Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]

Reborn To Survive. [OMNISCIENT READER]
BAB 13. "Negoisasi (?)"


__ADS_3

"Aluna...? Itu nama aslinya?" Tanya Joonghyuk semakin dan makin menguatkan cengkeramannya, mengira kalau aku memberi tahunya nama palsu.


"Bukan urusanmu." Jawab Dokja ketus.


"Bicara yang sopan." Ujarnya mengarahkan tinjunya pada Dokja namun dengan cepat ditangkis Dokja.


"Aku lebih tua darimu, Pro Gamer Yoo Joonghyuk. Kau yang harus memperlakukanku dengan sopan." Dokja berusaha menendang bagian perut Joonghyuk, namun berhasil dihindarinya.


Lagi-lagi ekspresi wajahnya menjadi terkejut. Namun kali ini lebih was-was terhadapku dan Dokja.


"Kau... juga tahu aku?"


"Tentu saja. Aku ini karyawan perusahaan game."


"Begitukah?" Jonghyuk tampak mengenang masa lalunya, matanya kini sedikit sendu penuh ekspresi nostalgia. Akan tetapi perubahan itu hanya sebentar saja.


"Satu hal yang ingin kutanyakan."


"Silahkan." Kata Dokja mempersilahkannya.


"Bagaimana caramu bisa selamat saat di subway?"


Sudah kuduga dia akan mempertanyakan hal ini.


"Kalau aku menjawabnya, apa kau akan memberiku sesuatu?"


"Tergantung." Jawab Joonghyuk. Aku tahu kalimat yang dilontarkannya itu bohong, si*l*n Joonghyuk ini tidak mudah melepaskan seseorang jika sudah digenggamnya.


Dokja kemudian menceritakan asal-usulnya, dan bagaimana dia dan aku bisa selamat dari skenario pertama. Tapi versi ringkas dan 'sedikit' menaruh bumbu kebohongan pada ucapannya.


"Kau menyelesaikan skenarionya dengan membunuh serangga?..."


"Ya. Kami memang beruntung saat itu."


Joonghyuk kebingungan. Seharusnya pada novelnya, orang-orang di gerbong #3807 saling bunuh satu sama lain, sampai orang yang hanya tersisa Hyunsung Lee dan Namwoon Kim.


"Matamu lumayan jeli juga. Tapi, bagaimana kau bisa tau kalau ada yang bawa serangga di gerbong itu?"


Aura membunuh kembali menyelimuti tatapan Joonghyuk. Aku bisa mendengar suara hatinya, begitu berisik. Joonghyuk kembali mempertanyakan apa saja yang terjadi selanjutnya di stasiun itu. Kemudian saat Dokja selesai menjelaskan secara detail, ia kembali berpikir lalu kembali menatap tajam ke arahku.


"Kau... regressor?" Dia melangkah mendekat ke arahku, masih dalam keadaan tangannya yang memegang leher Dokja.


"???" Aku menatap tajam balik ke arahnya, memandangnya dari atas sampai bawah dengan sinis.


"Maksudmu?" Aku keheranan. Sebodoh apa sih dia sampai-sampai mengiraku Regressor juga?

__ADS_1


"Gimana kau-"


"Sama sepertinya." Celetukku mulai berusaha untuk berdiri.


"Aku membunuh serangga. Namun dalam jumlah yang lebih besar, aku membunuh dua serangga dan baru kusadari kalau serangga itu sedang bertelur. Kalau masih tidak percaya, kau tanyakan saja pada anak yang ada di seberang sana." Aku kemudian menunjuk pada anak laki-laki yang kumaksud, Gilyoung. Dia yang melihatku menunjuknya pun melambai-lambaikan tangannya dari stasiun Oksu.


Orang aneh satu ini masih tak bergeming mendengarkan penjelasanku yang sangat masuk akal untuk ditelan otaknya.


[Jika bukan dia juga yang membunuhnya... maka siapa?]


Aku bisa mendengar suara hati Joonghyuk.


[Karakter 'Yoo Joonghyuk' mengaktifkan Mata Sage.]


[Skillmu mendeteksi bahaya! Mata Sage telah diblokir.]


[Mata Sage telah diblokir.]


[Mata Sage telah diblokir.]


Notifikasi spam lalu bermunculan di window-ku. B*ngs*t ini nampaknya mempunyai Trust Issues. ; Orang yang tidak bisa percaya dengan orang lain.


Kilat berkelebat mengelilingi Joonghyuk, postur tubuhnya juga mulai sedikit goyah. Joonghyuk menutupi sebelah matanya dengan tangannya yang satunya. Ekspresi wajahnya sangat marah, ia kebingungan.


"Kalian.. siapa kalian sebenarnya?!"


"Lepaskan dia. Aku bilang lepaskan, Yoo Joonghyuk!" Aku kini lebih memberontak.


"Jika aku tidak mau?"


"Aku akan memberikan informasi yang kau tidak ketahui jika kau melepaskannya. Aku orang yang tahu lebih banyak tentang 'regressi-mu,' dan kesalahan-kesalahanmu saat ber-regresi. Aku akan memberi tahumu masa depan.. tidak, bahkan akhir dari dunia ini."


"Tapi, sekali lagi aku mengkonfirmasikan kalau aku bukan seorang Regressor."


Joonghyuk sekali lagi membeku dan membelalakkan matanya. Bukan hanya dia saja, tapi juga Dokja yang mendengar ucapanku pun ikut terkejut. Namun, tatapan terkejut itu tidak bertahan lama, dan segera tergantikan menjadi tatapan yang penuh keyakinan.


Dulu, saat aku dan Dokja sekelas dia pernah mengrekomendasikanku sebuah novel karena aku lumayan suka mengoleksi novel. Yap, benar. Novel yang kumaksud iadalah [Tiga cara untuk bertahan hidup setelah dunia hancur].


Itulah sebabnya dia tidak terlalu terkejut saat mendengar ucapanku tadi. Dia tidak tahu saja, kalau selama ini aku yang membacanya.


"Kenapa malah diam? Lepaskan dia. Dia tidak akan menyerangmu."


[Karakter 'Yoo Jonghyuk' mengaktifkan skill Lying Detector.]


[Lying Detector telah mengkonfirmasi ucapanmu sebagai kebenaran.]

__ADS_1


Joonghyuk perlahan melonggarkan tangannya pada leher Dokja. Namun tetap tidak melepaskannya dengan mudahnya.


[Mustahil. Ada 'prophet' selain Anna Croft? Bahkan di korea?]


"Katakan padaku. Dari mana asalmu? Bagaimana kehidupanmu sebelumnya?"


"...Apa kau seorang prophet?" Joonghyuk kemudian menatapku. Alisnya menekuk saat sedang berpikir serius, sekilas dia terlihat agak mirip denganku. Dia memberiku segudang pertanyaan yang tidak bisa aku jawab begitu saja, dia sudah seperti wartawan yang kepo dengan urusan selebriti papan atas.


"Santai, santai.. Aku dari keluarga Amerta, anak tunggal keluarga Amerta. Kau pernah mendengarnya?


"Amerta.. artinya 'Kekal' atau 'Abadi' dalam bahasa Sanskerta." Aku sepertinya terlalu banyak mengoceh tentang diriku saja, dan Joonghyuk juga tidak meresponku saat aku melanjutkan perkenalan diriku.


"Hmm... lalu yang lainnya.. aku tidak bisa memberikan informasi kepadamu secara gratis."


"...Berapa banyak yang kau inginkan." Nada bicara Joonghyuk kini terdengar agak menekan. Ah, sepertinya dia akan marah.


"Ahah~! Aku hanya bercanda. Tapi jika itu maumu, aku menginginkan kau menjadi 'Companionku.'"


"Oh, dan jangan lupakan orang yang sedang kau cekik juga. Jika kau menjadikan kami sebagai Companionmu, aku akan berjanji memberitahumu sesuatu jika kita kebetulan bertemu lagi. Setelah aku masih hidup, sih." Aku dengan bangga tersenyum licik setelah mengucapkan kalimatku.


"Kau sedang mencoba bernegoisasi denganku, huh?" Kulihat ekspresi wajah Joonghyuk tersenyum tipis– sangat tipis. Dokja bahkan tidak menyadarinya.


"Nampaknya seperti itu."


"Baiklah, bagaimana? Cepat. Waktunya hampir habis nih." Aku menatap Timer. Waktunya tersisa semenit lagi sebelum skenario kedua ini berakhir.


[Bukan cuma di skenario ke-46, dia juga bakal berguna waktu aku harus menghadapi si Zalatustra sialan itu. Ah, tapi… apa aku bisa mempercayainya begitu saja?]


[Waktu skenario berakhir dalam 50 detik.]


"Yeong Dal Mi... Kau lumayan berani juga sebagai seorang wanita. Aku menyetujui tawaranmu itu, tapi, dengan syarat kau akan menguntungkanku." Joonghyuk perlahan menjauh dariku dan melangkah ke ujung jembatan yang roboh.


"Ada satu hal yang ingin ku tanya. Jika kau benar seorang 'prophet,' kau harusnya tahu nasibmu dan kekasihmu setelah ini." Ujar Joonghyuk pada Dokja.


Jantungku berdetak tak karuan mendengar ucapan Yoo Joonghyuk. Cengkraman pada kerah Dokja kini semakin mengerat. Dokja mulai membuka mulut, tetapi dialognya tidak dapat terdengar olehku.


Joonghyuk tersenyum berseri-seri kepada Dokja. Tangannya kemudian mengangkat tubuh Dokja ke atas laut. Firasatku memburuk.


[Skill Omniscient Future Reader diaktifkan.]


Mataku membelalak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku segera berlari menghampiri Joonghyuk.


Tidak, tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkannya melemparkan pacarku dua kali ke dalam mulut monster busuk itu.


Saat berlari aku bisa merasakan angin berhembus kencang yang menerpa surai rambutku. Aroma darah bercampur dengan aroma Sungai Han lagi-lagi menusuk hidungku, seekor Ichthyosaurus tampak bersiap-siap membuka lebar mulutnya seperti sudah mempersiapkan Dokja untuk menjadi tamunya sedari awal.

__ADS_1


Tetapi kenapa hanya Dokja, setidaknya dia juga harus melemparku ke dalam mulut Ichthyosaurus itu, kan?


"Ternyata benar dugaanku. Kim Dokja, kau juga seorang prophet."


__ADS_2