Revenge of The Hidden Heir

Revenge of The Hidden Heir
Jatuhnya Leo


__ADS_3

Setelah sekian lama menatap Leo, Selia merasa ada yang tidak beres dengan Leo, Bibir pucat dan mata yang sayu, itulah yang dilihat Selia pada diri Leo.


Leo yang mendengar itu menghela nafasnya dengan pelan "Sebaiknya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu ... Nama saya Leo, dan pak Axel adalah dosen saya di kampus dan sekaligus sebagai atasan di tempat saya bekerja. Jadi ... ketika saya berjalan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah belakang saya, sepertinya pak Leo melihat itu lalu berlari kearah saya, dia juga mendorong tubuh saya dan pada akhirnya yang tertabrak adalah pak Axel. Saya sungguh benar-benar meminta maaf atas kejadian ini kepada paman dan bibi." jelas Leo dengan penuh sopan dan ia pun tidak lupa membungkukkan sebagian tubuhnya sebagai permintaan maaf.


Selia sangat terharu melihat kesopanan yang ada di diri Leo, walau terlahir dengan wajah tampan namun Selia tidak menemukan adanya kesombongan di wajah itu.


Selia bahkan sangat bangga pada adiknya, walau menghidupi Leo dengan ekonomi yang sulit, tapi, adiknya mampu memberikan didikan yang sangat baik untuk anaknya. Leo bahkan bisa memiliki kesopanan yang selalu di pelajari oleh keluarganya.


Selia menoleh kearah Zelder, sedangkan Zelder menatap Selia serta mengangguk dan tersenyum.


Selia pun kini kembali menoleh kearah Leo, "tidak apa-apa nak, sebagai seorang kak ..." perkataan Selia terhenti ketika Zelder memegang tangannya.


Selia menoleh dan melihat Zelder tengah menggelengkan kepalanya, sebagai tanda bahwa Selia tidak boleh memberitahukan apapun pada Leo.


Selia tampak terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya, sedangkan Leo yang tidak mendengar suara apapun kini mengangkat tubuhnya dan melihat wajah Selia yang tampak bersedih.


"Paman dan bibi tidak perlu merasa khawatir. sebentar lagi dokter pasti akan keluar." ucap Leo menyemangati keduanya. Walau didalam hatinya itu terdapat rasa bersalah yang amat besar.


Selia mengangguk dan menumpukan kepalanya di dada Zelder "Firasat ku mengatakan Axel akan baik-baik saja" ucap Zelder menenangkan Selia.


Leo yang melihat itu menggenggam kedua tangannya yang sudah dingin itu lalau Leo menaruh di belakang punggung. Walau dalam keadaan takut, tapi Leo masih bisa menutupi rasa takutnya dengan wajah datar.


"Aku berharap dia cepat pulih, jika tidak?, aku akan benar-benar merasa bersalah pada keluarga pak Axel" batin Leo


Layner yang sejak tadi diam, kini menoleh kearah Leo, ia bisa melihat jelas bahwa Leo tengah merasa ketakutan.


Layner bahkan tidak menyangka bahwa Leo mampu menyimpan ekspresinya dengan sangat baik.


Sedangkan Layner sendiri mengetahui hal itu dari gerak-gerik Leo, ia bahkan mulai berpikir bahwa mereka sangatlah mirip.


Layner orang yang sangat pendiam, tapi ketika dia panik dan gelisah, maka Layner akan menggenggam kedua tangan dan menyembunyikan ke belakang. Namun perbedaannya adalah Layner tidak mampu untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya.


"Sepertinya dia sedang ketakutan" batin Layner

__ADS_1


"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu, mereka juga akan mengerti akan situasi mu." bisik Layner sambil menepuk pundak Leo.


Leo menoleh kearah Layner, ia sedikit heran bagaimana Layner bisa mengetahui bahwa dirinya memang sedang gelisah.


Layner tersenyum pada Leo dan mulai memperkenalkan dirinya "Paman, bibi ... sebelum itu kenalkan saya Layner, orang yang menghubungi kalian. Aku juga seorang mahasiswa sama seperti Leo" ucap Layner dengan sopan dan membungkukkan tubuhnya.


Selia yang mendengar itu langsung menoleh kebelakang "Terimakasih karena sudah membantu Axel dan dengan cepat menghubungi kami." ucap Selia sambil menghapus air matanya.


"Tidak perlu sungkan bibi, pak Axel juga dosen saya, jadi sesudah seharusnya kita saling membantu." ucap Layner sambil tersenyum.


Selia bahkan sedikit terkejut melihat kesopanan yang di miliki Layner, tutur kata dan bahasa sangat mirip dengan Leo.


Selia melihat Layner dengan penuh selidik, ia melihat pakaian yang di kenakan Layner cukup biasa, tapi pakaiannya sedikit jauh lebih mahal dari pakaian yang di kenakan oleh Leo.


"Dia tidak tampak seperti kalangan bawah, Perkataan dan postur tubuhnya menunjukkan bahwa dia berasal dari kalangan atas, juga sepertinya dia mengenal kami." batin Selia


Tiba-tiba pintu ruangan ICU terbuka. Keempat orang itu langsung berbondong-bondong mendekati pintu.


Tiba-tiba wajah Selia kembali menjadi panik "Bagaimana dengan keadaan anak saya?." tanya Selia dengan wajah gelisah.


"Dia sudah melewati masa kritis, beruntung adiknya mendonorkan darah yang cukup langka itu. Jika mereka terlambat mengantarnya maka sudah di pastikan dia tidak akan tertolong" jelas Dokter itu sambil menunjuk kearah Leo.


Selia dan Zelder kini menatap Leo, mereka sekarang sadar kenapa wajah tampan itu sangat pucat, ternyata dia mendonorkan darahnya untuk Axel. Layner bahkan terkejut ketika mendengar kata donor darah. namun Layner langsung menepis pikirannya karena ia mengetahui Leo akan terjatuh.


"Leo!" panggil Layner yang dengan cepat menangkap tubuh Leo yang akan segera jatuh.


Selia dan Zelder tampak terkejut, beruntung Layner langsung menangkap tubuh Leo sehingga Leo tidak sempat terjatuh kelantai.


"Dokter cepat periksa dia!" teriak Selia dengan panik.


Dokter itu menyuruh Layner untuk membawa tubuh Leo ke ruangan yang lain, Selia mengikuti langkah mereka dari belakang. Sedangkan Zelder berpikir akan mengurus pemindahan ruangan Axel dan juga ruangan untuk Leo.


Setelah Leo diperiksa, dokter memberitahukan bahwa Leo mengalami pusing karena penyakit anemia yang di deritanya telah kembali kambuh.

__ADS_1


Selia sedikit terkejut karena Leo memiliki penyakit itu, ia sempat berpikir, apa Marvin dan Alesa tau bahwa anak mereka memiliki penyakit?.


Namun Selia tidak ingin memikirkan itu terlebih dahulu, ia duduk di samping tempat tidur Leo, "Layner, bibi akan membelikan beberapa perlengkapan untuk Leo dan akan membeli beberapa makanan agar ketika Leo sadar, dia bisa makan tanpa harus menunggu. apa kamu bisa menjaga Leo sebentar?." ucap Selia yang berdiri dari kursinya dan melangkah kearah Layner.


Layner duduk di sofa yang letaknya sedikit jauh dari tempat tidur Leo.


"Tidak bibi, Biar aku saja yang akan pergi" saran Layner sambil berdiri dari sofa.


"Ah begitu ... baiklah, ambil ini untuk membelikan satu set pakaian Leo dan beberapa makanan untuk kalian" ucap Selia mengalah sambil memberikan sebuah kartu pada Layner.


"Aku yakin bibi sudah menyadarinya, aku melihat bibi tengah menatap diriku dengan penuh selidik, yang artinya bibi mengetahui bahwa aku juga berasal dari kalangan atas." ucap Layner tersenyum.


Selia sontak kaget, ternyata saat itu Layner juga menatapnya "haha ... maafkan bibi, terimakasih karena kamu menggunakan uangmu untuk membelikan keperluan Leo," ucap Selia di sela tawanya.


"Tidak perlu sungkan bibi." ucap Layner yang langsung pergi dari ruangan itu.


Semua kalangan atas belajar tentang kepekaan, mereka di ajarkan untuk peka terhadap sekelilingnya. Hal itu sebagai bentuk pertahanan diri mereka dan hanya orang bersungguh-sungguh yang bisa menguasai teknik tersebut.


"Dia sudah menguasainya." batin Selia


Selia kembali ke kursi yang ada di samping tempat tidur Leo.


Selia duduk sambil menatap wajah Leo yang tengah tertidur, ia bisa melihat bahwa Leo terlihat sangat kelelahan, Selia bahkan memberanikan diri memegang tangan Leo yang sedang tergeletak di atas tempat tidur.


"Aku bersyukur mereka berdua selamat, masing-masing kami hanya memiliki satu anak, untuk melindungi anak tunggal sungguh sangat sulit." batin Selia sambil memegang tangan Leo.


Kehidupan kalangan atas bukan lah seperti kalangan menengah kebawah, jika anak kalangan menengah berusia 5 tahun, mereka pasti akan bermain selayaknya anak-anak. Berbeda dengan anak kalangan atas, mereka harus belajar bertahan hidup dari saudara-saudaranya dan memiliki jadwal belajar yang sangat padat.


Selia menundukkan kepalanya, ia kembali teringat dengan penyakit yang di derita oleh Leo.


"Apa kehidupan kalangan bawah juga sangat sulit sehingga kamu memiliki penyakit ini?, apa saja yang sudah kamu lalui sampai saat ini?, kenapa kamu tidak memberitahukan pada orang tua mu bahwa kamu memasuki kampus Standziler, dimana orang-orang itu telah berbuat banyak kesalahan pada keluargamu, bahkan keluarga papa mu juga sama seperti keluarga Ziler" batin Selia sambil menitikkan air mata.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2