Reinkarnasi Vanessa

Reinkarnasi Vanessa
Ni Nggak Depresi? ಠ⁠﹏⁠ಠ


__ADS_3

Selesai melakukan pertempuran sengit tadi mereka semua beristirahat di tepi sungai untuk menghilangkan dahaga mereka.


"Bagaimana kamu bisa bertarung Vanessa?" tanya sang Duke duduk mendekati sang anak.


"Ya bertarung lah," lugas Vanessa meminum air kemasan yang dia ambil dari kantong dimensinya.


"Maksud ayah, siapa yang mengajarimu belajar bela diri? Setau ayah selama ini kamu hanya berdiam diri di kediaman," pungkas Duke Harlan.


"Cih, memangnya penting jika aku memberitahumu ayahanda yang terhormat? Satu lagi, kita itu tidak terlalu dekat ayah untuk saling bertukar pertanyaan!" dengus Vanessa lalu pergi dari samping sang ayah.


Sang Duke yang mendengar itu menatap sedu ke arah sang anak. "Ayah baru sadar, bahwa kita terlalu jauh nak ...," lirih Duke Harlan.


.  .  .


Sementara di lain tempat yakni di dalam sebuah istana tengah terjadi keributan yang di buat oleh seorang wanita yang menangis keras tidak karuan.


"Aku mohon kaisar, aku begitu mencintaimu!" sujud si wanita pada kaki kaisar agar bisa mendapatkan perhatian.


"Ck, banyak drama! Pengawal, seret wanita ini pergi dari ruangan ku!" pusingnya, di tambah wajah seorang yang terus-menerus mengganggu pikirannya.


"Aku mohon kaisar jangan usir aku! Aku sangat mencintaimu kaisar, sangat ...!" teriak wanita itu menggila memberontak.


"Hah, gadis itu sangat memabukkan! Aku merindukannya!" lirihnya lalu pergi menggunakan teleportasi nya.


.  .   .


"Nona, bisakah kami bertanya?" tanya seorang prajurit meskipun agak sedikit takut.


"Mau bertanya apa?" tanya balik Vanessa.


"Kata genjieh' itu apa nona? Apakah itu artinya semangat?" cecar nya.


Vanessa yang mendengar itu menunduk geli. "Sialan aku tertawa!" batin Vanessa. "Khem, sebenernya kata genjieh' itu bukan kata semangat tetapi nama orang!" jelas Vanessa.


"Nama orang?" bisik-bisik mereka.


"Iya nama orang! Orang yang paling di takuti seantero jepang!" cerita Vanessa sedikit melebihkan.


"Apakah orang itu sangat berbahaya, nona?" tanya mereka takut dengan wajah pias.


"Beh! Sangat berbahaya, bahkan para penyihir saja  kalah!" oke Vanessa kamu terlalu berlebihan!


"Ya ampun, pasti dia sangat mengerikan!" bisik-bisik mereka membicarakan cerita Vanessa barusan.

__ADS_1


"Tuan rumah anda terlalu berlebihan!" dengus sistem_-


"Biarkan saja, kapan lagi kita bisa membuat lelucon yang bikin semua orang panik!" sahut Vanessa tertawa.


"Aku mau memberi kalian tips biar cepat menang saat berperang!" ucap Vanessa dengan mimik wajah serius sehingga para prajurit ikut duduk menatap Vanessa.


"Apa itu nona, cepat beritahu kami?" tuntun si prajurit tak sabaran.


"Isatesekabera! Oraaa .... Genjieh!" teriak Vanessa di tengah hutan yang hening. "Teriak lah seperti itu,


aku jamin kalian pasti akan menang!" pongah Vanessa.


Mereka yang mendengar itu agak sedikit ragu, tapi tidak apa-apa yang penting bisa menang nanti!


"Ck, ck, apa yang mereka teriakan? Seperti orang gila saja!"


"Sepertinya nona mengalami depresi berat!"


.  .  .


"Tambahkan para prajurit untuk berpatroli di setiap wilayah dan selalu memberi informasi setiap selesai bertugas!" tukas sang raja menatap para pejabat yang ikut rapat di istana, karena sekarang benar-benar gawat para pemberontak sudah berani menyerang warga desa.


Seperti tadi, mereka sudah berani menyerang pihak kerajaan pemberontak timur ini tidak ada habis-habisnya, sebenarnya apa yang telah di lakukan oleh rajanya sehingga rakyatnya sampai berani memberontak kuat seperti ini?


"Jadi? Kita harus membiarkan para rakyat mati di tangan pemberontak itu, begitu?" timpal Viscount dari wilayah timur, yang di mana wilayahnya sudah masuk zona bahaya bagi para warga.


"Apa yang berlebihan Viscount Agler? Bukankah keputusan raja lebih bagus? Setidaknya ada prajurit yang berpatroli untuk memeriksa keadaan atau juga bisa membantu para warga yang di serang!" tegas Viscount dari wilayah Utara.


Viscount Agler mengepalkan tangannya menahan amarah akibat rasa malunya yang di sekak oleh para pejabat lain. "Sialan!"


.  .  .


Vanessa begitu miris melihat wilayah perbatasan selatan dan barat ini yang begitu kering, bahkan musim kemarau belum mulai, tetapi tanah sudah sangat kering dan tandus sehingga menyebabkan banyak debu bisa membuat sesak napas atau asma.


"Hay?" sapa Vanessa pada anak-anak yang tengah bermain.


Awalnya para anak-anak itu sedikit ragu karena baru kali ini seorang lady cantik datang menyapa mereka, biasanya para lady cantik hanya menatap mereka jijik bak seperti sampah yang sangat tidak boleh di pandang.


"Kalian main apa?" tanya Vanessa lagi.


"Tidak ada lady, kalo begitu kami pamit pergi!" takut mereka lalu pergi berlari terbirit-birit seperti di kejar hantu.


"Lah ngapa dah tu bocil-bocil!" bingung Vanessa. "Bibi Fuu, apa wajahku sangat menyeramkan sehingga anak-anak itu pergi menjauhiku?" tanya Vanessa memastikan.

__ADS_1


Dayang Fuu yang mendengar itu terkikik geli. "Ya ampun putri, anda begitu sangat cantik tidak ada celah jeleknya!" sahut dayang Fuu.


"Ck, dah lah aku mau jalan-jalan dulu!" teriak Vanessa lalu kabur dari sang dayang yang sudah meneriakinya.


.  .  .


"Huh, ternyata di sini ada pantai!" senyum Vanessa mengangkat gaunnya agar tak basah oleh air ombak yang menerpa kaki mulusnya.


Semakin tengah hingga kini air laut sudah sampai di lutut Vanessa, tetapi anehnya saat dia hendak berbalik tidak bisa, seolah ada yang menahan kedua kakinya.


"Aduh, gimana ini, kok kaki gue gak bisa di gerakin!" panik Vanessa apalagi ombak besar datang begitu cepat.


"Emak!" tangis Vanessa sangat takut melihat gulungan ombak yang akan menerjangnya.


Hug!


Sebuah kecupan mendarat di keningnya dan tak lupa lehernya seperti tengah di endus seperti tulang yang di jilat oleh anjing!


"Lepas!" dorong Vanessa dan dia sungguh terkejut saat melihat pria di depannya ini. "Kaisar sebleng?" ucap Vanessa.


Kaisar yang mendengar ada nama tambahan cukup bingung. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya kaisar mengubah topik.


"Tidak, hanya berjalan-jalan saja, lalu kau, kok bisa ada di sini?" tanya Vanessa memicingkan matanya.


"Tidak ada, aku hanya merindukan seseorang saja!" ucap kaisar melirik Vanessa yang kebetulan tengah meliriknya juga.


"Wah ..., kaisar dah ada gebetan ya, kalo dah jadian jangan lupa PJ nya ya ngab kaisar!" goda Vanessa menaikan turunkan kedua alisnya.


Tetapi yang di goda malah tidak mengerti. Gebetan, PJ, ngab. Apa itu? Dia baru mendengarkan kata-kata aneh seperti itu. "Gebetan, PJ, ngab? Kata-kata aneh mana yang kau pelajari Vanessa?" delik kaisar.


"Ck, gak ada." Dengus Vanessa lalu berjalan menyusuri tepi pantai.


Kaisar menyusul Vanessa lalu menarik tangan kecil itu dan menggenggamnya dengan erat, entah sejak kapan rasa suka atau bahkan cintanya begitu tumbuh dengan cepat kepada gadis bertubuh kecil dan sialnya itu sangat cantik.


"Nanti kalo kaisar nikah jangan lupa undang aku, terus jangan lupa buat jemput aku pake kerta kuda emas!" senyum Vanessa bersandar di lengan kekar sang kaisar.


Kaisar tersenyum kecil. "Aku tidak perlu repot untuk mengundangmu karena kamu adalah pengantin wanitanya, dan soal kereta kuda emas aku akan dengan senang hati akan menjemputmu menggunakan itu!" batin sang kaisar membalas mengusap lembut kepala Vanessa.


Terakhir kali mereka bertemu seperti kakak beradik tidak bisa diam, tetapi ini? Mereka malah terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah menikmati indahnya pemandangan di bibir pantai.


.  .  .


Stay Wak Wak Wak gaes 🥳

__ADS_1


__ADS_2