
"Raja!?" kesal sang ratu menyentak tangan sang raja lalu menatapnya kesal.
"Jangan kekanak-kanakan ratu!" desis raja menatap istrinya dengan pandangan tajam, dia sungguh tidak suka di bantah apalagi dengan istrinya sendiri.
"Kenapa raja tidak memberikan hukuman untuk wanita tadi raja? Harga diriku sangat terluka saat aku melihat calon menantu ku di perlakukan seperti itu!" tangis sang ratu.
Raja Luke memijit pelipisnya pelan, astaga istrinya ini. "Dengarkan aku dulu, begini, memangnya kamu sudah melihat bahwa wanita tadi menjelek-jelekkan calon menantumu?" tanya sang raja, lalu di balas gelengan oleh sang istri.
"Lalu, bagaimana bisa aku memberikannya hukuman ratuku, sedangkan wanita itu tengah memperjuangkan harga dirinya yang tengah di permainkan oleh saudaranya sendiri!"
"Maksudmu? Dia adalah Vanessa, gadis si rumor buruk itu!" terkejut sang ratu. "Ck, mana mungkin putri Reddit memfitnah si wanita jahat itu, yang ada hanya si wanita jahat itu yang selalu mengacau!" kesal sang ratu.
"Terserah kau saja ratu!" kesal raja Luke lalu pergi dari hadapan sang istri.
.
.
.
Pagi-pagi sekali Vanessa sudah pergi ke pasar entah apa yang dia lakukan tetapi kali ini dirinya merasa beruntung karena di depannya ada bentrok antara bandit dan pedagang.
Yang pastinya masalah lahan. "Ck, ternyata sama aja!" dengus Vanessa lalu menjulurkan tangannya sehingga sebuah es kecil mengenai kening di bandit itu hingga meringis sakit.
"Kurang ajar sekali, siapa yang berani melempari ku, hah!?" teriaknya begitu marah menatap ke segala arah.
Vanessa yang menyadari itu begitu terkejut, dia tak menyangka bahwa akan keluar balok es kecil di tangannya. "Apa jangan-jangan, level tujuh sudah terbuka?" batin Vanessa. "Jika iya aku akan sangat bersyukur!"
"Ini dia!" sentak salah satu bandit yang berhasil menangkap Vanessa yang tengah asik melamun.
"Eh, apa-apaan ni?" kaget Vanessa memberontak.
"Diam lah nona, maksud kau apa melempari ku dengan es batu, heh?" menatap nyalang Vanessa yang tidak ada takut-takutnya.
"Ada bukti? Aku diam aja perasaan!" balas Vanessa, walaupun dia sudah memiliki kekuatan dan sudah bisa beladiri, tak menjamin kemenangan bagi Vanessa mengingat dia hanya seorang sendiri.
"Banyak bicara kau nona, kau tidak takut dengan kami? Kami di sini adalah bandit terkuat, tidak ada yang bisa mengalahkan kamu di sini!" pongahnya malah menyombongkan diri, dasar bandit edan.
"Terus bagaimana sepuh ...?" lugas Vanessa. "Apa aku harus bilang, puh sepuh ajarin dong puh, tingki, wingki, dipsi, Lala, puh, sepuh!" ledek Vanessa dengan bahasa sepuhnya.
__ADS_1
"Bahasa apa yang kau gunakan nona?" geram mereka.
"Yang pastinya bukan bahasa alien!" sungut Vanessa.
"Alien? Apa lagi itu? Sungguh bicara nona ini sangat membingungkan!" kesal mereka.
"Makanya lepaskan aku, aku tidak mungkin melempari mu dengan es batu, coba lihat kedua tanganku saja kosong!"
Tanpa perasaan orang yang di belakang Vanessa memukul pundak Vanessa hingga terduduk lemas. "Sia-lan!" lirih Vanessa menghalau rasa sakit di pundaknya.
"Bagaimana kita gauli saja nona cantik ini, lumayan bos?" tawar mereka.
Para pedagang di pasar itu hanya bisa melihat berdoa semoga Vanessa tidak kenapa-napa. Pada akhirnya Vanessa di seret paksa untuk di bawa ke tempat sepi.
Dalam perjalanan Vanessa mengumpulkan mana alam dia mengisinya hingga full lalu kedua kakinya dia hentakan dua kali sehingga tahan itu bergoyang.
"Apa yang terjadi?"
"Tanah bergerak!"
Vanessa mengeluarkan sihir angin lalu menghempaskannya hingga para bandit itu terpental. "Hahaha ..., ini yang gue suka!" teriak Vanessa lalu kembali mengeluarkan sihir es yang berbentuk runcing, kali ini Vanessa mengarahkannya ke salah satu bandit yang telah memukulinya.
Pls!
"Saatnya kita berperang!" sambut Vanessa, sepertinya ini anak sudah agak gila.
Pertarungan satu lawan lima belas orang tak terelakkan lagi, mesti begitu Vanessa dapat mengatasinya. Lima menit pertarungan Vanessa merasakan hal yang tidak biasa di dalam dirinya.
Vanessa melirik para bandit yang mulai bangkit itu. "Sial apa yang terjadi pada tubuhku, kenapa tidak bisa di gerakkan!" batin Vanessa, bahkan semua kekuatannya tidak bisa di gunakan.
"Hahaha, apa sihirmu sudah habis nona?" ejek mereka.
"Saatnya kami yang akan menggunakan sihir kami!"
"Kurang ajar, aku di jebak!" geram Vanessa, sekarang tinggal pasrah saja menunggu bantuan sepagi ini.
Mereka sudah menggunakan sihir masing-masing baru saja hendak mencelakai Vanessa sebuah perisai emas mengelilingi tubuh Vanessa dan seseorang.
"Habisi mereka, lalu bawa jasad mereka ke kediaman istana!" titahnya.
__ADS_1
Dengan mata merabun Vanessa akhirnya bisa melihat siapa yang menolongnya. "Grand Duke ..."
.
.
.
"Siapa nama gadis cantik ini suamiku?" tanya sang duchess menatap lembut ke arah Vanessa yang terbujur pingsan.
"Vanessa, putri bungsu Duke Harlan!" jawab sang grand Duke. Dia begitu tertarik dengan keunikan yang Vanessa miliki bagaimana setelah pengasingan dua bulan gadis ini sudah mampu merubah dirinya.
Bukan tertarik untuk di jadikan istri tetapi tertarik untuk di jadikan anak, karena selama ini dirinya begitu menginginkan seorang putri, tetapi na'as istrinya sudah tak bisa hamil lagi.
Sedangkan di alam bawah sadarnya Vanessa tengah menuntut kejelasan atas sihir yang di perolehannya itu.
"Bagaimana sistem, apa ada yang salah dengan cara pemakaian ku?" tanya Vanessa.
"Tuan rumah, kekuatan sihir mu belum sepenuhnya di transfer ke dalam tubuh nona, apalagi nona tidak pernah melakukan kultivasi untuk melatih otot tubuh, supaya kekuatan yang semakin besar bisa masuk ke tubuh anda nona!"
"Lalu, bagaimana dengan keahlian bela diriku sistem? Aku kira setelah di berikan tinggal gunain aja!" dengus Vanessa.
"Tuan rumah, semua yang kita ingin tuju pasti ada prosesnya, seperti nona yang ingin menjadi orang kuat dan kaya raya mengalahkan sang kaisar!"
"Huh, baiklah aku mengerti!"
"Tuan rumah, anda bisa meminta di ajarkan oleh grand Duke untuk berlatih sihir, grand Duke di kenal sebagai sihir agung kerajaan tengah, anda bisa menanyakan itu!" usul sistem.
"Aku tidak yakin apa dia akan menerimaku!" lesu Vanessa.
"Bisa tuan rumah, sekarang saja anda sedang berada di kediaman grand Duke, apalagi grand duchess begitu menyukai anda, sepertinya mereka menginginkan tuan rumah untuk menjadi putrinya!"
"Ck, menyebalkan! Kalo gitu bisa lah gue manfaatin buat bantu gue, argh ...! Banyak banget misi gue di sini, ouy!" teriak Vanessa mencakar rambutnya berteriak frustasi.
Bagaimana tidak, dirinya harus belajar kultivasi lalu bela diri, setelah itu masih banyak lagi. "Mau modar aja ...?"
.
.
__ADS_1
.
Stay Wak Wak Wak gaes 🥳