
Setelah sampai di kampus, seseorang dari kejauhan tengah menatap Leo "sial!, kenapa dia terlihat baik-baik saja?, bukankah aku sudah membayar mereka dengan sangat mahal?." gumam orang itu sambil memukul dinding dengan sangat kuat.
"Aku akan membuatmu membayar atas semua perbuatanmu padaku!" ucap orang itu sambil menggerakkan giginya.
Leo berjalan menyusuri lorong kampus sambil menoleh ke kanan dan kekiri, ia mencari Axel untuk menanyakan hal yang sangat membuatnya penasaran.
Setelah melewati lorong, akhirnya Leo menemukan Axel berada tengah-tangah taman kampus.
Leo yang melihat itu bergegas mendekati Axel "halo pak, boleh saya duduk disini?," tanya Leo dengan sopan dan masih berdiri didepan Axel.
Axel yang sedang membaca buku langsung menoleh kearah Leo "silahkan Leo, apa ada sesuatu di cafe?" tanya Axel penasaran.
"Tidak pak, saya hanya penasaran dengan sesuatu ... boleh saya tau kenapa bapak menanyakan nama tengah dan nama belakang saya?, terlebih lagi bapak menanyakannya didepan seluruh murid, itu sedikit menggangu pikiran saya" ucap Leo jujur dengan tatapan serius
Leo orang yang tidak suka berbasa basi, baginya orang yang berbasa basi hanya membuang waktu yang sangat berharga.
Axel tersentak kaget "gawat, aku tidak boleh membiarkan dia mengetahui jika aku sangat penasaran dengan kedua kata itu" batin Axel
"Em ... saya ingin tau saja, nama kamu terlihat sangat keren, saya sangat menyukainya" elak Axel sambil tersenyum canggung.
Ia merasa sedikit berbeda jika berhadapan dengan Leo, ketika bersama Leo seolah kepribadian aslinya muncul secara tiba-tiba.
"Kenapa aku merasa kami memiliki ikatan darah?, bahkan aku tidak ragu mengeluarkan sifat asliku" batin Axel sambil menelusuri wajah dan rambut Axel.
Axel adalah orang yang banyak berbicara, bahkan ia tidak ragu-ragu mengeluarkan ekspresinya, tapi sifat itu keluar secara alami jika Axel merasa nyaman dengan orang tersebut, dan biasanya itu selalu terjadi jika dihadapkan dengan keluarganya.
Axel membedakan kehidupan pribadi dan kehidupannya di luar sana, bahkan ia dengan sengaja membentang banteng yang sangat tinggi agar orang lain tidak mudah menembus kehidupan pribadinya.
"Pak?, apa ada sesuatu di wajah saya?," tanya Leo dengan binggung.
__ADS_1
Axel tersentak kaget, ia terlihat binggung ketika Leo bertanya "ti-tidak, tapi aku sangat menyukai warna rambutmu, apa ketiga warna rambutmu itu asli?" tanya Axel dengan penasaran.
Leo melirik keatas, ia melihat rambutnya berwarna silver "tidak pak, hanya satu warna saja yang tidak asli." ucap Leo sambil memegang rambutnya yang berwarna hitam yang berada di belakang.
"A-aapa?!" Axel terkejut mendengar perkataan Leo. Dalam sekejap Axel mengetahui warna apa yang tidak asli.
"Kenapa bapak terkejut?, apakah rambutku terlihat aneh?." tanya Leo sambil melirik dan menarik rambutnya yang berwarna hitam walau ia tidak bisa melihat rambut yang sedang dipegangnya.
Axel yang sudah menyusun segalanya langsung berdiri "tidak, saya hanya teringat bahwa saya memiliki urusan yang lain, jadi saya harus pergi sekarang." ucap Axel sambil membereskan buku-bukunya dan bergegas pergi dari sana.
Leo terkejut melihat ekspresi Axel, ia tidak menyangka bahwa orang yang mendapat julukan killer justru terlihat sangat lucu "ada apa dengan pak Axel?, dia tidak terlihat seperti dosen killer, justru terlihat seperti orang serampangan," gumam Leo tertawa kecil.
Sedetik kemudian, Leo menyadari jika dirinya sedikit berbeda dari biasanya "aku merasa nyaman ketika berbicara dengannya, seolah dia seperti orang terdekatku ... tapi itu tidak mungkin, karena aku anak satu-satunya di dalam keluarga, bahkan kami tidak mempunyai keluarga yang lain" gumam Leo beranjak dan pergi dari taman.
...****************...
Awalnya Axel ke kampus hanya ingin mengambil dokumen, lalu ketika melihat taman yang sangat sepi membuat dirinya duduk di taman itu untuk menenangkan pikirannya. Tidak disangka, saat sedang menikmati sepinya taman, tidak berapa lama Leo menghampiri Axel dan terjadilah obrolan ringan yang membuat mereka terus berpikir.
Axel mengemudi dengan kecepatan tinggi, ia sudah lama mencari orang itu, tapi usahanya sia-sia, tapi ketika melihat Leo, Axel menduga bahwa orang yang di carinya masih hidup.
"Aku harus berbicara pada papa" gumam Axel dengan menambah kecepatan mobilnya.
Sesampai di mansion pribadi milik keluarganya, Axel langsung berlari kedalam "papa!, papa!" teriak Axel dengan sangat keras.
Tiba-tiba seorang pria paruh baya berada di belakang tubuh Axel dan memukul kepalanya.
Tukk
Arghhh
__ADS_1
"Mansion ini bukan hutan!, m untuk apa kamu berteriak?" tanya pria paruh baya itu yang tidak lain adalah Zelder selaku papa Axel.
"Pa, sepertinya aku memiliki informasi tentang mereka" ucap Axel dengan antusias.
"Apa kamu yakin?, ini sudah kesekian kalinya kamu mengatakan itu pada papa, dan ternyata kita justru sah mengenali orang" ucap Zelder dengan menghembuskan nafas kasar.
Axel sangat tidak tega melihat raut kekecewaan Zelder "Aku yakin ... " perkataan Axel terjeda ketika seseorang tiba di tengah-tengah mereka.
"Ada apa kalian berbisik seperti itu?, kalian tidak melibatkan aku?" tanya wanita paruh baya yang baru saja tiba.
Axel menoleh dan menghampiri wanita itu "mama, ini kabar yang sangat bagus, aku sudah menemukan mereka" ucap Axel sekali lagi sambil memegang kedua pundak Selia.
Mata Selia seakan berbinar "kamu yakin Axel?." tanya Selia dengan penuh harap sambil memegang satu tangan Axel yang berada di pundaknya.
Axel mengangguk, ia melepaskan tangannya dari pundak Selia "aku yakin ma, kalian lihatlah orang ini" ucap Axel sambil mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Leo.
"I-ini, sangat mirip dengan mereka, tapi apa kamu sudah memastikannya Axel?, lihat saja rambutnya itu terlihat sangat berbeda, dan mama juga takut itu cuma harapan kita saja" ucap Selia sambil menoleh kearah Axel.
"Kali ini aku yakin ma, dia memiliki nama seperti orang itu yaitu Varrow Z. Lalu ketika Axel menanyakan tentang rambutnya, ternyata warna hitam itu adalah warna palsu, aku bisa memastikannya karena dia berada di kampus kita dan sangat kebetulan dia juga salah satu pegawai cafe yang baru saja Axel beli"
Zelder dan Selia yang mendengar itu merasa sangat senang, selama ini mereka mencari tapi tidak membuahkan hasil.
Tapi mendengar perkataan terakhir yang diucapkan Axel membuat Zelder dan Selia terkejut "pegawai?, A-apa maksudmu Axel?" tanya Selia dengan melorotkan matanya.
"Benar, ma." ucap Axel menunduk sedih, ia tau jika orang tuanya mengetahui kehidupan mereka maka mereka pasti akan merasa sangat sedih dan kecewa.
"Aku tidak menyangka, mereka yang memiliki kekuasaan penuh kini justru harus terguling sampai ketitik dimana mereka tidak bisa bangkit kembali" gumam Selia sambil menghapus air mata yang baru saja mengalir.
"Mama tenang saja, selama dia berada didekat ku, maka aku akan selalu melindunginya dan aku juga harus mencari tau keberadaan orang tuanya" ucap Axel dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Bersambung ...