Revenge of The Hidden Heir

Revenge of The Hidden Heir
Dinding Pembatas


__ADS_3

Leo menunduk kebawah dan melihat sepeda kesayangannya sudah hancur "sepertinya aku tidak pernah mempunyai masalah dengan mu, tapi kenapa kamu melakukan hal ini padaku?." tanya Leo yang mulai mengangkat wajah dan menatap orang yang ada di hadapannya dengan dingin.


Arlan melihat tatapan Leo, awalnya ia sedikit takut dengan tatapan itu, namun ia menepis pikirannya dan mulai menatap Leo dengan remeh. Ia dan ketiga temannya terus menendang sepeda Leo sambil berkata "ck, aku hanya tidak suka melihat mu berada di kampus ini"


Setelah mendengar itu, Leo sempat berpikir bahwa dirinya tidak pernah memiliki kesalahpahaman apapun dengan Arlan, tapi kenapa pria itu terus mengganggunya?.


Leo mengernyitkan dahinya, ia tidak mengatakan apapun dan hanya menatap Arlan dalam diam.


Arlan semakin merasa kesal melihat Leo menatapnya dengan dingin "sekarang aku sudah memerintahkan mu untuk keluar dari kampus ini, tapi jika kamu tidak mendengarkan ucapan ku, maka inilah harga yang harus kamu bayar." ucap Arlan sambil menendang sepeda Leo dengan keras.


Para mahasiswa yang lain pun hanya melihat Leo di perlakukan semena-mena oleh Arlan, mereka tidak memiliki keberanian untuk menolongnya karena Arlan adalah anak dari salah satu pemegang saham di Universitas Standziler.


Para mahasiswa itu sebagian merasa kasihan melihat Leo, dan sebagian lagi mencemooh Leo.


Arlan tersenyum tipis karena sangat puas telah mempermalukan Leo di hadapan para mahasiswa, lalu ia dan teman-temannya pun pergi begitu saja tanpa melihat wajah Leo sedang menahan amarah.


Leo menunduk dan menatap sendu sepedanya, ia sangat menyayangi sepeda itu karena benda itu adalah pemberian dari sang ibu.


Ibu yang sudah susah payah bekerja keras untuk memberikannya hadiah sebuah sepeda, lalu kini hadiah itu hancur dan sangat mustahil untuk di perbaiki.


Leo pun hanya bisa menahan marahnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena jika dirinya membalas perbuatan Arlan di hadapan mahasiswa lain maka yang akan terkena hukuman bukan Arlan atau pun teman-teman nya melainkan Leo sendiri.


Lagipula, jika hal itu terjadi, maka para mahasiswa itupun akan membela Arlan, bukan Leo. Maka dari itu sebelum mengeluarkan amarahnya Leo harus berpikir dengan sangat matang.


Leo juga sudah menghapal seluruh posisi petinggi kampus, ia pun juga mengetahui latar belakang Arlan dan teman-temannya. "aku harus menahan diri, tidak boleh melepaskan semua amarah itu di sini" batin Leo


Leo pun menggambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan, setelah merasa telah sedikit tenang, Leo melangkah pelan dan mengambil sepeda yang sudah hancur itu.

__ADS_1


"Sekarang sudah waktunya berada di cafe." gumam Leo sambil melihat arloji yang sedang melekat di tangannya.


Tanpa pikir panjang, Leo melangkah dengan pelan, ia berjalan kaki untuk keluar dari kampus. Kampus itu benar-benar sangat luas, karena gerbang masuk sangatlah jauh dari gedung kampus.


Jadi, jika ingin keluar dari gedung kampus menuju gerbang depan, maka semua mahasiswa harus mengendarai mobil ataupun skuter dan lain sebagainya.


Sedangkan Leo menempuh gerbang depan dengan mengunakan kakinya, setelah cukup lama berjalan, akhirnya Leo bisa menemukan sebuah taxi.


Leo mengehentikan taxi itu dan memberikan arahan menuju cafe, biasanya Leo menggunakan sepeda, tapi karena keadaan yang sangat mendesak, membuat Leo terpaksa harus menaiki taxi, dan bisa di katakan ini adalah pengalaman pertama Leo menggunakan taxi.


Setelah menempuh perjalanan, akhirnya Leo telah sampai di cafe, Leo turun dan membayar taxi itu dengan sisa uang jajan yang dimilikinya.


Rasanya, Leo sangat berat mengeluarkan uang yang sedikit itu, namun apa boleh buat, semua sudah terjadi. Leo pun menaruh sepedanya di parkiran, lalu ia segera masuk kedalam cafe.


Virly menoleh kearah pintu, walau Leo berwajah datar, tapi Virly yang berada di meja kasir mampu melihat bahwa Leo sedang tidak bersemangat.


Virly pun menatap Leo yang sedang berjalan sambil menatap lurus kedepan. Setelah Leo mengganti pakaiannya, Virly pun menghampiri Leo "apa ada sesuatu yang terjadi di kampus?," tanya Virly yang sedikit penasaran sambil melihat kearah Leo.


"Tidak ada." jawab Leo dengan datar dan dengan tangan bergerak memegang bahan yang ada di depannya.


Virly yang sangat penasaran mengerutkan dahinya "apa kamu yakin?," tanya Virly menyelidik.


"Ya!" jawab Leo singkat.


Virly yang mendapat jawaban singkat itu hanya bisa menghela nafas, padahal dirinya sudah bekerja selama setahun, dan selama itu juga ia menyukai Leo.


Tapi, Virly masih tidak mengerti jalan pikiran Leo, ia ingin mendekati pria itu, tapi ketika mendekatinya Virly seolah merasakan ada sebuah dinding pembatas yang membentang di antara mereka.

__ADS_1


"Apa aku harus menyerah?" batin Virly menatap Leo dengan tatapan sendu.


Virly pun meninggalkan Leo yang sedang sibuk mengecek barang-barang, sedangkan Leo menghela nafas kasar "tidak ada gunanya kamu mendekatiku, aku tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, karena kedepannya pasti akan merepotkan, prioritas ku saat ini adalah harus berjuang keras demi keluarga." batin Leo sambil melanjutkan pekerjaannya.


Selama ini, Leo mengetahui perasaan Virly padanya dan ia sengaja membangun dinding pembatas pada gadis itu agar dirinya juga bisa lebih fokus pada impian yang selama ini telah di dambakannya.


Kedua pegawai yang lain justru terlihat kesal melihat Leo begitu dekat dengan Virly, pasalnya Virly terus mengabaikan kedua orang itu dan lebih memilih berbicara dengan Leo.


"Apa kamu melihat wajah menyebalkan itu?."


"Ya, aku benar-benar sudah muak melihat wajahnya itu, apa yang di lihat Virly dari Leo?, dia hanya memiliki ketampanan tapi tidak ada yang lainnya."


"Sepertinya kita harus memberinya pelajaran, aku sudah menahan selama 2 tahun, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melampiaskan semua kekesalan ini."


"Aku akan membantu mu."


Kedua orang itu tampak berbisik, setelah mereka selesai merencanakan siasat itu, mereka pun membubarkan diri dan kembali melayani para pelanggan.


Pengunjung cafe semakin sangat ramai, Leo dan yang lainnya di sibukkan dengan pesanan pelanggan, sampai di saat Leo ingin melewati salah satu pegawai, Leo terjatuh hingga membuat pesanan pelanggan yang ada di tangannya jatuh berhamburan.


Para pelanggan yang terkejut mendengar suara itu pun langsung menoleh ke arah sumber suara, mereka melihat Leo tampak jatuh telungkup.


Leo pun bangkit dan melihat ke arah pegawai dengan datar, pegawai itu pun terlihat sedikit panik "maaf pak Leo, saya benar-benar tidak sengaja," ucap pegawai sambil meminta maaf pada Leo.


Leo tampak terdiam sesaat, lalu melihat pakaiannya tampak sangat kotor "tidak apa-apa, kembali lah bekerja." ucap Leo sambil membersihkan makanan yang berserakan di lantai.


Senyuman tipis terbit di bibir pegawai itu, ternyata ia sengaja melakukannya agar bisa mempermalukan Leo di depan banyaknya orang.

__ADS_1


Pegawai itu pun membungkuk dan kembali ke pekerjaannya "bukankah sangat menyenangkan melihatnya menjadi tontonan para pengunjung?, pria sepertinya memang harus di beli pelajaran agar dia mengerti bahwa tidak semua hal bisa dia dapatkan dengan mudah." ucap pegawai yang lainnya sambil tersenyum licik.


Bersambung ...


__ADS_2