
Dokter pun mengangguk "Bisa kita bicara sebentar?," tanya dokter pada Leo.
Leo mengangguk sebagai jawaban, lalu ia menoleh kearah Layner "Bisakah kamu tunggu di sini sebentar?, aku akan berbicara pada dokter" ucap Leo dengan menatap menatap Layner.
Layner yang sempat termenung langsung tersentak kaget. "Baiklah, aku akan menunggumu disini," ucap Layner sambil tersenyum.
Dokter itu mulai berjalan kearah ruangannya dan Leo pun langsung mengikuti dari belakang. Sesampai di ruangan dokter, mereka kini membicarakan tentang kondisi Leo.
Dokter menatap Leo, "Kondisi nya cukup kritis, dia terlalu banyak kehilangan darah, dan dia sangat beruntung karena sampai di rumah begitu cepat, jika sedikit saja terlambat maka sudah di pastikan dia tidak akan bisa tertolong lagi," ucap dokter dengan wajah serius.
Leo yang mendengar itu menahan nafasnya, ternyata benturan itu begitu cukup parah. Tapi di balik itu, Leo bisa bernafas lega karena Axel tidak sampai meninggal karena dirinya.
Dokter itu terus melihat wajah Leo, ia bisa melihat ada kecemasan dan rasa lega di wajah itu "dan satu lagi .... kami kekurangan stok golongan darah yang sama dengannya, sungguh dia sangat beruntung karena stok darah iri masih bersisa, tapi dengan kondisinya yang seperti itu, maka kami harus menyediakan stok darah nya terlebih dahulu, spa kamu memiliki golongan darah yang sama dengannya?," tanya dokter itu
Leo sungguh tidak tau mengenai golongan darah Axel "Dia memiliki golongan darah apa?" tanya Leo dengan polos.
Dokter itu pun mengerutkan dahinya, dari tatapannya tersirat bahwa dokter itu tidak percaya pada Leo, bagaimana tidak?, yang sangat janggal adalah bagaimana dia tidak mengetahui golongan darah kakaknya?. Namun dokter itu menepis pikirannya itu.
"Dia memiliki golongan darah AB-" jawab dokter.
Leo begitu terkejut, kebetulan macam apa ini?, mengapa golongan darahnya sama dengan milik Axel?.
Sejak mengetahui golongan darahnya, Leo mencari tau tentang Golongan darah AB-, ia membaca bahwa golongan darah AB bisa di bilang golongan darah yang paling langka. Ini karena jenis golongan darah ini hanya dimiliki oleh 0,36 persen orang di seluruh dunia.
Namun, jika dikatakan pun, maka tidak mungkin bertemu dengan secara kebetulan seperti ini.
"Sama?, bagaimana bisa?" batin Leo
Leo menggelengkan kepalanya dan membuang pertanyaan itu dari pikirannya, yang terpenting baginya adalah ia harus menolong Axel.
__ADS_1
"Aku memiliki golongan darah yang sama, dokter bisa mengambilnya sebanyak apapun." ucap Leo dengan tegas.
Seketika itu juga, kerutan di dahi sang dokter kini langsung menghilang, kecurigaan di hatinya seolah menghilang begitu saja.
Dokter mengangguk dan mulai berdiri "Baiklah, kami akan memeriksa mu sekarang" ucap dokter sambil mempersilahkan Leo untuk keluar terlebih dahulu.
Leo mengangguk lalu ia pun ikut berdiri, dan langsung keluar dari ruangan sang dokter.
Walau Leo mencoba untuk tidak memikirkan nya, tapi hal itu terus mengganggu hatinya.
Ia bahkan keluar dengan keadaan termenung. Sang dokter menginterupsi Leo untuk masuk ke sebuah ruangan. Leo mengangguk dan masuk ke salah satu ruangan, ia pun langsung memeriksa Leo, dan ternyata Leo lulus dengan syarat yng sudah tertera.
Setelah melakukan berbagai tes. Dokter mengambil sampel darah, dan ternyata mendapat kecocokan. Dan dokter pun mulai mengambil darah Leo
"Aku membaca reset, jika di kota Florence ini, hanya terdapat beberapa orang saja yang memiliki golongan darah AB-, juga aku membaca bahwa sang pemilik golongan darah itu hanya orang-orang dari kalangan atas. Tapi sudah sejak lama aku berpikir bahwa apa mungkin papa juga berasal dari kalangan tersebut?, sepertinya tidak mungkin, karena kehidupan kami jauh dari kata mewah. Jadi sudah di pastikan bahwa aku tidak mungkin berasal dari bagian mereka" batin Leo
Leo mengangkat tangannya ke atas dahinya "tapi tidak mungkin juga pemilik golongan darah itu bisa bertemu secara kebetulan seperti ini kan?" batin Leo yang kembali berpikir.
Leo adalah anak yang memiliki ke ingin tahuan yang besar, tapi jika itu hanya menurutnya penting saja, jika tidak penting, maka ia tidak akan mencari tau hal tersebut.
Setelah selesai mengambil darah, Leo keluar dari ruangan, ia langsung menuju kearah Layner yang sedang menunggunya di depan pintu ruangan Axel.
Layner menoleh kearah Leo, dari kejauhan ia bisa melihat bahwa Leo berjalan tidak seperti biasanya.
Layner bangkit dan langsung menghampiri Leo. "Ada apa denganmu?" tanya Layner sambil memegang tubuh Leo.
"Tidak apa-apa, hanya mendonor darah saja" ucap Leo yang sedikit merasakan pusing.
"Darah?, apa itu untuk pak Leo?" tanya Layner terkejut.
__ADS_1
"Bisa di katakan seperti itu, jadi bisakah kamu berhenti bertanya dan sebaiknya lwbih membantuku untuk duduk?" ucap Leo sambil menoleh kearah Layner.
Tinggi keduanya tidak jauh berbeda, jika Leo memiliki tinggi 180 cm maka Layner mempunyai tinggi 174 cm.
"Ah ... maafkan aku, mari, aku akan membantumu" ucap Layner sambil memapah tubuh Leo yang sudah seperti kapas.
Walau Leo terlihat tampak seperti orang yang sehat, namun Leo memiliki penyakit anemia, dan sangat kebetulan ketika dokter memeriksanya, ternyata leo berhasil melewati tes tersebut.
"Syukurlah aku bisa melewati tes itu, jika saja anemia ku kambuh di saat genting seperti ini, maka aku akan sangat merasa bersalah pada kak Axel" batin Leo
Sudah sejak lama Leo berusaha mengobati penyakitnya itu, alhasil penyakit itu sudah jarang kambuh dan untuk pertama kalinya Leo bersyukur karena sudah bisa menyumbangkan darahnya pada orang lain.
Saat Leo dan Layner sedang duduk, tiba-tiba saja sepasang suami istri ingin menerobos masuk kedalam ruangan ICU.
Leo yang melihat itu langsung berdiri dan diikuti oleh Layner "tunggu!, pak Axel sedang dirawat, bisakah bibi dan paman tidak menerobos masuk?" ucap Leo berusaha menghentikan kedua orang itu.
Sekali lihat, Leo langsung mengetahui jika kedua orang itu adalah orang tua dari axel, karena wajah Axel seperti sebuah duplikat dari kedua orang tuanya.
Tapi ketika seorang wanita yang di ketahui ibu dari Axel menoleh kearah Leo "wajahnya" batin Leo terkejut.
Selia sungguh begitu panik sehingga ia tidak menyadari akan sesuatu. "Bisakah kalian ceritakan apa yang terjadi?, kalau siapa diantara kalian yang menghubungi kami?." tanya Selia dengan wajah panik dan suara bergetar.
Leo yang melihat itu langsung menunduk "Ma-maafkan aku, se-semua ini karena aku" gumam Leo dengan gugup sambil membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk permintaan maaf.
Bagaimana tidak?, karena dirinyalah Axel menjadi seperti itu, dadanya bahkan sudah berdetak sangat kencang.
Selia dan Zelder pun saling menatap satu sama lain, sejak tadi keduanya tidak memperhatikan Leo dengan seksama. Tapi ketika Leo menatap keduanya, mereka langsung mengetahui bahwa orang yang ada di hadapan mereka adalah Leo, anak dari Marvin.
Selia sedikit terkejut karena anak adiknya begitu sangat tampan "Kami tidak akan pernah menyalahkan mu, tapi bisakah kamu menceritakan kejadiannya?." tanya Selia dengan lembut sambil memegang tangan Leo
__ADS_1
Layner yang berada diantara mereka merasa terkejut, ia mendengar bahwa kedua orang tua Axel menguasai bisnis di italia, mereka terkenal dengan kekejaman dan keangkuhannya, tapi sekarang, yang ada di depan matanya jauh berbeda dengan rumor yang beredar.
Bersambung ...