Reinkarnasi Vanessa

Reinkarnasi Vanessa
Ingin Membangun Suzuran


__ADS_3

Duke Harlan mencoba mencaplok masakan sang anak enak apa tidak. "Ayah gak yakin masakan kamu bisa enak apa tidak!" papar sang Duke.


"Terserah bapak Harlan saja!" dengus Vanessa menjuling kan matanya sinis.


"Kenapa anda bisa berada di sini? Tidak mungkin kan anda mau repot-repot buat jenguk saya ke sini?" tanya Vanessa ikut menatap sang tuan Duke yang terhormat.


"Saya ada urusan di perbatasan selatan dan barat, karena sebentar lagi kemarau panjang akan tiba," jawab Duke yang sudah mulai menikmati makanannya, dia tidak menyangka bahwa putrinya bisa masak seenak ini, koki di istana saja kalah.


"Oh ...,"


Ting!


Bunyi sistem sedang menghubung. "Selamat malam tuan rumah!" sapa sistem di dalam pikirannya Vanessa.


"Ada apa sistem?" tanya langsung Vanessa.


"Saya hanya memberitahukan anda bahwa tuan rumah berhasil memasuki level lima, dan selamat misi anda berhasil, untuk hadiahnya bisa anda cek langsung!" riang sistem.


Vanessa melirik sang ayah, lalu berdiri hendak berpamitan. "Khem, tuan Duke, saya izin pergi kebelakang dulu, anda lanjutkan saja makanannya!" ucap Vanessa lalu pergi, karena dia tak sabar untuk melihat hadiah apa yang akan di dapatkannya.


...Loading .......


...Nama: Vanessa Queenli...


...Umur: 17 tahun...


...Kepintaran: 80 ...%...


...Kesaktian: 20 ...%...


...Kecantikan: 65 ...%...


...Kelicikan: 78 ...%...


...Poin: 3,200...


Vanessa berhasil menaiki level lima, kini dia sudah bisa membuka kantung dimensi dan seluruh isinya, apa yang Vanessa mau ada di sana termasuk di dunianya dahulu, untuk barang elektronik itu tidak bisa di gunakan, hanya berisi gaun dan makanan lainnya.


Vanessa begitu senang. "Ya ampun bubu, akhirnya aku bisa maskeran!" senang Vanessa meloncat tak jelas, untung gubuknya tidak roboh.


"Tuan rumah, anda mendapatkan misi untuk ikut bersama ayah anda ke perbatasan, jika berhasil anda akan mendapatkan kristal biru, jika gagal anda akan mengalami kentut berturut-turut selama satu bulan!"


"Si anjir, kejam banget!" kaget Vanessa mendengar hukumannya. "Gue ikut si tua tu, mau ngapain?" tanya Vanessa.

__ADS_1


"Anda harus bisa memberi solusi untuk masalah kekeringan yang akan melanda wilayah perbatasan itu tuan, istilah anda juga harus menjadi relawan, jika ada berhasil mungkin Duke Harlan akan mengurangi masa pengasingan mu  tuan rumah!"


Mendengar itu, Vanessa jadi tertarik. "Hem, benar juga, jika begitu aku akan lebih mudah untuk mencaritahu tentang ritual sesat si Dewi-Dewi itu!"  sinis Vanessa.


"Kurang ajar banget mau jadiin gue tumbal, kek babi ngepet aja cuy!" kelit Vanessa mendengus kasar seperti kerbau.


.  .  .


Seorang pria bergelar Marquess kini tengah duduk termenung, kedatangannya ke wilayah ini bukan untuk main-main melainkan dia harus mencari seorang gadis yang akan memberikannya sesuatu entah itu apa, dia pun tak tau.


"Liontin ini?" gumam sang Marquess menelisik liontin berbandul bulat itu. Dengan pelan dia mulai membukanya, dan yap! Hanya berisi kertas kosong. "Ck, menyebalkan, hanya kertas tidak jelas!" dengusnya.


Tetapi dia tidak sadar bahwa telah membebaskan jiwa seseorang yang telah dia nanti-nanti kehadirannya.


.  .  .


Setelah merengek sekitar dua jam'an akhirnya Vanessa pun di biarkan ikut untuk pergi ke perbatasan selatan dan barat, jaraknya dari sini hanya memakan waktu 30 menitan, dari jarak kota kerjaan mungkin membutuhkan satu jam lebih.


Vanessa menyiapkan kebutuhan, seperti yang lainnya dan juga di sana Vanessa akan menjadi seorang relawan walaupun dia bukan dokter tetapi ada sistem yang akan menemaninya nanti.


"Hay, ayah ...?" sapa Vanessa, mulai memasuki kereta kuda khusus untuk para bangsawan, sedangkan kedua anak buahnya ikut bersama rombongan yang lainnya di belakang.


"Masuklah, jangan membuang-buang waktu saya!" datar sang Duke.


"Sialan sok dingin nih bapak tua!" batin Vanessa menatap julid lalu beralih memainkan bulu kucingnya, siapa lagi kalo bukan si bubu a.k.a sistem.


"Lindungi sang Duke!" teriak salah satu ksatria mengeluarkan pedang miliknya.


"Apa yang terjadi sistem?" panik Vanessa, huh ini yang Vanessa kesal kan, dia tidak bisa leluasa bertarung.


"Diam lah, jangan keluar dari sini!" perintah sang Duke lalu pergi keluar membantu para prajuritnya yang tengah bertarung.


"Penyerangan dari pemberontak timur tuan, saya tidak menduga akan memasuki wilayah selatan secepat ini!" ucap sistem.


Vanessa mengintip di celah-celah kecil kereta kuda itu, dia melihat banyak sekali darah berserakan, apalagi dia melihat dayang Fuu tengah di sandera!


"Tuan rumah ada yang mendekat!" ucap sistem.


Vanessa yang mendengar itu, mulai mengambil sebuah belati, lalu membungkuk bersiap untuk menyerang.


"Eptmm ...!"


Dengan secepat kilat Vanessa membekap mulut si pemberontak lalu membacok lehernya hingga mati. "Hah, bunuh orang di sini gak bakal masuk penjara!" desis Vanessa, karena nyawa di dunia kerajaan semurah cabe, kecuali kamu anak bangsawan, baru mahel!

__ADS_1


Sang Duke menatap sengit ke arah kereta kudanya yang kini hanya menampakkan kaki seorang pria yang sudah tak bernyawa.


"Akh!"


Duke begitu terkejut dengan suara teriakan di belakangnya.


"Jangan lengah ayah!" teriak Vanessa lalu ikut turun berperang. "Bused darahnya banyak banget!" ngeri Vanessa melihat tumpukan jasad manusia yang berhamburan.


"Hey gadis cantik mending kamu ikut sama kami, kami akan memuaskan mu dengan baik!" teriak salah satu pemberontak menatap lapar tubuh molek Vanessa yang sangat cantik seperti Dewi.


"Ogah! Paling juga barang Lo kecil!" sahut Vanessa berteriak, sehingga mereka sedikit tercengang dengan bahasa Vanessa yang sedikit asing.


"Sialan! Serang ...!" teriak mereka sehingga perang tak dapat di elah kan. Vanessa semakin kuat karena dengan bantuan sistem yang membelikannya ramuan untuk bisa bertarung dengan lincah.


"Genjieh ...!" teriak Vanessa mengangkat pedangnya, lalu kembali bertarung.


"Apa yang di ucapkan oleh nona?" bingung para prajurit yang lain.


"Entahlah, mungkin kata penyemangat!" sahutnya.


"Jika itu kata semangat, mati kita ucapkan .... Genjieh ...!" teriak prajurit yang lainnya mengikuti kata Vanessa tadi.


"Genjieh!"


"Genjieh ...!" sahut prajurit yang lainnya lalu kembali bertarung.


"Jadi tertarik buat bangun Suzuran." Gumam Vanessa.


"Apa yang mereka teriaki?" tanya ksatria yang lain begitu bingung dengan teriakan prajurit itu.


"Entahlah!"


"Oraaaa ...!" teriak Vanessa lagi, tapi kalo ini yang lain pun ikut berteriak bertempur dengan semangat, membuat sang Duke dan yang lain begitu terkejut dan pening secara bersamaan.


"Gadis itu sungguh memiliki perubahan yang sangat pesat!" gumam Duke.


.  .  .


"Salam Grand Duke, rombongan Duke Harlan mengalami penyerangan di hutan bambu, dan para  pemberontak di kerajaan timur sudah mulai banyak, bahkan putra mahkota dan yang lainnya sedikit kewalahan," lapor sang bawahan.


"Baiklah, kau boleh pergi!" suruhnya, informasi ini dia akan langsung mendiskusikannya pada sang raja, untuk keselamatan para rakyat mereka.


Dia adalah grand Duke Alferd yang cukup di segani di kerajaan tengah bahkan sang raja pun sedikit segan dengan adiknya ini, yah dia adalah adik sang raja Luke.

__ADS_1


.  .  .


Stay Wak Wak Wak gaes 🥳


__ADS_2