
Setelah menghubungi Zelder, Axel masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang "aku bersyukur telah bertemu denganmu di kampus, ternyata kamu tidak jauh dari radar kami," gumam Axel tersenyum.
Sampai di mansion, Axel melihat orang tuanya sudah menunggu dirinya "mama, papa, masuklah"
Zelder dan Selia masuk kedalam mobil Axel, di dalam mobil suasana terasa sangat hening. Tidak ad dari merek yang memulai percakapan.
Mereka telah tenggelam dalam pikiran masing-masing, Axel yang biasanya menjadi penengah, kini harus mencoba untuk mencairkan suasana "aku sudah mencari tau keberadaan mereka, ternyata mereka berada di pinggiran kota Florence"
Selia terkejut dengan perkataan Axel, ia pun mulai menatap Axel "kamu serius?."
"Iya ma, aku saja tidak menyangka mereka hidup di pinggiran kota," jawab Axel sedikit menghela nafas.
"Pantas saja kita tidak pernah menemukan mereka, ternyata mereka hidup dalam keadaan susah seperti itu" ucap Zelder yang juga sama terkejut nya dengan Selia.
Axel sangat tau bahwa keluarganya sangat mengkhawatirkan keluarga itu, karena mereka masihlah memiliki hubungan dengan darah dengan keluarga Axel.
Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju.
Zelder, Selia dan Axel turun dari mobil, mereka mengamati di sekeliling, namun hanya mendapati sebuah rumah yang berdiri kokoh dengan di kelilingi bunga dan pepohonan.
Riman itu tampak sangat kecil karena di kelilingi oleh pohon yang menjulang tinggi, hanya melihat saja dapat memanjakan mata dan mendamaikan hati.
Angin yang berhembus menyeret aroma bunga yang bermekaran di pekarangan rumah itu. Rumah yang terlihat sangat bersih dan terawat.
Selia yang sudah tidak bisa bersabar, langsung melangkahkan kakinya ke pekarangan rumah itu. Dengan wajah antusias Selia mengetuk pintu rumah itu secara berulang kali.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Zelder dan Axel yang melihat Selia sangat antusias hanya bisa tersenyum geli. Perubahan Selia tampak begitu jelas. Semenjak keluarga itu menghilang beberapa tahun yang lalu, Selia berubah menjadi pemurung, ia bahkan sering mengunci dirinya didalam kamar.
Seiring berjalannya waktu, Axel tumbuh menjadi pria dewasa, ia berjanji pada Selia untuk mencari keberadaan keluarga itu, sejak saat itu perlahan-lahan Selia mulai tersenyum.
Melihat tidak ada yang menjawab, Selia mencoba untuk mengetuk yang keempat kalinya, namun saat itu juga terdengar suara dari dalam rumah "siapa?"
Ketika pintu terbuka dengan lebar, Selia terpaku dengan mengeluarkan cairan bening yang sudah tak terbendung lagi.
Selia mengembangkan senyumnya ketika sang pemilik rumah muncul di hadapannya "Alesa!" panggil Selia dengan menghamburkan pelukannya yang sedang berdiri seperti patung.
Alesa sendiri begitu terkejut, orang yang tidak pernah terpikirkan olehnya kini muncul di hadapannya.
"Aku sangat merindukan kalian," ucap Selia sambil memeluk Alesa dengan sangat erat.
Alesa yang masih dalam keterkejutan tidak membalas pelukan Selia "ka-kakak ipar."
Pandangan Alesa kini tertuju pada dua pria yang sedang menatap dirinya dan juga Selia. Walau mereka berdiri sedikit jauh namun Alesa bisa mengenali satu dari kedua pria itu.
Selia yang tidak mendapatkan respon dari Alesa langsung melepaskan pelukannya, ia melihat Alesa menatap lurus kedepan.
Melihat itu, Selia memutar tubuhnya dan mengikuti arah pandangan Alesa. Selia mengerti arti tatapannya, ia pun memperkenalkan lagi anaknya itu "dia Axel, kau pernah menggendongnya saat dia masih kecil"
Alesa tampak terkejut, ia bahkan tidak lagi mengingat bentuk wajah Axel. Wajar saja hal itu terjadi karena Alesa sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan mereka.
"Dia sangat tampan kak," Alesa mengatakannya sambil tersenyum.
"Benarkah?, tapi menurutku dia tidak tampan," bantah Selia sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Zelder dan Axel melangkah mendekati kedua wanita itu. Lalu tiba-tiba saja Alesa mengajukan pertanyaan yang mampu membuat Selia terdiam.
"Bagaimana bisa kakak menemukan kami?, jika sampai keluarga itu tau bahwa kami masih hidup, maka orang-orang disekitar kami tidak akan mungkin bisa selamat, kak," ucap Alesa dengan khawatir.
Alesa sangat menghormati Selia, karena Selia adalah kakak kandung dari Marvin dan yang mengejar mereka adalah bagian dari keluarga Alesa.
Maka dari itu Alesa tidak ingin menyeret orang-orang di sekitaran hanya karena keluarganya mengincar dirinya.
Demi melindungi orang terdekat mereka, Marvin dan Alesa memutuskan untuk menghilang dari kalangan atas dan memilih untuk hidup di pinggiran kota.
"Kami mengerti Alesa, kamu tidak perlu menghawatirkan itu, karena mulai sekarang kami yang akan melindungi keluarga mu." ucap Zelder menenangkan istri dari adik iparnya itu.
Alesa melihat kearah Zelder dan Selia secara berulang kali "kakak, sekarang hidup kami sangat damai, jadi kakak tidak perlu melindungi kami," tolak Alesa secara halus sambil tersenyum.
Faktanya, kehidupan Alesa dan Marvin semakin membaik, tidak ada gangguan apapun selain masalah yang ada di pekerjaan.
Mendengar penolakan dari Alesa, bukannya marah, Selia justru semakin yakin untuk melindungi keluarga adiknya itu.
"Betapa beruntungnya kamu Marvin, jika saja saat itu kamu tidak keluar, maka entah pernikahan seperti apa yang akan kamu jalani." batin Selia
Axel yang sedari tadi diam dan tidak ingin memotong pembicaraan kini mulai mengeluarkan suaranya.
"Bibi, tolong dengarkan perkataan mama dan papa, karena kehidupan kalian yang damai ini sebentar lagi akan segera terusik," ucap Axel dengan serius.
Alesa yang mendengar itu langsung menoleh kearah Axel "apa maksud kamu, Axel?." tanya Alesa dengan jantung yang sudah berdegup dengan kencang.
Axel bukannya menjawab, ia justru mengajukan sebuah pertanyaan pada Alesa "bibi, apa bibi tau Leo masuk kedalam universitas mana?,"
Alesa menggeleng pelan "tidak, ... apa?!, kamu mengenal Leo?" tanya Alesa spontan, karena saat mereka menghilang Alesa belum mengandung dan tidak ada satupun orang yang mengetahui keberadaan Leo.
__ADS_1
"Jawabannya adalah karena Leo berada di kelas ku, aku baru saja masuk kedalam kelasnya, lalu ketika aku melihat seluruh mahasiswa, mataku tertuju pada Leo. Aku merasa dia sangat mirip dengan bibi karena rambut itu memiliki warna yang langka, walau dia sudah menambahkan warna hitam tapi aku masih tetap bisa mengenali warna rambut itu. Aku juga mendengar bahwa dia baru saja kembali setelah masa cutinya berakhir, jadi wajar saja aku baru bertemu dengannya sekarang."
Bersambung ...