
Para mahasiswa itu begitu terkejut, mereka tidak menyangka bahwa taruhannya begitu besar.
Mereka saling memandang satu sama lain, para mahasiswa itu langsung membatalkan niat mereka. Semuanya berbalik dan kembali duduk di kursi masing-masing.
Mahasiswa yang bertanya itu pun terlihat sangat kesal, ia tidak punya pilihan lain selain kembali ketempat duduknya semula, mahasiswa itu pun mengeram marah karena rencananya tidak berhasil.
Sang dosen tersenyum tipis melihat para muridnya kembali, ia pun mulai melihat kearah mahasiswa yang mengusir Leo "kamu!, siapa nama mu?," tanya dosen sambil menunjuk kearahnya.
"Arlan Western." jawabnya dengan malas.
"Karena kamu membuat kegaduhan dalam kelas saya, maka kamu akan saya hukum untuk keluar dari kelas ini" ucap sang dosen.
Arlan begitu terkejut mendengar perkataan sang dosen, ia pun terlihat kebingungan karena takut gagal di 3 mata kuliah sang dosen.
"Ta-tapi pak, saya sudah kembali, kenapa bapak mengusir saya?," tanya Arlan dengan berani.
"Bukankah kamu yang ingin mengusir mahasiswa itu?, kalau kamu tidak menyukainya lebih baik kamu saja yang keluar dari kelas saya." ucap dosen itu sambil melanjutkan penjelasannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu lolos, Leo" gumam Arlan yang hanya bisa di dengar oleh Leo
Arlan mengepalkan kedua tangannya, ia pun kembali membereskan perlengkapannya dan langsung keluar dari kelas itu.
Leo hanya bisa diam, ia tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun, karena baginya belajar adalah hal yang paling penting.
Setelah pelajaran usai, semua mahasiswa keluar dari ruangan, yang tersisa sang dosen dan Leo.
Ketika sang dosen ingin pergi, Leo mencegatnya "pak!" panggil Leo sambil berlari pelan kebawah.
Sang dosen pun menoleh kearah sumber suara "ya?, apa ada yang tidak kamu mengerti tentang yang saya ajarkan?" tanya dosen itu dengan ramah.
"Tidak pak, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih, karena bapak telah membantu saya," ucap Leo dengan sopan.
Walau wajah Leo terlihat datar, tapi Leo, mampu mengekspresikan rasa terimakasihnya melalui kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Bagi Leo, siapa yang menghormatinya maka ia akan lebih menghormati orang tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika orang itu tidak menghormatinya, maka Leo akan memperlakukannya dengan cara yang sama.
"Kamu tidak perlu sungkan, itu adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai dosen, lain kali berhati-hatilah, kalau begitu saya permisi dulu." ucap sang dosen sambil menepuk pundak Leo.
__ADS_1
Leo pun mengangguk dan membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk ucapan terimakasih dan juga cara hormat dengan yang lebih tua.
"Ternyata dosen di tingkatan ini tidak semuanya buruk," pikir Leo sambil berjalan keluar dari kelas.
Leo mulai teringat saat pertama kali dirinya memasuki kampus.
#Flashback On
Ketika Leo berada di tahun pertama, Leo memakai pakaian ala kadarnya, pakaian yang di gunakan nya tampak begitu lusuh.
Leo duduk di antara ribuan mahasiswa, tapi pakaian lusuhnya justru membuatnya menjadi sorotan para mahasiswa baru.
"Apa dia berasal dari kalangan bawah?"
"Bukankah ini kampus bergengsi?, bagaimana mungkin kampus terkenal ini menerima mahasiswa seperti ini?"
Para mahasiswa yang berada di belakang dan di depan Leo berbisik menggunjing Leo. Mereka yang berasal dari kalangan atas bahkan sudah mengenal satu sama lain. Sedangkan Leo hanya duduk sendiri dan terus mendengarkan perkataan senior.
Sambil mengeluarkan kata-kata, mata para senior menyusuri ribuan mahasiswa.
Para senior pun berusaha untuk tidak memperdulikan pakaian Leo, mereka mulai mengumpulkan para junior dan menyuruh mereka menerima tantangan dari para senior.
"Kami para senior, ingin membuat sebuah game sebagai acara penyambutan untuk mahasiswa baru, peraturannya adalah para junior harus menerima tantangan yang di berikan pada senior, tentu dalam peraturan ini tidak ada kata penolakan." ucap sang ketua organisasi.
Leo mengernyitkan dahinya, ia yang tidak suka mengikuti kegiatan apapun langsung memilih berdiri hingga membuat mata para senior tertuju padanya.
Di tambah, jika Leo bermain dengan mereka maka Leo akan melewatkan pekerjaannya, Leo hanya mengetahui bahwa tujuan berkumpulnya mahasiswa baru hanya untuk mendengarkan kata sambutan dari pihak kampus.
Sang ketua organisasi pun mengernyitkan dahinya, biasanya jika anak baru memiliki pertanyaan maka mereka akan mengangkat tangan. Sedangkan Leo justru langsung berdiri sehingga membuat sang ketua organisasi sedikit merasa terhina.
Namun, ia bisa menyembunyikan kekesalannya dan masih menanggapi Leo dengan sopan "ya, kamu?, apa ada pertanyaan?" tanya ketua organisasi.
Leo mengangguk "kak, bisakah saya tidak bisa mengikuti permainan ini?," tanya Leo dengan sopan.
Sang ketua organisasi itu begitu tampak kesal, ini kedua kalinya Leo berani menghadapinya "apa kamu tidak mendengarkan perkataan ku?."
"Saya mendengarkan perkataan kakak, tapi bisakah peraturannya di ganti?, Jiak peraturannya seperti itu bukankah justru sangat menguntungkan para senior?," tanya Leo dengan wajah datar dan berani.
__ADS_1
Para senior yang mendengar itu merasa sangat marah, baru pertama kali mereka menemukan mahasiswa dari kalangan bawah menentang keputusan para senior.
"Baiklah, jika kamu tidak ingin mengikutinya, maka kamu bisa keluar dari kampus ini." ujar sang ketua organisasi samb.emnatap Leo dengan tajam.
Leo mengangguk dan memilih meninggalkan barisannya. Baginya para senior itu ingin menyiksa junior sebagai bentuk balas dendam mereka sewaktu mereka masih junior dulu, dan kata-kata yang tepat yang bisa di gunakan adalah permainan.
"Yaitu penyiksaan berkedok sebuah permainan" batin Leo sambil melangkah keluar kampus
Keesokan harinya, Leo justru kembali ke kampus dengan sangat santai, ia bahkan telah lupa apa yang sudah di lakukan ya kemarin.
Ketika berjalan di koridor, para mahasiswa kembali.menggunjing Leo, tapi Leo justru seolah tampak tidak perduli, ia langsung memasuki kelasnya dan mencari tempat duduk.
Seorang dosen pun masuk, ia melihat wajah Leo dan mengetahui perdebatan Leo dengan para senior, ia pun juga ikut merasa tidak senang pada Leo, sang dosen bahkan mengetahui bahwa Leo berasal dari kalangan bawah.
Mulai dari pertemuan itu, sang dosen terus menerus mempersulit Leo, bahkan di setiap pertemuan kelasnya, ia menganggap Leo adalah orang yang tidak pantas berada di dalam kampus bergengsi.
Bagi sang dosen, anak dari kalangan bawah hanya membuatnya repot dan mereka akan berakhir dengan menyombong kan diri.
Leo menjalani hari-hari di kampus dengan cukup berat, para senior terus mengganggu dan menekannya, para dosen bahkan di suap untuk mengikuti perintah para senior.
Leo harus mendapatkan gangguan itu sampai di tahun keduanya, Namun, dengan sabar Leo berusaha mencapai sesuatu yang tidak bisa di hentikan oleh para senior dan dosen.
Yaitu mengikuti perlombaan di segala bidang, baik itu bidang olahraga ataupun yang lainnya.
Pencapaian yang dilakukan Leo mampu membuat para dosen dan senior terdiam. Leo membuktikan dirinya dengan cara yang cukup ekstrem.
Tapi sifat Leo bahkan tidak berubah menjadi arogan, ia justru bahkan rendah diri dan tetap menjadi pribadi yang baik. Dan sejak saat itu Leo pun tidak pernah mendapat gangguan apapun sampai dimana Leo mengajukan cuti kuliah.
#Flashback Off
"Itu adalah masa-masa tersulit di kampus ini, jika orang lain pasti tidak akan tahan dan langsung keluar dari kampus ini" gumam Leo sambil melangkahkan kakinya ke parkiran.
Leo menoleh kesana-kemari, namun ia tidak menemukan sepedanya "di mana sepedaku?." gumam Leo sambil berjalan mengelilingi parkiran.
"Pergilah dari kampus ini!." ucap seseorang sambil melempar sebuah sepeda yang sudah hancur ke hadapan Leo.
Bersambung ...
__ADS_1