
Pagi harinya mereka berkumpul agar bisa sarapan bersama, Leo yang sudah sangat penasaran, berusaha membuka percakapan itu.
"Ma, Leo sedikit binggung dengan salah satu dosen di kampus Leo, tidak biasanya dosen yang dijuluki killer itu menyuruh kami memperkenalkan diri satu persatu, lalu saat giliran Leo memperkenalkan diri, dia justru bertanya, dari mana Leo mendapatkan nama Varrow Z dibelakang nama Leo, apa menurut mama itu tidak aneh?," tanya Leo sambil menyantap makanannya.
Alesa dan Marvin yang mendengar itu langsung menghentikan tangan mereka lalu menatap Leo secara bersamaan.
"Kenapa kalian terlihat tegang seperti itu?" tanya Leo heran
"Tidak nak, jika seseorang bertanya seperti itu, kau bisa mengatakan bahwa itu nama yang sangat disukai papa dan mama, kamu tau Leo?, saat kamu lahir, mama bersikeras menyuruh papa menaruh nama itu didalam namamu. Padahal papa sudah menyiapkan nama yang lebih bagus untuk kamu, bukankah papa benar-benar tidak beruntung?," ucap Marvin sambil menggeleng kan kepalanya.
"Maksud kamu tidak beruntung memiliki istri sepertiku?," tanya Alesa dengan mata yang sudah melotot dengan sempurna.
"E-eh bukan seperti itu sayang, aku sangat tidak beruntung kita tidak membuat anak lagi, Leo selalu saja pulang malam, dia tidak memiliki waktu untuk kita, itu membuatku sangat kesepian" ucap Marvin dengan memelas.
Marvin dan Alesa pun tertawa, Leo yang lebih muda tidak ingin terlibat dengan kedua orang tuanya, mereka berdua selalu membahas hal yang tidak penting dan itu lah yang membuat Leo ingin pergi bekerja secepat mungkin.
"Sudah-sudah pa, lebih baik Leo berangkat sekarang," ucap Leo sambil meninggalkan pasangan itu.
Setelah kepergian Leo, gelak tawa dari Alesa dan Marvin seketika sirna.
Mereka tampak lebih serius "Alesa, aku bertaruh mereka akan mengenali Leo" gumam Marvin sambil menatap Alesa dengan serius.
"Bagaimana ini?, kita seharusnya tidak boleh ketahuan" gumam Alesa dengan panik
__ADS_1
"Tapi mereka tidak akan semudah itu mengenali Leo, karena kita sudah menginstruksikan Leo untuk mewarnai rambutnya, tapi mengenai nama Leo aku sedikit tidak yakin tentang itu." ucap Marvin sambil mengepalkan kedua tangannya.
Leo berpamitan untuk berangkat lebih cepat dari bisanya, ia akan mampir ke cafe terlebih dahulu lalu setelah itu pergi ke kampus.
Virly bertemu dengan Leo saat baru saja siap membersihkan cafe "Leo?, kenapa pagi-pagi berada disini?" tanya Virly dengan tersenyum manis.
"Apa pak Axel datang ke cafe?," tanya Leo pada Virly yang kebetulan sedang berada didepan cafe.
"Aku belum melihatnya," jawab Virly sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, sekarang aku harus ke kampus, selama aku pergi aku titip cafe padamu, jika ada sesuatu langsung saja hubungi aku." ucap Leo sambil mengayuh sepedanya menjauh dari cafe.
Virly tampak senang, Leo orang yang sangat irit bicara, sejak Leo masuk untuk bekerja di cafe, Virly tidak pernah sekalipun melihat Leo berbicara panjang dengan sesama pegawai lain, tapi perilaku itu sangat berbeda jika bertemu para pelanggan.
Didalam perjalanan, beberapa brandalan telah menghentikan sepeda Leo "hei, turun kau!" teriak salah satu berandalan.
"aku tidak memiliki urusan dengan kalian." ucap Leo lalu segera mengayuh sepedanya.
Tapi saat itu sepeda Leo langsung di hentikan oleh para preman itu "kau memang tidak memiliki urusan dengan kami, tapi kau memiliki urusan dengan atasan kami" ucap berandalan itu dengan sorot mata yang tajam.
Berandalan itu dengan cepat ingin memukul Leo, tapi sayang, Leo justru bisa menghindari pukulan itu.
Kemampuan bela diri Leo diatas rata-rata, Baginya semua kemampuan yang dia miliki semata-mata agar bisa membawanya mencapai puncak dan sebagian itu adalah sebuah pesan yang ditinggalkan oleh orang itu agar tidak boleh bersikap sombong.
__ADS_1
Leo sangat menghormati orang itu, bagi Leo, orang itu adalah sang penyelamat yang dikirim semesta untuknya.
Krakkk
Arghhhh
Brukkk
Bisa di pastikan tangan berandalan itu patah, karena Leo memutar tangannya lalu membanting preman itu.
Arghhh
Brukk
Arghhh
Brukkk
Ketiga preman itu jatuh dengan masing-masing bagian tubuh yang patah.
"Aku ingin pergi dengan tenang, tapi kenapa selalu ada masalah yang menghampiriku?" gumam Leo lalu mengambil sepedanya dan pergi dari tempat itu.
Bersambung ...
__ADS_1