Reinkarnasi Vanessa

Reinkarnasi Vanessa
Lobster Meresahkan ಥ⁠‿⁠ಥ


__ADS_3

Sesuai dengan misinya kemarin malam hari ini Vanessa berencana akan bertemu dengan Marquess yang kebetulan tengah lewat di jembatan yang di beritahukan oleh sistem.


Dengan aktingnya Vanessa berpura-pura terjatuh di dekat sang Marquess. "Aduh ...," ringis Vanessa merasakan benturan kuat di ****** teposnya itu.


"Sakit banget anjir!" batin Vanessa.


"Apakah ada baik-baik saja nona?" tanya pengawas Marquess, hendak menolong Vanessa.


"Enggak!" sungut Vanessa tentunya di dalam hati. "Saya baik-baik saja tuan," jawab Vanessa dengan lembut tak lupa menerima uluran tangan dari si pengawal Jack.


Setelah Vanessa berdiri mereka hendak pergi, tetapi dengan cepat Vanessa menghentikan mereka. "Tunggu dulu!" sentak Vanessa.


"Ada apa nona, kami masih banyak kerjaan jangan menghalangi kami!" sinis Jack, tak ayal dia kesal dengan Vanessa entah apa penyebabnya, mungkin alergi wanita dia ini, tapi kan Vanessa gadis?


"Marquess terimalah ini, sebentar lagi kebahagiaan akan datang kepadamu!" senyum Vanessa setelah memberikan liontin itu. Vanessa membungkuk lalu pergi dari sana.


"Bukankah dia gadis yang kemarin Jack?" gumam Marquess, menatap punggung itu yang tengah mengecil tertelan oleh kejauhan.


"Sepertinya begitu Marquess."


Marquess menelisik liontin pemberian wanita cantik yang sempat membuatnya sedikit terpesona, tetapi kembali tersadar akan seseorang yang tengah menunggu kehadirannya.


.  .  .


Tak sadar Vanessa malah berjalan ke arah sungai yang sangat jernih bahkan banyak anak-anak yang tengah bermain apalagi air sungai tidak besar. Vanessa tersenyum manis melihat mereka.


"Hay lady?" sapa seorang gadis remaja, yang begitu pangling melihat wajah cantik Vanessa di tambah di terpa matahari pagi sehingga kulit putihnya nampak sangat bersinar.


"Hay, juga!" balas Vanessa tersenyum sehingga membuat kedua remaja itu tersenyum malu menunjukkan semburat merah di kedua pipinya mereka.


Vanessa menggeleng pelan, lalu mulai membuka sepatunya agar tidak basah terkena air. Vanessa begitu senang mendapatkan lobster kecil Vanessa memetik daun talas untuk menjadi wadahnya.


"Apa itu lady?" tanya seorang anak laki-laki, bahkan teman-temannya sudah ikut berkerumun melihat Vanessa.


"Hewan apa itu? Bentuknya sangat aneh!" ngeri bocil yang satunya.


"Buat apa ini lady? Apakah hewan kecil ini berbahaya?" tanya yang lainnya mencecar Vanessa dengan pertanyaan polos mereka.


Vanessa pun dengan senang hati menjawab. "Ini namanya lobster, dan ..., ini mau lady masak!" senyum Vanessa melihat raut terkejut anak-anak itu.

__ADS_1


"Apakah bisa di makan? Melihatnya saja hewan ini sangat mengerikan!" delik yang satunya meringis ngeri.


"Mau mencoba tidak? Di jamin ini sangat enak, jika sudah mencoba pasti kalian akan sangat ketagihan!" tantang Vanessa.


"Benarkah?" para anak laki-laki sibuk berdiskusi ingin mencoba, dan pada akhirnya mereka setuju.


Pada akhirnya anak laki-laki itu pada setuju dan kini mereka ikut membantu Vanessa untuk menangkap lobster air tawar itu. Macam-macam keseruan terjadi di antara mereka, ada yang takut terkena gigitan lobster ada juga yang menakut-nakuti temen mereka pake lobster.


Para petani yang mengurus sawah mereka tersenyum melihat keseruan para anak-anak yang tengah membantu seorang lady menangkap sesuatu, jarang-jarang ada seorang lady cantik mau turun ke sungai untuk mencari sesuatu.


. . .


Duke Harlan kini sudah berada di perjalanan untuk menuju ke wilayah selatan tepi Barat karena permintaan para Marquess, mereka tidak bisa datang ke kerajaan karena masalah problem.


Duke Harlan menyempatkan dirinya untuk melihat keadaan sang anak, bagaimana pun dirinya adalah ayahnya, Duke Harlan tidak membenci putrinya tetapi dia hanya kecewa, rumor tentang dirinya yang membenci putri kandungnya itu salah besar.


Kebetulan sekali di tepi jalan dia melihat seorang gadis cantik yang tengah membawa sesuatu tak lupa dengan kaki putrinya yang habis terkena lumpur.


"Kenapa dia begitu mirip dengan putriku?" batin Duke Harlan. "Kalian, carilah penginapan di dekat sini, saya akan pergi ke suatu tempat sebentar, jangan ada yang mengikuti!" titah sang Duke mutlak, dan berakhirlah para rombongannya pergi duluan.


Duke Harlan menggunakan kekuatan teleportasi nya hingga dia sampai di depan gubuk tempat pengasingan putrinya bungsunya itu, gubuk itu nampak sangat asri di tambah kolam kecil di sampingnya tak lupa halaman yang begitu bersih dan menakjubkan, saat asik memandangi halaman gubuk itu, sang Duke di kejutkan oleh suara lembut seseorang.


"Helo!" sentak Vanessa melambaikan tangannya di depan wajah Duke Harlan yang masih diam ngebung. "Aneh banget ni orang," dengus Vanessa.


"Bibi Fuu, paman Jianli, kalian di mana!" teriak Vanessa menatap ngeri ke arah Duke.


"Apa kau tak di ajarkan sopan santun sehingga berteriak di depan orang tua?" akhirnya sang Duke buka suara.


"Aduh, paman ..., giliran begitu saja bahas sopan santu, tadi saya bertanya dengan baik, anda mencari siapa, begitu!" sungut Vanessa merasa lelah.


"Apa kau benar-benar tidak mengenalku?" tanya sang Duke memastikan, sebenarnya apa yang terjadi dengan putrinya ini?


Vanessa menyerngit bingung. "Ya ..., gak kenal paman, anda ke sini mau mencari siapa? Bibi Fuu? Atau paman Jianli?" cecar Vanessa tak lagi memanggil kedua anak buahnya itu dengan embel-embel dayang dan prajurit.


"Saya ke sini untuk menjenguk anak saya!" tegas Duke.


Vanessa terkejut, apa jangan-jangan pria di depannya ini ...?


"Paman ayahnya bibi Fuu?!" pekik Vanessa berbinar terkejut. "Astaga ..., aku tidak menyangka bibi Fuu mempunyai ayah setampan paman, huh!" dengus Vanessa lalu pergi masuk untuk mencari dayang Fuu.

__ADS_1


Dayang Fuu melotot terkejut saat tau apa yang di maksud oleh tuan putrinya ini. "Kenapa bibi tidak menceritakan ku bahwa paman itu adalah ayahnya bibi!" kesal Vanessa menggandeng lengan bibi Fuu.


"Ini anaknya paman," senyum Vanessa menyuruh dayang Fuu duduk.


Dayang Fuu meringis takut melihat tatapan tajam sang Duke. "Putri, itu ayah anda, bukan ayah bibi ...," bisik dayang Fuu. "Itu tuan Duke Harlan ayah anda sendiri putri!" sambungnya.


Vanessa melotot tajam. "Wah, ngadi-ngadi Lo ngab!" nah keluar sudah bahasa gaulnya. "Masa, dia ayahku? Yang sudah membuang ku! Lalu mau apa kakek tua peot ini kesini?" pungkas Vanessa menatap dayang Fuu dan ayahnya secara bergantian.


"Saya tidak membuang mu Vanessa, dan apa-apaan tadi, kakek peot? Ayah masih tampan seperti!" sanggah Duke menyangkal ucapan Vanessa bahwa dirinya ini tampan tidak peot.


"Dih! Jadi, kenapa ayah ada di sini? Dan maksud, tujuan?" singkat Vanessa, ingatkan dia ini masih menaruh benci pada pria yang mengaku sebagai ayahnya ini.


"Apa seorang ayah tidak boleh menjenguk putrinya sendiri?"


"Boleh saja, tapi aneh aja, ayah yang tak adil ini mau menjenguk putri terbuangnya ini!" sinis Vanessa.


"Ayah tidak membuang mu Vanessa, ayah hanya mengasingkan di--"


"Memangnya ada seorang ayah yang mengasingkan putri kandungnya sendiri dengan waktu dua tahun demi anak tirinya begitu?" serobot Vanessa, dia tidak mau tertipu dengan kebaikan ayahnya si Vanessa asli ini, mengingat percakapannya dengan Vanessa asli bahwa dirinya akan di jadikan tumbal ritual babi ngepet, untuk mengumpulkan pundi-pundi koin emas.


Pada akhirnya Duke Harlan harus kalah telak dengan pertanyaan sang putri.


. . .


Sorenya Vanessa membuat tungku menggunakan batu besar, dia akan memasak siput dan lobster yang dia tangkap, dayang Fuu hanya mengikuti perintah sang tuan putri yang aslinya dia takut melihat bentuk lobster kecil yang sangat mengerikan itu.


Anak-anak yang tadi siang juga ikut membantu Vanessa, mereka nampak sangat antusias, sedangkan di kejauhan sang Duke menatap perubahan pada putrinya itu.


"Ayo makan!" seru Vanessa setelah semuanya Mateng, mereka begitu ragu untuk mencoba lobster itu.


"Kau saja yang duluan!"


"Ck, kau saja, aku tidak berani!" para member epep itu terus berdebat sehingga salah satu temannya berteriak membuat yang lainnya terkejut.


"Ada apa?"


"Lady, ini sungguh nikmat!" seru anak itu ikut memakan lobster nya dengan cepat.


. . .

__ADS_1


Stay Wak Wak Wak gaes 🥳


__ADS_2