
Semakin Leo bercerita, sejak saat itu juga raut wajah Selia tampak semakin sedih. Sedangkan Layner yang mendengar itu juga merasa sangat kasihan.
Layner tidak ingin suasana menjadi canggung, ia mencoba memutar otak agar bisa mencairkan suasana. "Ah ya ... aku sudah membawakan mu satu set pakaian, setelah kamu baik-baik saja, lebih baik ganti dulu pakaianmu itu, aromanya benar-benar sangat menyengat di hidung ku" ucap Layner sambil mengibaskan tangan tepat di hidungnya.
Leo yang mendengar ejekan itu pun langsung melihat dirinya, ia sedikit tersipu malu dan mencoba berdiri.
Sedangkan Selia yang sedari tadi menatap Leo hanya bisa menggelengkan kepalanya karena menurut Selia, keponakannya itu terlihat sangat imut.
Layner yang melihat itu langsung mengehentikan Leo "Sebentar, aku akan memanggil dokter untuk melepaskan infus yang ada di tanganmu" ucap Layner yang terburu-buru keluar dari kamar Leo.
Leo pun menuruti perkataan Layner, ia yang sudah sempat berdiri, kini kembali duduk di atas tempat tidurnya.
"Kau memiliki teman yang baik" ucap Selia yang sedari tadi menyaksikan interaksi mereka.
Leo menggelengkan kepalanya dengan pelan "Tidak bibi, kami bahkan tidak bisa disebut sebagai teman. Aku baru mengenalnya saat dia membantu menghubungi ambulan untuk pak Axel" ucap Leo sambil menatap Selia.
Selia mengerutkan dahinya "lalu bagaimana bisa dia seperti mengenalmu?" tanya Selia binggung.
"Aku juga tidak tau bibi, karena di kampus aku tidak mengenal siapapun, apalagi mempunyai teman. Semua itu hanya angan-angan saja" ucap Leo sambil melanjutkan memakan buah apel yang berada di depannya.
Mendengar langsung dari mulut Leo membuat Selia tampak terkejut, bagaimana bisa Leo tidak memiliki teman?, wajah tampan seperti itu mampu membuat siapa saja mendekatinya.
Apa mungkin karena Leo miskin?, itulah yang ada di dalam pikiran Selia, Tapi anak kalangan atas seperti Layner kenapa bisa sangat mengenal kebiasaan Leo?.
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Selia sedikit binggung, Jika Selia bertanya pada Leo, maka jawabannya pasti tidak sesuai yang ingin di dengar oleh Selia, jadi tampaknya ia harus bertanya sendiri pada Layner.
Layner masuk kedalam dengan membawa seorang dokter untuk Leo.
Setelah dokter itu melepaskan infus nya ia pun langsung keluar dari ruangan itu, sedangkan Leo kembali mencoba berdiri dan berjalan secara perlahan. Layner yang melihat itu pun tidak tinggal diam, ia langsung membantu memapah tubuh Leo ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit, Leo keluar dengan pakaian baru yang telah di beli oleh Layner.
Kaos putih dan celana jeans biru membuat Leo terlihat lebih tampan. "Sangat cocok" ujar Selia sambil mengangkat kedua jempolnya keatas.
Sedangkan Layner menganga dengan lebar, faktanya pakaian yang di kenakan oleh Leo tidak lah terlalu mahal, tapi kenapa ketika Leo memakainya justru terlihat sangat mewah dan elegan.
"Hei, bagaimana bisa pakaian itu terlihat bagus di tubuhmu?, sedangkan saat aku memakai setelan seperti itu, justru terlihat seperti gembel" ucap Layner dengan kesal.
"Aku menyarankan mu untuk bercermin, lalu bandingkan wajahku dengan wajahmu, pada saat itu juga kamu akan tau jawaban dari pertanyaan mu" ejek Leo di sela tawanya.
Selia yang mendengar balasan dari Leo justru tertawa keras, ia bahkan melupakan citra yang selama ini di bangunnya di hadapan Leo dan Layner.
Layner bahkan terkejut melihat Selia tertawa keras, ia bahkan tidak menyangka bisa melihat Selia tertawa, padahal jelas-jelas, di setiap foto majalah, wajah Selia tampak tidak bersahabat.
Setelah keduanya berhenti tertawa, tiba-tiba Leo teringat dengan seseorang "Bibi, sepertinya kita harus mengunjungi pak Axel." ucap Leo sambil melangkahkan kakinya.
Layner kembali memapah tubuh Leo, ia tidak membiarkan Leo berjalan sendirian, sedangkan Leo yang mendapat bantuan itu langsung menoleh kearah Layner.
__ADS_1
"Ternyata seperti ini rasanya mempunyai teman" batin Leo tersenyum tipis.
Selia mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi Zelder untuk bertanya di ruangan mana Axel di pindahkan.
Ting
Sebuah balasan dari Zelder membuat langkah Selia semakin cepat.
Keduanya hanya bisa mengikuti dan melangkahkan kaki mereka dengan pelan. Selia yang teringat akan kondisi Leo, kini menoleh kebelakang "Maafkan bibi Leo." ucap Selia sambil berjalan mendekati Leo.
"Kita akan berjalan pelan-pelan saja" ucap Selia sambil memegang lengan Leo.
Selia, Leo dan Layner menaiki sebuah lift, singkat Leo, rumah sakit yang mereka pijaki ini adalah tempat dimana para kelas atas dirawat.
Leo pernah membaca sebuah artikel bahwa yang membangun rumah sakit itu adalah seorang kelas atas yang dermawan.
Tapi, mereka tidak muncul di publik, bahkan keluarga itu memilih untuk menyembunyikan nama mereka dari daftar pemilik rumah sakit.
Leo menengadah kepalanya, ternyata diatas sana bertuliskan sebuah kata, "VIP" gumam Leo.
Namun gumaman kecil Leo tidak dapat didengar oleh Layner dan Selia.
Leo terkejut dan menunduk, "Apa pak Axel berasal dari kalangan atas?" batin Leo tidak menyangka.
__ADS_1
Bersambung ...