
Keesokan paginya Vanessa melakukan aktivitas seperti berjalan-jalan melihat aktivitas para warga di sana, mereka tidak bisa bertani karena kekeringan yang melanda, mereka ingin sekali membayar jasa penyihir subur untuk menyuburkan tanah mereka, tetapi mereka tidak mampu.
"Huh, sistem, bagaimana kalo aku memasak dan membagikannya ke mereka semua, aku sungguh kasihan!" lesu Vanessa tak bersemangat melanjutkan perjalanannya karena beberapa pengemis terduduk sakit menahan lapar.
"Coba saja tuan rumah, siapa tau misi anda nanti bisa berlangsung dengan baik!" jawab sistem.
Vanessa berbelok ke arah pantai di sana sudah banyak para nelayan yang tampak lesu karena hasil panen mereka gagal, di lihat dari kondisi air laut yang keruh dan kotor membuat ikan pada mati dan tak betah.
"Tunggu, ini mau di kemanain?" tanya Vanessa mencegah seorang bapak-bapak yang hendak membuang cumi-cumi itu.
"Mau di buang lady, karena tidak mungkin ada yang mau membeli hewan aneh ini!" sahut si bapak itu.
"Tunggu sebentar!" Vanessa meronggah kantung gaunnya lalu menemukan dua keping koin emas. "Ini saya beli, segini cukup kan?" tanya Vanessa.
"Lady, yakin mau membeli hewan aneh ini? Dan ini koinnya lady tidak salah kasih?" gugup si bapak karena baru pertama kali memegang koin emas seperti ini.
"Tidak, sudah paman cepat pulang nanti teman paman datang!" suruh Vanessa, tak mau si bapak ini di serbu nanti sama kawan-kawan yang lain itu.
Vanessa membawa dua ember kayu cumi-cumi itu menuju dapur kediaman Marquess yang berada di belakang, para pelayan menatap ngeri ke arah hewan yang di bawa oleh Vanessa.
"Apa yang lady bawa?" tanya salah satu pelayan.
"Cumi-cumi, bisa kalian tolong aku, ini sangat berat!" ringis Vanessa.
Sesampainya di belakang Vanessa meminta para pelayan itu untuk tolong membantunya membersihkan cumi-cumi itu, untuk di rebus nanti, pada awalnya mereka menolak tetapi karena Vanessa anak Duke mau tak mau mereka harus membantu.
Setelah semuanya siap Vanessa beralih ke dapur dia meminjam sumpit untuk mencepol rambutnya yang sedikit panjang, tak lupa juga dia meminjam celemek salah satu koki.
"Em ..., boleh minta tolong?" tanya Vanessa.
Mereka sedikit terkejut dengan anak bangsawan satu ini, benar-benar sangat sopan bahkan dia berani meminta tolong, biasanya anak bangsawan tinggi sedikit sudah merasa seperti Dewi, dan menjelek-jelekkan yang di bawah.
"Apa itu lady?"
"Tolong panggilkan aku dayang Fuu," ucap Vanessa.
Mereka tidak di perbolehkan untuk ikut serta membantu Vanessa karena permintaan si empunya, jadi Vanessa bisa memasak dengan tenang.
__ADS_1
Para pelayan dan koki kediaman Marquess sedikit terkejut dengan bumbu-bumbu kemasan yang di gunakan oleh Vanessa.
Vanessa tak menggunakan beras kediaman Marquess dia membelinya langsung di toko sebelah yang sangat sepi karena warga di sini lagi pada krisis ekonomi.
"Ada apa putri?" tanya dayang Fuu.
"Bibi Fuu, bantu aku untuk memasak nasi ya, soalnya aku mau menggoreng ini dulu!" sahut Vanessa.
Mereka yang ada di sana tak henti-hentinya terkagum dengan kelihaian memasak Vanessa jarang-jarang ada anak bangsawan besar mau turun ke dapur untuk membuat makanan mereka bahkan sangat jijik melihat dapur, padahal sumber makanan yang mereka makan dari sana!
. . .
Satu jam lebih memasak kini Vanessa tengah memasukkan nasi dan lauknya ke dalam kotak makan, Vanessa menyiapkan masing-masing salad, tak lupa sedikit koin perak.
"Kalian bantu aku untuk membawa ini ke toko beras itu ya? Dan ini untuk kalian nanti, aku simpan di sini ya?" senyum Vanessa.
Mereka menentang masing-masing dua plastik besar yang membuat semuanya tampak keheranan dengan barang yang di gunakan Vanessa, ruang dimensi bos di sana semuanya ada.
Sesampainya di sana Vanessa meminjam meja lalu, menyisihkan kotak makanan itu, sebelum itu Vanessa memecahkan es batu yang ia dapat dari salah satu pelayan yang bisa menggunakan sihir untuk membuat es.
"Coba kalian rasakan?" suruh Vanessa.
"Ini rasa sirsak." Jawab Vanessa.
Seorang ibu dan dua anaknya datang atas panggilan Vanessa. "Bibi ini santunan untukmu dan kedua anakmu sedikit!" beri Vanessa.
"Terimakasih lady, semoga dewi memberkatimu!" tangis ibu itu dengan haru karena mereka bisa makan.
Para warga berdatangan berbaris atas perintah Vanessa dan di bantu juga oleh para prajurit untuk tertib, bahkan mereka di ajarkan untuk mencuci tangan sebelum makan, mereka sangat atas bantuan kecil yang Vanessa dirikan.
. . .
"Gadisku memang sangat baik, meskipun sangat menyebalkan!" gumam sang kaisar yang tengah menatap penuh posesif pada Vanessa yang kini tengah berjalan pulang.
Kaisar kembali ke kediaman Marquess untuk menghadiri acara rapat yang akan di diskusikan bagaimana kelanjutan wilayah ini untuk mengatasi kekeringan, saat akan memasuki pintu istana sebuah tangan halus lebih dahulu membukanya.
"Kaisar sebleng!" seru Vanessa dengan senyum mengembang. "Nginap di sini juga?" tanya Vanessa.
__ADS_1
"Hem ...," jawab kaisar.
"Sok dingin kamu ni!" dengus Vanessa lalu berjalan masuk, karena ada perjamuan makan malam sekarang.
"Salam ...," nunduk Vanessa lalu duduk di samping sang ayah, sedangkan kaisar dia hanya berdiri memberi kejutan pada para petinggi.
"Kaisar!" seru mereka lalu menunduk hormat, sedangkan Vanessa malah asik memandangi makanan itu, tolong perutnya sangat kelaparan sekarang.
"Suatu kehormatan besar bagi kami semua atas kedatangan yang mulia kaisar?" seru mereka.
Kaisar duduk tepat di hadapan Vanessa dan di sampingnya ada anak Marquess yang tengah menatap penuh damba pada sang kaisar karena dia tidak menyangka akan bisa duduk dengan kaisar sedekat ini.
"Apa tatap-tatap!" sinis Vanessa melirik sinis kasih dengan gerakan mulutnya yang tak bersuara.
"Sial, lihat bibirnya! Sangat menggemaskan aku tidak sabar untuk segera menikahi mu sayang!" batin sang kaisar menatap lapar pada Vanessa yang sangat terlihat sempurna di matanya
"Kaisar anda harus mencoba ini, karena makan ini adalah makanan favoritku!" senyum si putri Marquess.
Tetapi dia hanya di acuhkan, karena si kaisar ini pikirannya hanya di penuhi oleh Vanessa, Vanesa dan Vanesa begitu sudah sangat membagongkan.
Selesai makan malam, Vanessa langsung mengistirahatkan tubuhnya, dia jadi rindu dunianya yang di mana ketika dia lelah pasti akan memainkan handphonenya, menonton YouTube semua film dan serial kesukaannya.
"Huh, bosan banget, gak ada tv, gak ada handphone!" lesu Vanessa, baru saja hendak terlelap dalam tidurnya sebuah tangan kekar datang melingkari pinggangnya tak lupa kecupan basah di bibirnya.
"Sial, dasar pria cabul!" sentak Vanessa mulai memberontak.
Cup.
"Ini aku sayang," serak kaisar memeluk erat pinggang Vanessa, dia tersanjung karena baru kali ini di katain sialan oleh seorang gadis, yang di sukainya pula.
"Lepas anjir, peleceh ini!" berontak tak mau menyerah, sehingga dengan terpaksa kaisar mematikan saraf Vanessa untuk sementara agar tak bisa bergerak.
"Dasar kaisar cabul!" isak Vanessa merasakan tubuhnya yang tak bisa bergerak.
"Gak cabul sayang, cuma mau peluk aja!" ucap kaisar dengan suara lembut serak gitu, dia semakin menyembunyikan kepalanya di celekuk leher Vanessa.
. . .
__ADS_1
Stay Wak Wak Wak gaes 🥳