Reinkarnasi Vanessa

Reinkarnasi Vanessa
Oh Kangkung


__ADS_3

Vanessa berteriak seperti orang gila di sepanjang jalan, sehingga orang-orang yang melihatnya, menyingkir takut, ada juga yang kagum dengan paras ayu dari Vanessa.


Kedua anak buahnya menggeleng takut seolah melihat banteng ngamuk, haduh.


"Tuan rumah tenanglah," bujuk sistem.


"Bagaimana bisa tenang sistem, malu tau ...!" rengek Vanessa hendak berteriak menangis.


"Tuan rumah, misi anda berhasil anda berhasil menaiki level lima!" seru sistem bertepuk tangan hanya suaranya saja wujudnya sih kita tidak tau.


"Hah, seenggaknya aku bisa naik level, ouh ya sistem, aku ingin melihat data diriku boleh kan?" tanya Vanessa.


"Bisa tuan rumah!"


...Sistem loading .......


...1% 29% 36% 57% 86% 99% 100% ...


...Nama: Vanessa Queenli...


...Umur: 17 tahun...


...Kepintaran: 80 ...% ...


...Kesaktian: 20 ...%...


...Kecantikan: 65 ...% ...


...Kelicikan: 78 ...%...


...Keahlian-...


...Memasak, berbahasa asing, menari, pemain musik-...


...Poin. 2,100...


...Level; 3 kuas ajaib terbuka....


...Bonus misteri box level, 2\= pengharum badan, 100 poin....


...Bonus misteri box level, 3\= liontin ajaib, 100 poin....


..."Kesaktian? Kenapa rendah sekali?" tanya Vanessa dengan wajah bingung....


"Kesaktian akan terbuka di level tujuh tuan rumah!" jawab sistem.


"Jadi? Aku masih terlalu lemah ya?" lirih Vanessa. "Huh, tidak apa-apa aku akan berusaha agar semakin lebih kuat!" semangat Vanessa dengan senyum cerahnya.


.  .  .


Sore harinya Vanessa mengajak kedua anak buahnya pergi ke sawah samping rumah mereka, di sana banyak sekali para petani yang keluar memeriksa tanaman mereka.

__ADS_1


Vanessa menyusuri sawah dengan menenteng ember kayu, harap-harap menemukan siput dia akan memasaknya besok.


"Putri, sebenarnya apa yang akan kita cari?" tanya dayang Fuu, menatap putrinya yang menengok ke segala arah.


"Siput dayang Fuu, tolong bantu aku ya?" jawab Vanessa.


"Siput, untuk apa putri?" tanya dayang Fuu begitu penasaran.


"Untuk di masak lah, nah ketemu!" senyum Vanessa menemukan satu siput hitam, karena yang kuning kurang enak menurut Vanessa.


"Putri, siput itu beracun, tidak boleh di makan!" panik dayang Fuu hendak membuang siput yang di tangkap oleh Vanessa.


"Eh, beracun gimana? Siapa yang bilang? Kasih tau gue!" sentak Vanessa tak terima.


"Putri, siput itu berbahaya dulu ada dayang kerajaan yang memakan siput dan besoknya dayang itu meninggal dunia," jelas dayang Fuu begitu panik.


Vanessa yang mendengar itu tercengang. "Mungkin di tuh dayang makan racun kali, makanya bisa meninggal!" sungut Vanessa. "Apalagi dia dayang, bisa jadi majikannya yang menyuruh!" dengus Vanessa kembali memungut siput-siput itu. "Jianli tolong bawakan ini?" titahnya.


"Baik putri!"


Dayang Fuu yang mendengar ucapan putrinya tadi merasa teringat saat sahabatnya itu mati dengan sangat mengenaskan di tambah busa yang tak henti-hentinya keluar dari dalam mulut sahabatnya itu.


"Kakek, kenapa di rusak?" tanya Vanessa begitu tak tega melihat setumpuk kangkung air yang begitu muda dan sangat enak untuk di masak.


"Iya lady karena ini sangat menggangu, maka dari itu kakek merusaknya! Lagian rumput ini tidak berguna!" jelas si kakek.


Vanessa menepuk keningnya sendiri 'alamak, "kakek, ini tuh sayur bisa di masak, mending kakek ambilkan untukku saja, bagaimana?" tanya Vanessa.


Tak mau menyerah Vanessa mengangkat gaunnya hingga menampakkan kaki putih miliknya. "Jianli, dayang Fuu, bantu aku!" teriak Vanessa yang sudah ikut turun ke dalam kolam yang begitu bening, tanpa memperdulikan gaunnya yang basah Vanessa dengan semangat memetik kangkung itu.


Si kakek yang melihatnya hanya bisa menghela napas sabar, pada kelakuan lady cantik di sebelahnya ini. "Kakek aku mengundangmu untuk datang makan malam nanti, bisa kan?" tanya Vanessa.


"Kenapa tiba-tiba lady?"


"Ya tidak apa-apa, aku hanya ingin menjalin persahabatan di antara kita kakek, kakek bisa kok mengajak keluargamu nanti, Vanessa tunggu ya kek, awas jika tidak datang!" senyum Vanessa begitu memabukkan.


Dari kejauhan seorang pangeran menatap malas kelakuan sang kakek yang tengah bercanda dengan gadis cantik.


"Cih, sudah tua masih saja banyak tingkah, lebih baik aku adukan saja pada nenek!" senyum miring terlihat jelas akan rencana liciknya untuk memfitnah kakeknya di hadapan sang nenek.


"Baiklah nanti kakek akan datang makan malam ke rumahmu!"


.  .  .


Di sisi lain kaisar Zhao Lie masih terngiang-ngiang akan wajah cantik Vanessa dia begitu menyesal karena tak mencari gadis manis itu. "Berani sekali kau gadis nakal memasuki pikiranku!" desis kecil kaisar Zhao Lie.


"Tunggu aku, setelah kembali dari sini aku akan mencari mu gadis kecil!" senyum sang kaisar mengingat wajah menggemaskan Vanessa yang terus-menerus mengganggu pikirannya.


"Kaisar Zhao Lie telah tiba!" teriak prajurit kerajaan tengah sehingga gerbang besar itu terbuka, dengan puluhan para prajurit yang menyambut kedatangan mereka.


"Salam untuk yang mulia kaisar Zhao Lie, semoga dewa Zeus memberkati anda!" senyum Mentri An Yun, langsung membawa kaisar Zhao Lie ke peristirahatannya di istana.

__ADS_1


.  .  .


Malam harinya Vanessa sudah menyiapkan menu makanan yang tak lain tumis kangkung dan cah sawi putih telur dan tahu goreng, untuk pencuci mulut Vanessa menyiapkan Sus keju kering dengan selai merah di tengahnya.


"Ayo mulai makan?" titah Vanessa mengambilkan nasi untuk si kakek dan kedua anak buahnya, ya mereka masih canggung.


"Terimakasih sudah mau mengundang kakak untuk makan malam ke rumahmu nak, jamuan mu sungguh enak," ucap si kakek menentang satu bungkus makanan untuk istrinya nanti.


Ya Vanessa membungkus kan kue sus kering kejunya buat istri si kakek tak lupa tumis kangkung yang di masaknya juga, si kakek tak menyangka bahwa kangkung yang dia anggap rumput beracun ternyata seenak itu.


"Sama-sama kakek!"


.  .  .


"Dari mana saja kau hah!" marah seorang nenek tua menatap sang suami yang pulang mengendap-endap seperti maling.


"Tenanglah sayang, aku-"


"Kau pasti habis berselingkuh kan? Jawab aku pria tua!" marah sang istri mulai menangis, saat mengingat perkataan sang cucu tadi sore.


"Dasar cucu keparat!" batin si kakek mendesis marah, akan kelakuan cucunya itu. "Kamu belum makan kan?" tanya sang kakek menanyakan istri tercintanya ini.


"Pelayan siapkan ini, dan bawa ke kamarku!"


Si kakek memijit pelan pangkal hidungnya atas keterdiaman istrinya ini. "Yang mulia, makanan anda!" ucap si pelayan itu menyerahkan makanan.


"Cobalah ini, aku berjanji akan menjelaskan semuanya?" bujuk si kakek, sepertinya sang istri begitu marah kali ini.


"Tidak usah, aku akan tidur-"


"Sedikit saja, kali ini saja, aku akan menjelaskan kesalahpahaman mu ini," bujuk si kakek tak mau menyerah.


Dengan terpaksa si nenek mencoba tumis kangkung buatan Vanessa yang mulai agak dingin, pada suapan pertama rasanya biasa saja tetapi pada suapan kedua si nenek melongo.


"Yang mulia mendapatkan makanan seperti ini dari mana?" tanya si nenek dengan nada suara yang mulai sopan.


"Habiskan dulu, nanti aku akan menjelaskannya," si kakek tersenyum lembut.


Si nenek memakan dengan lahap masakan tumis kangkung saos tiram itu, tak lupa dia juga mencoba sus kering kejunya. "Yang mulia cepat beritahu aku di mana yang mulia mendapatkan makanan seenak itu, permaisuri juga ingin mengunjunginya!"


"Tenanglah istriku, besok aku akan membawamu ke sana, gadis itu begitu baik bahkan gadis itu telah membantuku untuk membersihkan kolam yang di penuhi oleh rumput yang kau makan barusan!"


"Apa!" pekik sang permaisuri saat mendengar bahwa dirinya memakan rumput, berani sekali suaminya ini.


"Tenang lah, aku pun mengiranya rumput beracun yang tak bisa di makan, tetapi dengan pintarnya gadis itu memberitahuku bahwa rumput itu bernama kangkung, besok kita akan berkunjung ke tempat dia berjualan,"


"Hah, aku semakin penasaran, tetapi yang terpenting gadis itu bukan selingkuhan mu!" sinisnya lalu pergi ke ruang persalinan untuk mengganti baju dan melepas perhiasan yang terpajang indah di atas kepalanya.


. . .


Stay Wak Wak Wak gaes 🥳

__ADS_1


__ADS_2