Reinkarnasi Vanessa

Reinkarnasi Vanessa
Waw Mereka Punya Hubungan w⁠(⁠°⁠o⁠°⁠)⁠w


__ADS_3

"Putri Vanessa?" panggil seseorang sambil mencekal pergelangan tangan Vanessa.


"Putra mahkota!" kaget Vanessa mencoba melepaskan tangan besar yang menggenggam tangannya itu. Vanessa takut menimbulkan rumor buruk yang nantinya bisa membuat reputasinya hancur lagi. "Tolong lepaskan tangan anda putra mahkota?" pinta Vanessa.


"Saya akan melepaskan tangan saya, tetapi kita harus berbicara sebentar?" pungkas putra mahkota Haden.


"Apa yang akan kita bicarakan? Kita tidak sedekat itu untuk berbicara berdua, saya takut menimbulkan rumor yang tidak-tidak!" tegas Vanessa, bila satu orang yang melihat adegan mereka berdua ini pasti akan segera menyebar dari mulut ke mulut.


Rumor bangsawan itu begitu sangat di minati untuk di gibahi, para rakyat akan semakin senang untuk menggunjing bahkan menghina.


Tanpa mendengar ucapan Vanessa putra mahkota langsung menarik tangan Vanessa ke sebuah ruangan dan menyuruh dua prajurit untuk menjaga agar tidak ada orang yang masuk.


"Apa kamu tidak merindukanku?" to the poin putra mahkota.


"Apa maksudmu putra mahkota, bagaimana bisa aku merindukan tunangan adik ku sendiri!" tukas Vanessa mencoba mencari muka.


"Kamu berubah putri Vanessa, dulu kita berjanji akan selalu mencintai satu sama lain, meskipun banyak rintangan yang menghalangi jalan hubungan kita, lalu ini apa?" putus asa putra mahkota tak habis pikir.


"Sialan kenapa seperti ini?" batin Vanessa bingung akan situasi, setau dirinya Vanessa asli tidak mempunyai hubungan dengan putra mahkota, lalu ini apa?


"Aku bingung, sejak kapan kita mempunyai hubungan putra mahkota, bukankah kita tidak sedekat ini?" tanya Vanessa mengeluarkan kebingungannya.


"Kau benar-benar melupakanku putri Vanessa?" ucap putra mahkota dengan nada lirih.


Vanessa melepaskan tangannya dari genggaman tangan putra mahkota. "Ini salah putra mahkota, anda sudah bertunangan ..., jika memang dulu kita memiliki hubungan kita akhiri saja sampai di sini, saya tidak mau menjalin hubungan dengan tunangan adik tiriku sendiri!" tolak Vanessa halus agar tidak menyakiti hati satu belah pihak.


Dengan cepat Vanessa pergi meninggalkan putra mahkota tak lupa dirinya membungkuk untuk menghormati pangkat tinggi pria di depannya ini.


Putra mahkota mengepalkan tangannya melihat kepergian gadis cantik pujaan hatinya itu, hatinya merasa tercabik-cabik saat mendengar penolakan sang pujaan hatinya itu.


"Vanessa, kenapa kau seperti ini?" lirih putra mahkota menghirup wangi tubuh Vanessa yang tertinggal. "Aku tidak akan melepaskan mu, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah membirakan mu jatuh ke tangan orang lain karena selamanya kau hanya milikku Vanessa!"


Kilatan obsesi yang begitu besar memancar keluar dari dalam mata putra mahkota Haden. "Jika aku tidak bisa memilikimu maka seluruh pria di muka bumi ini pun, juga tidak akan bisa memilikimu Vanessa!"


.


.


.

__ADS_1


"Bubu!" teriak Vanessa di dalam kamarnya. "Akhh ..., tau gak?"


"Enggak!" malas sistem kembali tertidur.


"Ihh .... Makanya dengerin dulu! Coba, masa si Vanessa gendeng ini gak ngasih tau aku kalo dia ada hubungan dengan putra mahkota!" kesal Vanessa mondar-mandir seperti hansip.


"Saya juga sedikit terkejut tuan rumah, saat mendengarnya tadi, anda harus hati-hati tuan rumah karena putri Reddit sudah mulai menaruh dendam dan kebencian yang besar kepada anda!" peringat sistem.


"Huh, mau hidup tenang ada aja, halangannya!" dengus Vanessa. "Sudah-sudah sistem, aku berniat membuka warung makan seperti di kecamatan dulu, aku rindu sekali melayani para pembeli!" lesu Vanessa.


"Boleh saja tuan rumah, nanti saya carikan tempat yang bagus, tuan rumah tinggal urus perlengkapannya saja!" ujar sistem.


"Beneran? Wahh ..., kalo begitu aku harus berdiskusi dengan ayahanda agar usaha warung makan milikku berjalan dengan lancar tanpa hambatan!" seru Vanessa lalu berjalan keluar, untuk pergi ke dapur dia akan mengambil kue bantalnya.


Para pelayan berkumpul di satu tempat memandangi kue bantal yang tergantung indah di tiang dapur, mereka begitu penasaran bagaimana rasanya 'apakah enak?


Tetapi mereka malah berpikir sebaliknya bahwa kue itu kan buatan putri Vanessa yang bodoh tidak bisa apa-apa pasti rasanya tidak enak, mereka jamin itu.


"Sudahlah pasti makanan itu tidak enak! Mengingat bentuknya saja sudah sangat aneh!" dengus salah satu pelayan dapur itu.


"Betul, aku tidak yakin jika rasanya akan enak!" ejek mereka lalu tertawa, melanjutkan pekerjaan mereka.


.


.


.


"Kakak pertama?" panggil Vanessa di barak pelatihan prajurit yang tengah adu pedang.


"Kenapa?" tanya prince Samuel menghampiri sang adik.


Vanessa yang melihat ketampanan sang kakak malah malu sendiri. "Omo-omo, lihat perutnya! Aaa ..., jadi pengen pegang!" batin Vanessa meringis ngilu dengan ke hot'an sang kakak.


"Vanessa?" panggil Samuel yang kedua kalinya.


"Hah!" terkejut Vanessa. "Kenapa?" tanya balik Vanessa.


"Kamu yang kenapa kok melamun?" tanya Samuel.

__ADS_1


"Heheh, ini kakak aku membawakan mu kue bantal kemarin malam, kakak cobalah kasih tau adikmu ini apakah rasanya enak atau tidak?" antusias Vanessa.


"Baiklah-baiklah, kakak akan mencobanya!"


Dengan penuh perhatian prince Samuel mengusap kepala sang adik entah sejak kapan dirinya mulai mengakrabkan diri dengan adik manisnya ini, oh tidak bukan manis lagi tetapi cantik, jika bukan adiknya Samuel mungkin sudah jatuh cinta dengan adiknya ini.


Sadarlah wahai Samuel yang tampan_-


Herris yang melihat interaksi antara adik dan kakaknya itu merasa iri, sebab dirinya tidak pernah sedekat itu terhadap sang adik bungsu. "Apa rencana wanita itu terhadap kakak pertama?" gumam Herris. "Awas saja jika macam-macam!"


"Ayo om lawan aku! Kita be one!" teriak Vanessa hendak belajar pedang, bahkan sudah menjadi tontonan satu barak prajurit yang tengah berlatih.


"Tuan putri sebaiknya jangan, saya tidak mau melukai anda?" gugup prajurit itu, tetapi terselip nada meremehkan karena dia taunya bahwa Vanessa adalah gadis bodoh yang tak bisa apa-apa selain menangis.


"Wah-wah, ngeremehin gue Lo! Genjieh!" teriak Vanessa mengangkat pedangnya sehingga rombongan Duke Harlan bulan lalu ikut berteriak saat mengingat selogan yang di ajarkan oleh Vanessa.


"Oraaaa ...!" teriak sekumpulan prajurit yang berada di selatan, mereka sudah tau kemampuan bersilat Vanessa yang cukup bagus.


Mereka yang tidak ikut di rombongan Duke bulan lalu menyerngit bingung dengan teriakan itu. "Ayo kita duel! Kalo Lo menang boleh lah Lo minta apa-apa sama sang Duke!" tawar Vanessa yang ujung-ujungnya sang bapak lah yang menjadi taruhannya.


"Baiklah tuan putri, saya pegang tawaran anda tadi," sang prajurit menatap remeh Vanessa yang menjadi lawannya.


Sehingga pertarungan sengit pun terjadi, Vanessa yang melawan untuk mengasah kemampuan berpedang nya sedangkan sang prajurit yang begitu ambisius untuk mengalahkan Vanessa demi tawaran menggugah selera tadi.


Para prajurit dan ksatria bahkan Samuel dan Herris begitu terkejut dengan keterampilan berpedang Vanessa yang cukup bagus bagi kaum wanita, mengingat di kerajaan ini bahwa wanita sangat di jaga dan tak di perbolehkan menyentuh benda tajam yang akan melukai dirinya nanti.


Tetapi ini Vanessa seorang lady bangsawan bergelar anak Duke tengah adu pedang dengan dahsyatnya.


"Lihatlah paman ini begitu ambisius untuk mengalahkan ku!" kekeh Vanessa di tengah ketegangan itu.


"Nona semangat, jika ingin menang berteriak lah, seperti yang anda ajarkan dulu!" sahut salah satu prajurit yang sudah cukup mengenal Vanessa, mereka sudah tidak terlalu canggung dengan Vanessa karena pembawaannya yang santai tidak seperti anak bangsawan yang lain.


.


.


.


Stay Wak Wak Wak gaes 🥳

__ADS_1


__ADS_2