoyang-goyangkan bahuku.
Sangah pun mulai membuka mulutnya, "Ahaha... aku percaya kok–"
"Tidak. Jangan sekali-kali percaya dengan omongannya itu." Ujarku memotong ucapannya.
"Sudah, sudah... sekarang lepaskan dia." Dokja kini berusaha melepaskanku dari Heewon, Heewon pun dengan tak rela akhirnya melepaskanku.
"Kau menyisakan makanan untuk dirimu sendiri, kan? Dokja?" Heewon yang mulai tenang sekarang kembali bertanya.
"Tidak. Sudah aku jual semua." Jawab Dokja dengan ekspresi menyeramkan.
Suasana menjadi hening seketika. Mulut Heewon hanya bisa menganga lebar dengan matanya yang ikut membelalak, aku sungguh kasihan melihat salah satu korban Dokja Kim ini.
"Rupanya Dokja mengajak kita diet bersama, ya." Aku tersenyum sarkas padanya.
Beberapa detik setelahnya keheningan diantara kami, datanglah Gilyoung menghampiriku dengan membawa biskuit coklatnya lalu menyodorkan itu kepadaku. Kelihatannya dia mendengarkan pembicaraan kami.
Aku tersenyum hangat pada Gilyoung yang saat ini sudah seperti anak ayam kecil, kuelus-elus surai rambut miliknya dan mencubit kedua pipinya dengan gemas. Aku kemudian berkata pada Gilyoung, "Astaga... habiskan sendiri saja, kau ini masih dalam masa pertumbuhan, jadi harus banyak makan. Mengerti?"
Dokja yang mendengarku berkata seperti itu pada Gilyoung pun ikut tersenyum, tetapi kali ini dengan hampa.
Ia merasakan sesosok 'Ibu' yang sebelumnya jarang dirasakannya, kini ada dalam diriku. Dokja merasa nostalgia dengan rasa ini, keharmonisan, kehangatan dan rasa kasih sayang dari seorang Ibu pada anaknya.
__ADS_1
[Aku jadi agak kangen dengan Ibuku.]