
Setelah kemenangan bertarung pedang tadi kini Vanessa sudah mandi dengan bersih, dia akan pergi mengunjungi toko warung makan miliknya yang sudah sistem peroleh pembayaran bahkan surat tanah tersebut.
Untuk izin membuka toko warung makan Vanessa sudah meminta izin terhadap sang Duke demi kelancarannya berbisnis nantinya.
"Bubu apa tempatnya masih lumayan jauh?" tanya Vanessa yang tentunya di dalam hati, yang ada nanti dirinya di kira berbicara sendiri di tengah keramaian warga yang tengah melakukan aktivitas mereka.
"Sedikit lagi tuan rumah, ruko yang ada minta berada di pinggiran kota, karena ruko yang lain sudah full pemilik!" ucap sistem menjelaskan.
"Ck, kalo begitu semoga warung makan milikku ramai! Mana dayang Fuu belum kembali lagi!" decak Vanessa. "Jianli, kira-kira dayang Fuu kapan kembali ya?" tanya Vanessa terhadap prajuritnya itu.
"Saya belum tau pasti tuan putri, dayang Fuu belum membalas surat saya dari kemarin sore," jawab Jianli.
"Huh ...." lesu Vanessa melanjutkan perjalanan.
20 menit perjalanan kini Vanessa sampai di pinggiran kota yang sangat kumuh karena toko makanannya memang terletak di sana, Vanessa jadi tidak semangat jika begini mereka mampu gak ya untuk bisa membeli hasil masakannya nanti?
"Bubu kau yakin? Aku tidak yakin!" lesu Vanessa patah semangat.
"Ingatlah tuan rumah, jika anda membangun toko makanan di tengah kota belum tentu juga ada yang mau beli, mengingat reputasi anda baru saja pulih," jelas sistem. "Di sini hanya sedikit yang mengenal anda, setidaknya mereka tidak termakan omongan orang-orang kota tengah!" ucap sistem menenangkan sang tuan.
"Ya juga ya, ya sudah kita masuk lalu bergegas membersihkannya!" semangat Vanessa, yang sempat putus asa tadi kini bangkit membara menggendong kucing kesayangannya itu.
Bentuk bangunan itu tidaklah sempit tidaklah luas sederhana saja, dan mengarah ke sungai yang ada berada di depan menambah kesan cantik untuk toko warung makan Vanessa di tambah rumah-rumah warga yang berdempetan semakin membuat jalan kecil di depan warungnya sedikit padat dengan banyaknya para warga yang berlalu-lalang.
"Bagaimana Jianli, cukup bagus kan?" tanya Vanessa tersenyum cerah.
"Ini sangat sempurna tuan putri, sama seperti yang kita bangun dulu di wilayah selatan Lie," ucap Jianli mengelap meja, karena untuk bagian lantai Vanessa yang mengurusnya.
Dengan adanya ruang dimensi Vanessa bisa leluasa mengambil barang seperti ember dan alat pel kini lantai jelek itu sudah mengkilap wangi.
"Apa nama pembersih ini tuan putri? Wanginya sangat harum ...," puji Jianli.
__ADS_1
"Hahaha, ini namanya Harpic pembersih lantai!" senyum Vanessa.
"Wah, pantas sangat harum sekali!" kagum Jianli melihat bentuk botolan pembersih WC itu.
Kurang ajar si Vanessa ini. "Itu pembersih WC tuan rumah, anda ini!" jengkel sistem melanjutkan acara tidurnya di atas meja kayu yang sudah di bersihkan.
"Eh, iya kah?" tanya Vanessa merebut botolan Harpic itu. "Alamak aku salah ambil, ini tuh pembersih toilet bukan pembersih lantai, Jianli ...," rengek Vanessa di akhir kalimatnya.
Malu.
"Ta-tapi tuan putri wanginya sangat harum," cicit Jianli menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Vanessa jadi tepuk jidat, sudahlah dia malu plus bingung.
.
.
.
Selain kekaisaran selatan yang begitu besar, di sana juga tempat nelayan terbesar di kekaisaran selatan bahkan ikan-ikan tuna dan semacamnya di perjual-belikan atar kerajaan.
"Apa kamu sudah menyelidiki terjadinya peledakan itu?" tanya sang kaisar pada tangan kanannya itu.
"Sejauh ini tim penyidik tengah melakukan penelitian di tempat kejadian, belum ada informasi lebih lanjut kaisar!" jelas sang tangan kanan.
"Terus laporkan setiap informasi peledakan itu, besok aku akan pergi ke kekaisaran barat, jadi kamu urus semua masalah yang ada di sini!" tegas sang kaisar.
Yap, menjadi sang kaisar tidaklah mudah, di mana besok dia harus berangkat ke kekaisaran barat yang di mana kekaisaran itu di sebut kekaisaran Cain yang terletak di barat, berbatasan dengan wilayah kaisar Zhao Lie.
.
__ADS_1
.
.
Lain dengan kaisar kini Vanessa harus mendengar ocehan tak bermutu dari para saudaranya yang pasti membencinya itu.
"Aku yakin warung makan jelek itu tidak akan laku!" ejek putri Gracia menatap sinis adik bungsunya yakni Vanessa.
"Kakak, jangan seperti itu, seharusnya kita sebagai saudara mendukungnya," sela putri Reddit dengan senyum manisnya bahkan membuat Vanessa silau.
"Benar apa yang di katakan adikmu putri Gracia, seharusnya kau mendukung adikmu agar semakin semangat," sahut ibu tirinya yang tak lain adalah Ganeta.
"Ya-ya, aku mendoakan mu agar warung makan yang kau bangun bangkrut, lagian mana sudi warga kerajaan di sini memakan masakan busuk mu itu! Kau mau menarik perhatian kami sampai seperti ini? Bahkan kau menyentuh peralatan dapur saja jijik bagaimana mau berjualan makanan?" sinis putri Gracia yang benar-benar mengeluarkan unek-uneknya itu.
Vanessa yang mendengar itu mengepalkan tangannya di balik lengan gaun panjang miliknya. "Memangnya kenapa? Suka tidak sukanya itu terserah mereka, terpenting aku sudah berusaha!" lugas Vanessa tak terpancing emosi.
"Tapi jika kakak bangkrut, bukankah itu membuang-buang dana dari ayahanda?" tutur putri Reddit dengan lembut, tetapi berbeda di pendengaran Vanessa itu seperti nada ejekan.
"Dana ya? Sepertinya tidak, aku menggunakan koin ku sendiri tanpa campur tangan sang Duke, betul begitu?" tanya Vanessa pada Duke Harlan yang hanya diam melihat perdebatan anak-anaknya itu.
"Hem,"
"Nah dengar kan, jadi mau aku bangkrut, tidak laku lah, apa lah, itu bukan urusan kalian!" sinis Vanessa menatap malas mereka lalu pergi tanpa pamitan karena dia sungguh kesal akan ucapan putri Gracia dan putri Reddit yang terkesan memojokkannya dan mengejek dirinya.
.
.
.
Stay Wak Wak Wak gaes 🥳
__ADS_1
Maaf jika part-nya kurang nyambung