
Alesa yang mendengar penjelasan Axel hanya bisa menganggukkan kepalanya. dan faktanya, Alesa memang tidak mengetahui universitas yang sudah dimasuki oleh Leo.
"Tapi, mengenai rambut, aku yang mengatakan padanya untuk menambah warna hitam, jika itu tidak dilakukan, maka mereka semua dengan mudah mengenali Leo. Aku tidak ingin Leo mengetahui tentang keluarga besarnya itu dan juga tentang semua kebenaran ini. Leo tidak boleh mengetahuinya," ucap Alesa dengan raut wajah takut.
"Terlambat, bibi" ucap Axel dengan wajah lesu.
Alesa semakin terlihat takut mendengar perkataan Axel, "apa maksud kamu, Axel?,"
"Dia masuk kedalam lingkaran keluarga Ziler, dia bahkan sudah berurusan langsung dengan salah satu dari keluarga itu." jawab Axel dengan jujur.
Alesa tampak begitu terkejut, ia tidak menyangka bahwa Leo sudah bertemu dengan salah satu keluarga Ziler, "apa?, apa mungkin mereka sudah mengetahui identitas Leo?."
"Mereka memang belum mengetahui keberadaan Leo, tapi yang jelas, Leo sudah menyinggung anak dari pemilik kampus," jelas Axel dengan tenang.
Alesa seakan mengerti perkataan Axel, pikirannya sekarang tertuju pada satu universitas yang di kelola oleh keluarga Ziler sendiri "Universitas Standziler?, apa Leo masuk kedalam kampus itu?" tebak Alesa sedikit tidak percaya
"Benar bibi, Leo berada di kampus itu dan Axel juga menjadi dosen di sana, lalu di hari pertamanya kembali, dia justru bersitegang dengan Lakrain Ziler, anak dari adiknya bibi" jelas Axel sambil menghela napas pelan.
Alesa merasa tubuhnya tak bertenaga, ia pun memegang pintu untuk menumpu tubuhnya "kenapa aku tidak bisa lepas dari Keluarga itu?," gumam Alesa dengan memegang kepalanya dengan satu tangan yang lain.
Selia yang melihat wajah cemas Alesa begitu merasa kasihan, ia pun mulai memegang tangan Alesa "dengar Alesa, lawan mu bukanlah orang yang mudah di taklukan, dengan kondisi keluargamu yang seperti ini, maka kehidupan Leo akan semakin terancam, jadi pikirkanlah baik-baik Alesa."
"Walau bagiku mereka hanyalah seekor semut," batin Selia
"Baiklah kakak, tapi dengan satu syarat. Kakak tidak boleh mengatakan tentang hal ini pada Leo, bahkan dengan hubungan kita sekalipun. Karena sejak awal kami memperkenalkan Leo bahwa kami hanya hidup bertiga, tidak ada orang lain ataupun saudara jauh. Aku mohon kakak mengerti dengan keputusan aku dan Marvin, kami tidak ingin Leo mengetahui keluarga itu. berjanjilah kakak, aku melakukan ini hanya karena demi keluarga ku, bukan untuk mencerai berai antara kakak dan Marvin. Jika kakak tidak percaya, maka kakak bisa pergi ke toko roti Lemarsa, toko itu milik kami dan di sana kakak bisa bertemu dengan Marvin." jelas Alesa dengan panjang lebar, ia tidak ingin kakak iparnya itu salah paham dengan perkataannya.
Wajah Selia tampak begitu muram, ia melepaskan tangan Alesa begitu saja "aku mengerti!. Pa, Axel kita pergi sekarang" ucap Selia langsung berbalik dan meninggalkan Alesa yang berdiri mematung.
Zelder dan Axel saling memandang, mereka pun berpamitan dan meninggalkan kediaman Marvin.
__ADS_1
Ketiganya memasuki mobil "kamu sudah dengar Axel?, pamanmu membuka sebuah toko roti, jadi kita harus kesana sekarang. Dan misi khusus untukmu, kamu harus bisa melindungi Leo dengan baik." ucap Selia dengan wajah yang sudah ditebak.
Awalnya Axel sedikit terkejut dengan wajah Selia, ternyata mama nya itu tidak pernah berpikir negatif dengan Alesa. Justru sebaliknya, kemungkinan ia hanya kesal karena adiknya hanya bisa membuka toko roti.
"Baik ma, Aku akan menuruti permintaan mama, tanpa mama memberi perintah, aku tetap melindungi adik ku itu," ucap Axel sambil mengemudi.
Zelder yang duduk di belakang hanya bisa mengikuti anak dan istrinya itu, saat ini baginya diam adalah emas.
Setelah mengemudi setengah jam, Akhirnya mereka sampai di toko roti Lemarsa, jantung Selia berdegup kencang, ia sudah lama tidak melihat wajah adiknya itu, rasa rindu menjalar di tubuhnya.
Ketika kaki Selia melangkah kedalam, ia bisa melihat seseorang sedang duduk di sudut dinding.
Selia bisa melihat, wajah itu tampak begitu lelah dan terlihat jelas bahwa dirinya kekurangan istirahat "Marvin!" sapa Selia dengan air bening yang sudah menggenang di kelopak mata.
Marvin yang merasa dirinya terpanggil langsung melihat kearah sumber suara.
Selia mempercepat langkahnya dan menghamburkan pelukannya kedalam dada Marvin.
Adik yang begitu di sayangi nya kini bertubuh kurus dan sepertinya kekurangan gizi.
"Bodoh, bagaimana bisa kau melakukan ini pada kakak mu!," ucap Selia dengan berderai air mata.
"Maafkan aku kak, aku tidak bisa berbuat apapun, mereka bahkan terus mengejar kami, kedua keluarga itu tidak puas jika kami tidak mati, jadi aku terpaksa menghapus identitas lama ku." ucap Marvin sambil membalas pelukan Selia.
Axel dan Zelder yang baru saja masuk, begitu terkejut mendengar perkataan Mervin "apa?!, paman serius?,"
"Dia?" tanya Marvin sambil menunjuk Axel.
"Axel, bukankah dia tumbuh besar seperti Leo?" tanya Selia sambil melepas pelukannya dari Marvin.
__ADS_1
"Kakak tau mengenai Leo?, bukankah kami pergi saat Alesa tidak mengandung?, lalu bagaimana bisa kakak mengetahuinya?" tanya Marvin penasaran.
"Aku kebetulan berada di kampus yang sama dengan Leo paman, ketika aku mengajar, aku melihat rambut langka yang diturunkan oleh bibi Alesa, jadi aku mudah mengenalinya dan mencari infomasi dia,"
"Tapi kami sudah menambah warna hitam, apa masih terlihat jelas?" tanya Marvin sedikit khawatir.
"Tidak paman, warna itu sudah sempurna untuk menutupi warna lainnya, tapi ketika melihatnya aku seperti memiliki ikatan yang sangat kuat, maka dari itu aku menyelidikinya"
"Syukur lah, aku berharap kalian tidak mengatakan apapun pada Leo, karena ... "
Perkataan Marvin terpotong oleh perkataan Selia "aku sudah tau, Alesa yang memberitahu kami, kalian memutuskan untuk mengganti identitas, aku juga sangat terkejut melihat Alesa mengubah warna rambutnya menjadi hitam."
"Kakak sudah bertemu dengan Alesa?" tanya Marvin terkejut.
"Sudah, tapi kakak tidak bertemu dengan Leo, cukup Axel aja yang bertemu dengannya, Selia menjeda perkataannya dan matanya menyusuri toko roti itu "lalu ... kenapa kau memilih untuk membuka toko roti dan tidak bekerja di perusahaan?, bukankah kamu sangat ahli memegang kendali perusahaan?," tanya Selia sambil menatap adiknya itu.
"Kakak, aku tidak bisa melakukannya, jika aku memasuki kalangan atas, maka semua usaha kami akan berakhir sia-sia, jadi aku memilih untuk hidup menjadi orang biasa dan membuka toko roti ini sebagai penyambung hidup kami," jelas Marvin sambil menunduk
"Baiklah, kakak akan melindungi kalian dengan cara kakak, kamu dan Alesa tidak berhak menolak kakak" ucap Selia dengan antusias.
"Tapi kak, tolong jangan membuat kami menonjol, aku tidak ingin kehilangan keluargaku kak" ucap Marvin dengan wajah memelas.
"Marvin, kamu tenang saja, kebetulan Axel membeli sebuah cafe, dan ketika mengumpulkan para pegawai, ternyata Leo bekerja di sana, dan Axel menaikkan jabatannya menjadi manager" timpal Zelder yang sedaritadi diam.
Marvin terkejut mendengar perkataan abang iparnya "tunggu!, jadi pemilik cafe yang di bicarakan oleh Leo adalah Axel?"
"Apa dia sudah mengatakannya?," tanya Axel canggung
Bersambung ...
__ADS_1